Ah, Sialan!

55 1 0
                                        

Kadang aku terbangun di tengah malam hanya karena ada nyamuk berterbangan di dekat telingaku. Mereka itu sungguh menggangu tidurku.

Aku harus menutup telingaku dengan bantal. Dan entah bagaimana, nyamuk-nyamuk itu masih bisa terdengar olehku.

Lagian, kenapa harus di telinga memangnya??

Tetapi kali ini, aku terbangun bukan karena suara nyamuk-nyamuk, melainkan istriku一.

Ahem.

Ya, istriku, Meredith.

"Kau ini sedang mimpi apa, sih? Susah sekali untuk dibangunkan!" Ucap Meredith. Sedikit kesal.

"Sudah jelas-jelas orang itu tidak sadar kalau sedang tidur. Kenapa kau membangunkanku di waktu seperti ini?"

"Air ketubanku pecah!"

"Oh, sialan一."

Aku langsung membawa Meredith ke rumah sakit terdekat, kenapa harus pecah di jam 2 pagi seperti ini?

"Lebih cepat!! Rasanya seperti rahimku akan keluar!" Meredith berteriak sambil menahan rasa sakit yang hebat.

Aku menginjak gas, Puji Tuhan, sekarang ini jam 2 pagi, jalanan masih sepi, jadi aku bisa berkebut-kebutan.

Disaat kita sampai di rumah sakit, dokter dan para suster langsung bergegas merawat Meredith. Mereka membawa Meredith ke ruangan bersalin. Tetapi, aku belum boleh masuk kedalam ruangan itu.

Disaat Meredith sudah siap bersalin. Aku akhirnya boleh masuk kedalam ruangan, tetapi aku harus menggunakan baju-operasi-atau semacamnya, dan, topi mandi.

Awalnya, aku takut berdiri dekat Meredith. Tetapi disaat aku melihat matanya, dia terlihat dalam kesakitan yang luar biasa, itu menyakitiku melihat dia seperti itu.

Aku harus berani, aku mengambil langkah kedepan. Meredith berkeringat, mukanya tampak merah, dan ia menangis.

Disaat aku disebelahnya, dia langsung memegang erat tanganku.

"A-aku t-tidak bisa m-melakukannya." Kata Meredith tak berdaya.

"Tidak! Kau pasti bisa! Aku sangat yakin kau bisa!"

Setelah beberapa dorongan, Meredith sudah sampai di batasnya. "HENTIKAN!! HENTIKAN SEMUA INI!!"

Dia menangis dengan rasa sakit yang mendalam. Tapi aku tahu, dia bisa melakukannya, aku tahu itu, kita akan memulai keluarga baru.

"Seorang bayi perempuan yang sehat!" Kata dokternya, langsunglah bayi itu menangis dengan kencang.

Para suster langsung memotong placenta yang tadinya terhubung Meredith dengan anaknya, lalu mereka membawa bayinya dan memandikannya.

Meredith terengah-engah, menangis, dia tak percaya dia benar-benar melakukannya, dan berhasil. Aku pun terkejut, aku tidak percaya apa yang baru saja kulihat, terasa sangat aneh.

"Kau berhasil, Mer. Kau berhasil." Aku memberi ciuman tipis pada bibirnya.

"Benarkah?"

Lalu dokternya datang sambil membawa bayinya. Meredith langsung menggendong bayinya, aku sungguh bangga kepada Meredith. Aku tak percaya aku sedang melihat anakku dengan kedua mataku.

XXX

Meredith masih dalam masa pemulihannya. Tetapi aku dan Meredith berniat untuk pergi ke ruangan bayi. Kita kesusahan mencari anak kami yang tidak bernama itu diantara bayi-bayi yang lain yang berada di ruangan tersebut.

Akhirnya anak kita ditemukan.

"Kita harus memberi dia nama.." Kata Meredith.

"Hm, bagaimana dengan Alana?" Aku memberi saran.

"Tidak.."

"Julia?"

"Olivia?"

"Sophia?"

Apakah aku seburuk itu dalam memberi nama? Meredith tetap saja mengatakan tidak.

"Bagaimana dengan Rebecca?" Muka Meredith berubah disaat aku menyebutkan nama Rebecca.

"Itu nama yang bagus, tetapi terlalu pasaran. Aku ingin merubah cara penulisan namanya menjadi Re-be-kah. Bagaimana menurutmu?" Kata Meredith.

"Rebekah Grace Fitzherbert.." Kataku pelan.

"Itu sungguh indah. Selamat datang di dunia ini, Rebekah." Meredith melambaikan tangannya kepada Rebekah yang tertidur.

"Dia terlihat seperti dirimu.." Aku berbisik kepada Meredith dan menatapnya langsung di matanya.

"Tidak mungkin, dia memiliki warna matamu. Mata biru yang indah itu.." Meredith menatap ke mataku.

XXX

Kami berdua terbangun karena suara tangisan Rebekah. Kita sering sekali bermalaman tanpa tidur sejak kita punya anak.

"Astaga Tuhan.." Kataku sambil menghela napas.

"Hari ini giliranmu. Malam ini adalah malam dengan tidur nyenyakku, terima kasih." Meredith melanjutkan tidurnya.

Kita memang saling bergantian dalam mengurus Rebekah. Kalau ia bangun ditengah malam hanya karena popoknya sudah penuh. Tetapi apa boleh buat untuk membangunkan Meredith jika Rebekah ingin minum susu ASI.

Aku menggendong Rebekah keluar dari tempat tidurnya, aku menyuruhnya diam, dan berusaha sebaiknya agar ia bisa tidur lagi.

Memang susah menjadi orangtua. Aneh sekali jika dipikirkan lagi aku ini seorang Ayah sekarang.

"Rebekah, nanti kau akan tumbuh menjadi seorang wanita cantik seperti Ibumu.." Aku berbisik ke telinga kecilnya.

Aku belum bilang kalau aku sekarang tinggal di rumahku lagi? Ya, Ibuku sekarang tinggal bersama Cordelia di Hartsburg. Bukannya aku menyuruhnya keluar dari rumah aslinya, tetapi dia sendiri yang memintanya.

Sekarang, keluarga ini, rumah ini, sudah berada di tanganku.

Ya, akulah yang membayar semua pajak. *Hela napas*

"Wah, kau hebat dalam ini." Meredith datang dari belakangku.

"Kau mengagetkanku!" Kataku terkejut. Meredith sedang memakai gaun tidur berwarna putih, dan dia memiliki rambut hitam yang panjang. Itu benar-benar menakutkanku.

"Ah, hebat, sekarang dia menangis lagi.."Kataku sedikit kecewa. Kau tahu betapa susahnya membuat seorang anak tertidur?

"Kenapa kau tidak tidur..?" Tanyaku kepada Meredith.

"Aku ingin melihatmu dan Rebekah.." Katanya sambil mengelus helaian rambut tipis Rebekah.

XXX

Meredith mengambil cuti dari kerjanya sejak ia punya anak. Dan, sekarang aku kerja sebagai ahli sains (?), aku membuat hal-hal aneh, sebenarnya. Robot, dan hal-hal yang berkaitan seperti itu.

"Aku akan pergi kerja, hati-hati, ya." Kataku yang sudah siap keluar dari rumah.

"Tunggu.." Kata Meredith.

Kau tahu jika kau menonton sebuah film romantis, disaat laki-lakinya akan keluar rumah untuk berangkat kerja, perempuanya akan merapikan dasinya? Ya, itu apa yang baru saja terjadi padaku.

"Hati-hati.." Meredith mengatakan selamat jumpa sambil aku meninggalkan rumahnya.

Ah, semua terjadi seperti yang kurencanakan. Akhirnya, aku bahagia lagi. Tidak lagi merasa kesakitan.

Tidak lagi merasa kesakitan..

Apa yang hal yang buruk yang bisa terjadi?

Heh.

Aku tidak tahu, tetapi aku berharap yang terbaik.

A/N

Akhirnya!! BUKU DUA, CONFUSED SUDAH RESMI KELUAR WOOT WOOT

Confused (Indonesian Edition)Stories to obsess over. Discover now