Justin pov
Akibat gebrakanku pada pintu kamar Selly, membuat benda itu tertutup cepat dengan suara yang sangat menggelegar. Bukan tanpa alasan, sangat kecewa dengan keputusannya untuk meninggalkanku. Ini tidak adil.
"Aaaarrrghhhhhhhhhhhh!!"
Kata-kata yang dokter ucapkan siang tadi terus berputar, Pertengkaran yang barusaja terjadi beberapa menit yang lalu, dan semua kejadian yang tampak tak nyata disini.
'Selly positif terkena kanker otak. dia harus menggugurkan kandungannya untuk mengobati penyakitnya'
'Tidak Justin, aku akan tetap mempertahankan bayi ini. Aku tidak akan menggugurkannya'
"Brengsek!! Argh!" Dengan tangan yang terus menggenggam erat rambut hingga ujungnya terasa pedas, aku terus memikirkan bagaimana membuatnya berubah pikiran. 'Selly tidak boleh meninggalkanku'
Ditemani mobi sport yang kubeli tahun lalu, terkuak semua kenangan bersama Selly. Masa-masa indah yang membuat kami tertawa bersama, masa dimana dia berada disampingku saat kami menelurusi jalan menuju meksiko untuk honeymoon.
Airmataku turun, semuanya berat. "Selly, aku mencintaimu. Aku mohon Selly, aku mohon." Mobil yang kukendarai berkecepatan sedang, melintas membelah jalanan kota Newyork sore ini. Aku berencana menemui dokter Ryan untuk membujuk Selly. Mungkin sedikit pemaksaan membuat Selly berubah pikiran.
Dirumah sakit, aku langsung menghambur keruangannya. Tak peduli ia sedang memerika seseorang atau dia tengah menikmati waktu free nya. "Sore dokter"
"Justin, ada apa?" Ia menyambut, kebetulan tebakan kedua ku yang benar.
Duduk berhadapan dengannya "Aku ingin meminta bantuanmu"
"Apa itu?"
"Kau tahu kan soal penyakit Selly? Aku sudah menyuruhnya untuk mengakhiri kandungannya dan mengobati penyakitnya, tetapi Selly menolak, ia tetap bertahan. Dokter, aku mohon bantu aku untuk membujuknya"
"Ta-"
"Aku tak bisa kehilangannya. Aku mohon" memotong pembicaraannya, aku memaksa dokter Ryan untuk setuju membantuku.
Ia mengangguk pelan, "baiklah, aku coba"
"Terimakasih Dokter"
Diluar ruangan, aku menghubungi Mommy. Mungkin untuk sementara waktu Selly akan lebih terjaga jika ada Mom dirumah, maka aku akan berencana menjemputnya seusai ini.
"Hai Mom"
"Ada apa Justin?"
"Mom, aku akan kesana."
"Oke, Mom sudah siap"
Berlari kedalam mobil, aku langsung menancap gas kerumah Mom. Melihat wanita itu menyambutku diambang pintu, aku langsung mendekap tubuhnya erat. Ia tahu, semuanya mengerti keadaan Selly. Aku sudah memberitahunya tak lama setelah Dokter memvonis Selly.
Dalam isakan tangisku, sentuhan lembut Mom dipunggungku memberikan kenyamanan tersendiri. Sebuah semangat yang baru muncul. "Kau yang sabar, semua akan baik-baik saja"
"Mom.. aku bukan bocah lima tahun yang bisa kau kibuli. Aku tahu, jika Selly mempertahankan janin itu maka ia akan meninggal"
"Justin, ingat kata dokter bahwa Selly masih memiliki tiga puluh persen kesempatan hidup setelah melahirkan. Jadi setelah itu kau bisa-"
"Tujuh puluh adalah angka yang lebih banyak daripada tiga puluh. Bahkan bukan setengah dari itu. Sangat tipis, aku tak bisa hidup tanpa Selly."
"Aku mengerti sayangku" melepas pelukan kami, Mom menyeka airmataku "mom akan bantu untuk membicarakan ini pada Selly juga keluarganya"
Aku hanya bisa mengangguk, mencoba mempercayai ucapannya yang memberikanku harapan lagi. Mengangkat barang bawaannya, mom merangkak masuk kedalam mobilku yang disusul olehku. Selama perjalanan, aku tak kuasa menahan tangis. Tak pernah aku sekecewa ini, Selly yang tega meninggalkanku demi janin itu.
Dirumah, Mom membawa senampan makanan untuk Selly. Sejak pertengkaran kami, aku belum melihat kondisi Selly meskipun hati kecilku mengatakan untuk melakukannya sekarang. Aku bisa saja menarik nampan ditangan Mom untuk kuberikan sendiri pada Selly, tetapi faktanya aku tak melakukannya. Aku tetap duduk terdiam dengan tatapan kosong pada layar tv yang menyala.
Selly pov
Aku tak mengerti dengan jalan pikiran Justin. Aku sangat mengerti ini akan sangat berakibat fatal untukku, tetapi aku benar-benar tak bisa membiarkan siapapun membunuh janin ini. Bahkan sekarang, aku bisa mendengar detak jantungnya.
"Mom disini, kau jangan takut Sayang"
Suara ketukan terdengar, kuhapus airmata sebelum seseorang diluar sana memasuki kamarku. "Mom Pattie?"
"Hey, aku bawakan makanan" senampan berisi sebuah piring dan gelas disodorkan padaku. Senyuman ramah masih ditunjukkan. Bahkan aku masih bertanya sejak kapan ia kemari? Apakah ini taktik Justin untuk mengubah pikiranku?
"Mom, jika ini masalah kandungan, aku tetap dalam pilihanku"
Ia mendekat, terduduk ditepi ranjang dengan nampan yang ia letakkan dimeja dekat ranjang "tidak, Mom hanya ingin kau makan. Mom sangat mengerti dengan perasaanmu. Mom juga seorang ibu, saat Mom mengandung Justin, rasanya sangat membahagiakan"
"Mom.." setetes airmata mengalir
"Mom mendengar detak jantungnya, mom bisa merasakan Justin ada saat semuanya meninggalkan Mom, Justin menendang-nendang didalam perut Mom. Bukankah seperti itu rasanya?"
Aku mengangguk keras. Tak terasa berulang kali airmata berjatuhan hingga aku terisak. "Tapi Justin tak mengerti semua itu. Aku tahu Mom, aku tahu kalau-"
"Iya. Mom tahu. Lebih baik kita bicarakan dengan kedua orangtuamu malam ini. Bagaimanapun juga, semua pihak harus mengerti keputusanmu dengan begitu mungkin Justin akan mendukungmu. Sekarang, makanlah terlebih dahulu"
"Baiklah Mom"
Setelah menemaniku menghabiskan makananku, Mom keluar dengan membawa nampannya kembali. Kandunganku yang sudah menginjak usia 5 bulan membuat perutku sedikit membesar. Bukan hanya itu, terkadang pinggangku juga terasa sakit. Dokter mengatakan bahwa hal itu adalah wajar. Sakit kepala yang setiap hari kuderita itu karena kanker yang menggerogoti tubuhku. Aku tak bisa mengobatinya, atau aku akan menyakiti janinku.
Karena bosan dikamar seharian, aku mencoba keluar kamar. Tetapi, belum saja melaksanakan rencanaku, rasanya tubuhku seketika melemas tanpa sebab. Pandanganku kabur, juga rasa sakit dikepalaku menjadi. Aku terpaksa membatalkan diri dan memilih merebahkan kembali tubuhku diatas ranjang, akupun terpejam.
..
Justin pov
Sudah petang. Seharian Selly berada dikamarnya, ada sedikit kekhawatiran disana. Tetapi Mom mengatakan bahwa Selly baik-baik saja. Ia hanya merasakan sedih karena sikapku yang tak mengerti dirinya. Sama sekali bukan maksudku, ataupun keinginanku.
"Mom, apa Selly sudah meminum susunya? Lalu kapan orangtua Selly akan kesini?"
Mom yang tengah memotong sesuatu diatas tadahan itu menoleh padaku, "coba kau buatkan biar Mom yang akan membawakannya untuk Selly, dan aku sudah menghubungi keluarganya. Mereka akan makan malam bersama"
Seraya membuatkan susu untuknya, aku terus memperhatikan Mom. "Lalu, apa mereka pasti akan datang?"
"Pastinya Justin, Selly adalah anak mereka. Tak ada alasan untuk tidak datang. Jangan terlalu takut Sayang"
Mengaduknya agar merata, aku menghela nafas "baiklah, aku akan tunggu. Dan aku yang akan membawa susu ini untuknya"
VOCÊ ESTÁ LENDO
Rainbow After The Storm
DiversosTangan Justin menelusuri lekuk wajahku hingga memainkan beberapa helai rambutku yang ia sibakkan dibalik telinga. "Apa aku pantas untukmu?" "Bukankah itu yang seharusnya menjadi ucapanku?"
