Abel dan Sheila sedang berjalan di lapangan sekolah saat ini untuk menuju kelasnya yang memang letaknya tepat di samping lapangan.
'ya ampun arga makin baday aja tu anak'
'apansi lo shel,jiji tau ga deng--- aww'
Belum sempat Abel menyelesaikan kalimatnya,tapi sebuah bola basket sudah mendarat mulus tepat dikepalanya.
"Anjir ini siapa s-- oh elo! dasar emang ya lo tuh, ih gapunya mata apa? liat-liat dong kalo main bola!sakit tau" ucap Abel dengan kesal.
"Hah apah? tu orang gapunya ati banget, minta maaf kek, apa kek, ihh dasar lo cowo gapunya otak" teriaknya sambil terus mengusap kepalanya yang sakit.
Pasalnya cowo yang diketahui bernama Arga itu bukannya meminta maaf, dia justru hanya mengambil bolanya dan melangkah pergi.
'weh gila lo ga,bukannya minta maaf,wah parah ni arga'
'arga gila lo bakal berurusan sama bu ketos galak lo haha'
'aduh arga atittt tau,kamu ga minta maaf ih gapunya hati banget sih kamu bep uww'
ahahahahahahh.
Seketika lapangan pun ramai dengan teriakan anak cowo yang sedang bermain basket,lebih tepatnya teman - teman nya Arga yang sedang mengejekku karna kejadian tadi.
***
"Ah serius lo demi apah? dia ga minta maaf sama sekali ke lo bel?" ucap Ara, salah satu diantara lima sahabatku.
Yap enam sekawan, rame ya? haha iya dong supaya bisa mengalahkan kerasnya toa sekolah, dan kami terbentuk dari kelas 10, entah gimana storynya kita bisa terbentuk enam kumpulan manusia ini.
"Yah ampun untung dia ganteng, jadi pasti lo maafin dia ya kan? eh yaampun yang kena kan Abel jadi ya mana mungkin dia mau maafin tu anak" ceplos Riska.
"Ya bener banget lo ka hahah" ucap mereka ber-empat kompak.
Iya memang,aku tidak menyukai arga karna sikapnya yang selalu saja membuatku naik pitam sendiri
Bahkan selama aku sekolah disini, sepertinya aku belum pernah melihat satupun kebaikannya.
***
Bel pulang sudah berbunyi sepuluh menit lalu, tapi Abel belum juga melangkahkan kakinya keluar kelas dikarenakan menunggu Sheila yang tepat pada hari ini mendapat giliran piket.
Selang dua menit kemudian Sheila sudah keluar kelas dan menghampiri Abel yang sedang asik dengan apa yang digenggamnya.
"Bel" panggil seseorang yang berhasil membuat Abel dan Sheila menatap asal suara secara bersamaan.
"Kenapa Del?" jawab Abel datar.
"Lo dipanggil ka Amel disuruh keruang osis" ucap perempuan yang diketahui bernama Adelia, salah satu yang diketahui sbagai anggota osis.
"Oh oke makasih ya Del"
"Yoi bel" jawabnya sambil tersenyum dan pergi menuju gerbang sekolah.
"Bel gua duluan yaa, abang gua udah nelfon mulu nih, dah Abel kucayang"
Sialan tuh anak, kayanya tadi yang nungguin dia gue deh, tapi kenapa malah dia yang ninggalin gue sendiri ah sule banget tuh anak. dumalnya dalam hati
***
langkah Abel terhenti saat tak sengaja melihat sekelompok anak laki-laki sedang menghisap rokok di taman belakang sekolah.
Abel pun datang menghampirinya.
"Oh jadi gini kelakuan kalian saat guru-guru udah pada pulang, lo tau kan peraturan SMU disini gaboleh ada yang ngerokok, dan lo semua kenapa ngelanggar itu, itu juga gabaik buat diri lo semua, lo! semua bakal gue laporin besok ke BK, liat aja!"
"Aduh galak banget sih bu ketos, Bayu atutt nich uwhh" ledek Bayu yang membuat tawa mereka pecah seketika
"Ah percuma lo cantik tapi marah-marah mulu kerjaanya ahahahah"
"Ahahah anjir ngakak gua jir muka lo gausah kecut begitu Bel, lagian juga kita gapeduli ah ahahah"
"Kalian ih! liat aja besok gua aduin BK bodo! " ancam Abel dengan menunjuk mereka dengan jari telunjuknya.
Tapi entah kenapa Arga maju mendekati Abel dengan muka tanpa mengeksresikan apapun, dan itu malah membuat Abel agak sedikit mundur karna sedikit takut.
"lo aduin gih sana,gua gatakut tuh bel-- ek" jelasnya sambil melangkah pergi yang tentunya diikuti oleh teman-temannya yang tetawa berbahak-bahak.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Feel
Teen Fiction'Apa yang istimewa darinya?' hanya itu pertanyaanku yang slalu muncul setiap bertemu dan mengingat kelakuannya. *** Tapi ya mau bagaimana pun memang perasaan itu tidak bisa kita kendalikan sesuai dengan apa yang kita inginkan. *** Perasaan itu datan...
