"Jaa... lo ih! Di bilang tungguin gueee!." Gerutu Rina, sahabat Senja.
"Heh! Senja kamelia adiyan! Lo denger nggak sih!." Omel Rina sebal melihat sahabatnya yang satu ini hanya fokus di iphone-7nya itu.
Biasa Senja baru di beliin hp langsung gitu, padahal baru sebulan dia ganti hp iphone6s+ dasar!
"Tau ah!." Balas Rina.
"Eh, la... lo hp baru juga?." Tanya Rina kepada Nabila, sahabatnya juga.
"Iya nih, kemarin gue beli ama mama." Nabila memperlihatkan Samsung S7nya itu.
"Wih! Besok gue suruh beliin papa aah..." ucap Aurel, sahabat mereka.
Rina cemberut mana mungkin, ia pengen sekali membeli hp baru tapi apa daya, ayahnya pasti akan memarahinya karena baru di beliin hp iphone6s+ dan di rusakinya.
Poor Rina.
"Eh, na nih hp iphone gue mau gue jual ke elo, mau nggak?." Tanya Senja.
"Mauu, berapa?." Tanya Rina.
"5 juta aja deh." Balas Senja.
Wajah Rina langsung sumringa mendengar harga yang di berikan Senja kepadanya.
"Wih!! Beneran jaa, yawda gue beliii dah." Balas Rina.
"Eits... sisanya traktir makan di warung mak ija sebulan." Sambung Senja di sertai cengiran.
"Ye... itu mah PHP namanya ja... udah buat gue malayang tapi jatohin juga!, ywda deh, tapi jangan yang mahal2!." Ucap Rina.
Hanya sebulan...
"Okeee."
..........
Senja berjalan keluar kelas, hari ini adalah piketnya dan terima kasih kepada para petugas hari ini yang dengan tega lari dari tugas mereka, membiarkan Senja yang kecil ini membersihkan kelas yang horornya bukan main di tambah ekskul nyanyi yang berlangsung selama 2 jam.
Senja melirik jamnya.
Pukul 3:00.
Senja melihat ke arah langit yang mulai mendung. Ia berlarik ke arah mobil audynya.
Mobil yang hanya bisa di duduki dua orang saja.
Salahkan papanya yang membeli mobil ini pada saat ulantahunnya.
Saar ia keluar gerbang ia melihat sekolompok pelajar sedang memukul satu sama lain.
Tawuran? Live? Omaygat.
Senja dengan cepat meninggalkan sekolahnya dan tempat itu.
saat sudah di rasa jauh dari sekolah ia mengurangi kecepatannya. Ia melihat ke arah trotoar terdapat dua orang pelajar sedang baku hantam.
Satunya memakai balok dan satunya tangan kosong. Senja merasa kasian kepada yang tangan kosong.
Ia keluar dari mobil membuka bagasi mobilnya. Mengeluarkan tongkat baseballnya.
"Woi!!!." Teriak Senja.
Bugh!!!...
Baseball itu mendarat tepat di kepala cowok itu dan punggung membuat cowok yang memegang balok itu tak sadarkan diri.
Senja membuang tongkat baseball itu dan membantu cowok yang jadi lawannya.
Kasian... wajah cowok itu di penuhi lembam, beserta bagian punggungnya sobek, kelihatan karena baju seragam di pakainya seperti sudah tidak layak.
Senja membawa cowok itu ke mobilnya. Senja mengambil baju Rayhan, kakak Senja yang terdapat di bagasi dan menutupnya kembali.
"Buka baju lo." Ucap Senja.
Cowok itu tak bergeming karena badannya sekarang sulit di gerakan karena menahan sakit.
Senja menggantikan baju ke cowok itu dengan hati-hati takut cowok itu kesakitan.
Ia menjalankan mobilnya ke rumahnya.
.......
"Pak.... bobiii... BANTUIIIN SENJAAA." teriak Senja.
"Ada apa toh non manggil-manggil." Tanya Bobi yang ngos-ngosan.
"Bantuin Senja angkat temen Senja ke kamar Senja." Bilang Senja.
Pak bobi, adalah supir pribadi Senja. Bobi melihat ke arah dalam mobil terdapat seorang pemuda yang tertidur di lengkapi lembam.
"Astagfirula..." bobi membawa pemuda itu ke kamar Senja.
Senja menelepon dokter Viktor, dokter pribadi keluarga Adiyan.
......
Dokter telah membersihkan tubuh pemuda itu dan memperbannya beserta obat. Tidak ada yang luka parah hanya bagian kaki cowok itu sobek tapi sudah di jait.
Senja tak mau membawa cowok itu ke rumah sakit, alasannya pasti akan ketahuan oleh mata-mata ayahnya. Kalau di rumah itu masih bisa di atasi seperti meminta mereka menutup mulut.
Senja memerhatikan wajah cowok itu yang di perban bagian pelipis.
Tampan...
Sejak kapan ia tertarik dengan lawan jenis? Semenjak farel meninggalinya.
"A-air."
"Ah.."
Senja mengambil air dan meminumkan kepada cowok itu dengan perlahan.
"Ini dimana?." Tanya cowok itu.
"Di rumah gue, tepatnya kamar gue." Ucap Senja datar.
"Lo siapa?." Tanya cowok itu.
"Ohiya, kenalin nama gue Senja, kalo lo?." Tanya Senja.
"Genta." Ucap Genta.
"Makasih." Ucap Genta di sertai senyuman tulus.
"Sama-sama." Balas Senja tersenyum.
"Ohiya, kenapa lo bisa di pukuli orang itu?." Tanya Senja.
"Eum.. sebenarnya gue itu mau pulang, tapi... dia tadi itu kembaran gue, namanya Galih." Ucap Genta sedih.
"Hah?."
"Dia mukulin gue karena...."
"Dia kembaran lo? Brengsek! Tega banget mukulin saudaranya sendiri sampe segitunya!."
"Lo belum tau cerita di balik itu semua."
"Huh..."
"Yaudah lo istirahat aja, lo tinggal di sini aja sampe pulih, orang tua lo nggak nyariin kan?." Tanya Senja.
Genta tersenyum miris dan menggeleng.
Senja keluar dari kamarnya itu.
.......
"Anjing!! Gergara perempuan sialan itu! Gue kelihangan dia!." Teriak seorang laki-laki.
"GALIH! LO UDAH KETERLALUAN! SAUDARA LO ITU ANJING! DIA NGGAK TAU APA-APA! GUE LIAT SENDIRI SEBELUM KEJADIAN!!!." teriak Vito.
"DIEM!!!." balas Galih menarik rambutnya.
"Pokoknya udah gue ingetin bahwa sih Genta nggak terbukti bersalah!." Ucap Vito dan pergi.
Galih mengehembuskan nafasnya kasar dan melihat baseball yang di pukuli perempuan itu tadi sore.
Senja kamelia adiyan.
Galih tersenyum misterius sambil mengucapkan nama itu berkali-kali.
YOU ARE READING
Senja
Teen FictionJika ada waktu di lain hari, ingin ku katakan bahwa aku mencintaimu.
