Lalu, di setiap penghujung doa, selalu terucap sebuah kata. Dia.
Dicky menghembuskan asap rokoknya dari mulut, kemudian menghisap batang rokok itu dan mengehembuskannya lagi keudara.
Sempat-sempatnya Dicky melakukan itu, padahal kini dirinya tengah balapan untuk segera mencapai garis finish bersama teman-temannya di lintasan jalan raya.
Garis putih pada aspal yang akan menentukan siapa pemenang dari balapan mobil ini, sudah berada di depan mata mereka semua yang ikut berlomba.
Dicky segera menaikkan kecepatan mobilnya, begitu juga dengan pembalap lain. Ada celah, Dicky langsung menyalip mobil lain. Hal yang sama dilakukan oleh lawan membuat mobil mereka saling bergesekan.
Jangan sekali-kali menganggap Dicky remeh. Kehebatan seorang Dicky tidak bisa diragukan lagi. Tanda kurung, dalam hal balap-membalap.
Tidak aneh lagi ketika mobil Dicky yang pertama melewati garis finish, memang sudah seharusnya Dicky menjadi yang pertama. Katanya 'Mencoba menjadi yang terdepan'.
Dicky membuka pintu mobil dan segera keluar merayakan kemenangannya. Dicky bersandar pada mobilnya sendiri, gayanya yang khas membuat para penggemar di sana semakin menjerit.
Rambutnya yang hitam kecoklatan disisir oleh jari-jarinya sendiri kebelakang, mata yang tampak senada dengan warna rambut akan terhipnotis bagi siapa saja yang menatapnya lebih lama, hidung mancung, kulit yang tidak terlalu gelap, rahang yang kokoh- Tapi bohong, itu berlebihan.
Tangan kiri Dicky dimasukkan kedalam saku, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah batang rokok yang sesekali ia hirup. Teman-temannya yang kalah dalam balapan segera menghampirinya.
"All is yours, brother," kata Danu sambil memberikan kunci mobilnya kepada Dicky.
Danu adalah salah satu teman sohib Dicky, Danu juga ikut dalam balapan itu, maka dirinya juga harus tekor kepada Dicky.
Perjanjiannya, bagi yang kalah harus memberikan masing-masing mobilnya kepada si Pemenang. Dari empat orang yang ikut balapan termasuk Dicky, berarti Dicky mendapat tiga mobil segaligus yang dipastikan berbeda-beda harganya.
"Gak usah, gue gak butuh." Tolak Dicky angkuh, lalu menghisap batang nikotinnya lagi. Dicky malah menolaknya, padahal mendapat tiga mobil balap secara gratis, bukan hadiah yang tergolong kecil. Dicky menyia-nyiakan nikmat dirinya.
"Alhamdulilah..." Kata pembalap lain secara serempak sambil bersyukur karena mobilnya tidak menjadi tebusan kekalahan mereka.
Danu terkekeh kecil sambil menepuk pundaknya Dicky, "Wow, saking tajirnya sampe lo gak butuh lagi hadiahnya."
Dicky tersenyum ringan "Sayang kalo mobilnya cuman buat pajangan doang, gak ada untungnya buat gue."
"Hah?"
"Kata guru ngaji gue, mending itu mobil jual, terus uangnya sumbangin buat fakir miskin."
Seketika semua temannya langsung speechless , malah ada yang sampai mulutnya mengaga.
"Masyaallah... temen adek udah baligh ternyata." Danu semakin terkekeh mendengar pernyataan Dicky.
"Mentang-mentang nakal gini, jangan sekali-kali lo ngeremehin iman gue." Dicky menghembuskan rokoknya keudara.
"Orang yang beriman gak bakalan ada disini apalagi ikutan balapan, bahlul!"
"Tes gue bacain surat Ar-rahman, mau?"
Memang benar, Dicky selalu dipaksa oleh orang tuanya mengaji bahkan dituntut untuk menghafal ayat-ayat al-qur'an. Ia lakukan itu sekurang-kuranya tiga kali sehari dalam seminggu.
Bahkan tantenya itu menyewa seorang ustadz hanya untuk datang kerumahnya sekedar mengajari Dicky mengaji ditambah pencerahan terhadap Dicky yang selalu keluyuran setiap malam.
"Anak nakal ya anak nakal, orang beriman ya orang beriman," kata Danu yang ikut bersandar di mobilnya Dicky.
"Tuhan juga tau siapa yang nakal dan siapa yang beriman dan gue termasuk kedalam anak nakal yang beriman."
Dicky menghembuskan asap rokoknya yang terakhir, setelah itu membuangnya pada genangan air.
"Lebih tepatnya anak nakal beriman yang jones, bhak!" Danu menyemburkan tawanya tanpa beban.
"Jomblo, bukan karna gue gak laku. Jomblo, karna gue ingin nikmatin masa muda gue dengan free!" kata Dicky sambil menatap Danu tajam.
Tidak tau, Dicky sepertinya ingin bebas bermain-main di masa mudanya terlebih dahulu, ingin menikmati kebersamaan bersama remaja-remaja lain diluar sana.
Dicky pikir, bila ia memiliki pacar, pasti pacarnya itu akan melarang segala aktivitas Dicky termasuk balapan. Jadi ia menunggu sampai ada seseorang yang tepat untuk dirinya dan menerima segala hal yang ia sukai.
"Freehatin maksud lo." Ejek Danu semakin memojokkan Dicky.
Dicky menatap Danu tidak senang yang sekarang tidak henti-hentinya tertawa "Lagian gue engga jomblo, cuman single aja, oke."
"Single itu prinsip, jomblo itu nasib." Tutur Danu semakin manjadi-jadi, sedangkan Dicky sedang memikirkan balasan yang pantas utuk diberikan kepada Danu.
"Tenang guys! jangan malu. Jomblo emang bukan gak laku, tapi emang gak ada yang mau." Danu tertawa sambil merangkul bahunya Dicky.
"Gak mungkin gak laku kalo orangnya ganteng kayak gini."
"Terus kenapa sekarang lo betah banget ngejomblo?"
Fix, Dicky udah tau jawabannya.
"Jodoh itu ditangan tuhan, bro," jawab Dicky dengan tangan yang disilanglan di depan dada.
Danu menghentikan tawanya dan kembali menatap Dicky serius, "Lah terus?"
"Ya gue takutlah ngambilnya."
Memang, pernyataan itu perlu dicerna terlebih dahulu oleh Danu. Tapi seketika itu juga, semua orang yang berada di sana menjadi panik ketika mendengar sebuah sirine yang berasal dari mobil polisi.
Diky, Danu, bersama teman-teman yang lain segera masuk kedalam mobil lalu melajukannya dengan cepat mencoba kabur dari tempat itu supaya tidak tertangkap oleh polisi.
YOU ARE READING
Freedom
Teen FictionSurga berada di telapak kaki ibu, sedangkan kamu berada di hatiku.- Dicky
