Kecintaan Negeri Yang Terlupakan

27 8 0
                                    

radistya__01

Mentari mulai kembali ke peraduannya. Digantikan oleh sang rembulan yang meski tak secerah mentari, tetapi tetap menawan dan memperindah mataku ketika melihatnya. Yang saat itu seolah-olah mendorongku hingga aku membayang, apa yang akan terjadi esok hari dalam hidupku dan Indonesiaku.

Menurut rencana, aku dari siswi yang masih duduk di kelas 1 SMA dari asramaku, bersama beberapa kelompok kawanku akan terbang selama beberapa hari ke Negeri Jiran, yaitu Kuala Lumpur, Malaysia. Kami akan mengikuti kegiatan Festival Seni dan Kebudayaan Antar Negara Se-Asia Tenggara. Kegiatan ini mengharuskan kepada Negara yang ikut serta dalam kegiatan ini untuk menampilkan dan memperkenalkan kebudayaan yang ada di negara tersebut. Chika,.kawan terdekatku menghampiriku dari belakang, suara langkah kakinya yang terdengar karena lantai balkon terbuat dari papan dan bayangan dirinya menarikku untuk memutar kepala dan mengalihkan pandanganku kepadanya.

"Kania, kamu belum tidur juga? Apa yang sedang kamu lamunkan?"

" Tidak, hanya sedang menikmati pemandangan indah di langit sana."

" Kamu bohong, pasti kamu sedang
melamunkan untuk keberangkatan kita besok."

"Ya sudahlah jika kamu memang sudah tahu."

" Tapi aku tak tahu kamu akan menampilkan apa."

"Aku akan menampilkan Tari Piring dari daerah asalmu itu."

"Wah! Kamu hebat. Itu sangat bagus."

"Ya, do'akan dan dukung aku terus saja."

"Pasti Kan, sekarang lebih baik kita tidur dan beristirahat agar besok kita tidak terlalu lelah."

"Ya ,Chika."
Kamipun segera menuju kamar untuk beristirahat.

Suara ayam berkokok berpadu bersama kicauan burung yang berarak bersama awan-awan yang menjatuhkan air embun ke bumi membuat segar dan begitu indah pagi ini yang diawali dengan teriakan Chika yang membangunkanku. Akupun segera bersiap-siap untuk kebarangkatan kita hari ini ke Kuala Lumpur, Malaysia. Ketika kami sampai di bandar udara, ternyata keberangkatan pesawat yang akan kami tumpangi baru akan terbang satu jam kemudian, sehingga kami harus menunggu lagi. Akhirnya pesawat kami pun terbang, dan mendarat kembali dengan selamat. Kami langsung menuju hotel yang akan menjadi tempat peristirahatan kami selama kami berada disini. Kami pun langsung membereskan barang-barang yang kami bawa dan mempersiapkan segala sesuatu untuk penampilan kami besok.

Alunan nada yang terdengar di dalam gedung sampai ke depan pintu gerbang gedung tepat dimana aku berdiri saat ini, sungguh telah membuat jantungku berdetak lebih kencang dari, sebelumnya seperti genderang yang akan berperang. Namun aku teringat akan pesan ibuku. Beberapa helaan nafas yang cukup menenangkan hati dan ketegangan jiwa ini. Aku pun melangkahkan kaki ke dalam gedung yang megah dan berkilauan lampu-lampu ini. Aku duduk di bangku jajaran kedua dari pengunjung. Terlihat siswa dan siswi dari berbagai negara memenuhi seluruh isi gedung.
Setelah beberapa banyak negara yang menampilkan kebudayaan mereka, tibalah saatnaya kelompokku untuk menampilkan Tari Piring. Bersyukur aku kepada Tuhan, karena penampilan yang kami tampilkan berjalan sukses dan mendapat respon baik dari para pengunjung.

Sehabis semua negara menampilkan kreasi seninya, kegiatan dilanjutkan dengan mempersentasekan kebudayaan masing-masing negara di stand yang telah disiapkan oleh panitia. Persentase ini di tujukan kepada para pengunjung yang mengunjungi stand milik negara mereka tersebut.

"Kan, kmu ada jadwal buat jaga stand tidak?"
"Tidak juga sih."

"Chik, aku bosan nih."

"Terus bagaimana?"

Writers ID untuk Indonesia Where stories live. Discover now