"Mana laptopnya?" tanya seorang gadis cantik berambut hitam legam dan bergelombang dengan tatapan datar kepada seorang wanita tua di hadapannya yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu sambil memainkan handphonenya.
"Laptopnya hilang"
Hanya dengan dua kalimat itu dapat membuat gadis itu syok.. benar-benar syok. Wajahnya seketika berubah merah padam yang menyiratkan kemarahan dan kekesalan hingga tangannya mengepal kuat. Ia bahkan sangat-sangat kecewa. Laptop itu adalah laptop kesayangannya.
Itu adalah pemberian sepupu laki-lakinya yang sangat ia sayang sebagai kado ulang tahunnya yang ke-12 enam tahun yang lalu dan ia berjanji untuk merawat laptop itu sebaik mungkin. Mungkin ini dapat dikatakan berlebihan secara gadis itu adalah anak orang yang dapat dikategorikan berkecukupan atau kaya. Tapi, baginya ini tidaklah berlebihan. Karena itu adalah pemberian sepupunya yang sudah meninggal 2 bulan setelah hari ulang tahunnya yang ke-12 yaitu Daniel. Tidak hanya itu, Menurutnya Daniel adalah orang istimewa di hidupnya.
Di situ tersimpan semua file-file penting, semua kenangan indah, dan rahasia atau tempat curhatannya kedua setelah kakak laki-lakinya. Orang tuanya tidak dapat menemukan atau membukanya karena file itu bersifat pribadi dan dikunci. Dan sekarang, dengan santainya wanita itu mengatakan "laptopnya hilang" tanpa rasa bersalah, malahan wanita itu terlihat tenang sambil memainkan handphonenya. Sekarang dia sangat malas untuk melihat wajah wanita itu, dia muak melihatnya. Wanita itu adalah mamanya sendiri.
Semalam dia sudah mengingati mamanya untuk tidak lupa membawa pulang laptopnya karena kemarin mamanya lupa membawa pulang dan meninggalkannya di mobil ambulance tanpa rasa khawatir terhadap barang orang lain. Yap, mamanya seorang dokter.
Sebenarnya ia tidak suka ada orang yang menyentuh barang miliknya baik itu meminjamnya, termasuk orang tuanya. Tapi apa boleh buat mamanya itu tidak bisa dibantah atau dilawan dan ia takut untuk melawan atau berdebat dengan mamanya.
Selama ini ia hanya bisa menunjukkan kemarahan lewat ekspresi atau berkata singkat atau hanya bergumam dan menatap datar ke arah mamanya. Papanya? papanya sedang bekerja di luar negri yaitu di amerika, sedang menghandel perusahaannya. Hanya sekali sebulan papanya pulang.
Hubungan ibu anak itu memang tidak begitu membaik. Gadis itu seakan menjauh dan menutup diri dari orang tuanya dan ia terkadang tidak menyukai mamanya yang menurutnya egois.
"Jadi bagaimana? gak bisa dicari lagi?"
"Emang kamu gak dengar tadi mama menelpon!" kesal mamanya.
Tanpa babibu gadis itu langsung beranjak berdiri dan pergi ke kamarnya sambil menahan emosi dan air mata yang akan mengalir keluar. Ini bukan untuk yang pertama kalinya mamanya mengecewakannya. Hampir setiap hari mamanya membuat ia marah, kesal, sedih. Bahkan mamanya tidak pernah mengucapkan kata maaf. Tapi ini benar-benar membuatnya kecewa. Sangat-sangat kecewa.
"I'm sorry Daniel.."
•••
Hy.. guyss..
Ini cerita pertamaku and I hope you like it guys!aku memang sengaja menulis cerita pertamanya pendek hehehe.
Buat para readers jangan lupa Vote and Comment ya..aku juga butuh saran dari kalian semua guys karena aku juga masih penulis amatir.
YOU ARE READING
YOU'RE THE ONLY ONE
Teen FictionBaca aja gue gak pandai buat sinopsis hehe.. siapa tau kan suka.
