Part 1

26 3 1
                                        

Ia menghampiriku sambil membawa secangkir teh hangat. Aku yang saat itu sedang duduk di kursi kayu mahoni itu tersentak.

"Ada apa?" ujarku.
"Tidak, aku merindukanmu hari ini," jawab Eric. Ia mulai duduk di hadapanku. Sekarang ia mengarahkan pandangan kosongnya ke arahku. Aku benar-benar tidak bisa menerka apa yang sedang dirasakannya saat ini.

"Eric, aku ingin jujur," tuturku, mengusik keheningan. Ia mengangguk pelan dan mempersilahkanku bicara.

"Sebenarnya, apa yang terjadi di antara kita? Dulu kita merupakan satu kesatuan yang sangat dekat, bahkan orang-orang pun selalu sirik dengan keserasian kita. Tapi sepertinya, semakin ke sini semakin merenggang."

Eric tak menjawab satu patah kata pun. Sepertinya ia sedang mencari kata-kata.

"Hey, kau tahu? Aku rindu kau yang dulu. Ketika kau masih mengejar-ngejarku, dan aku masih sangat lugu. Tapi sekarang kau berhasil. Kau berhasil merenggut hatiku yang dingin itu. Setelah kau mendapatkanku, kau malah bosan dan perasaanku kepadamu terlanjur mendalam. Apakah kau akan bertanggung jawab atas perbuatanmu itu, Eric?"

Ia mulai membuka mulutnya. Kini, aku mempersilahknannya bicara.

"Crystal, aku tidak tahu apa maksudmu. Bisakah kau memberiku kesempatan kedua? Ayolah. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu kali ini."

"Maaf, sudah banyak kesempatan yang telah kuberikan kepadamu. Kau tak kunjung sadar. Aku lelah, Eric. Aku lelah tidak dihargai oleh orang yang paling aku perjuangkan. Sepertinya semua berakhir di sini. Kuharap kau menyesal, Eric. Kuharap kau menyesal telah kehilanganku. Aku tahu, perempuan yang akan menjadi milikmu selanjutnya tak mungkin mencintaimu sebegininya."

"Aku masih cinta kepadamu, tapi kali ini aku harus menghargai diriku sendiri. Aku selalu menjadi yang tersakiti dan aku salah. Aku butuh orang yang benar-benar pantas mendapatkan hati dinginku yang tak seharusnya kuberikan kepadamu. Sampai jumpa."

Aku tersenyum kecil dan bangkit dari kursiku. Aku berjalan gontai dan menghela nafas. Kuharap yang kulakukan itu benar.

"Crystal, tunggu!"

Crystal ClearWhere stories live. Discover now