"EL!!"
Dia bersuara, mengucapkan namaku dengan keras, berusaha mengalahi suara derasnya hujan. Ia berlari menghampiriku.
"Jangan deket-deket! Aku benci sama kamu!" Ucapku.
"Kenapa kamu benci sama aku?"
"Aku denger semuanya, Sha! Katanya, kamu mau bareng terus sama aku, tapi kenapa kamu mau pindah?" Mataku basah. Aku merasakannya. Namun, air mataku tertutupi oleh rintik-rintik hujan yang juga membasahi seragam putih merahku.
"Itu semua karena orang tua aku, El. Aku sebenernya juga gak mau pindah ke Jakarta, aku masih pingin sekolah di Bandung, aku masih pingin jadi sahabat kamu terus sampai kita SMA..." Dia dan aku bertatapan. Matanya berkaca-kaca. Sungguh, sebenarnya aku tidak tega melihatnya sedih.
"Kamu bohong! kamu udah gak sayang sama aku, Sha"
"Aku sayang sama kamu El..." ucapnya terbata-bata.
Semakin ia mengucapkan kata sayang, semakin aku tersakiti. Bagaimana tidak, aku teringat saat aku menyatakan perasaanku kepada wanita itu. Namun ia bilang, dia hanya menyayangiku sebagai sahabat. Dia tidak menyukaiku.
"Sana pergi! Jangan deketin aku lagi! Aku gak mau berteman sama kamu!" Ucapku, sambil mendorongnya sedikit keras, hingga ia mundur 2 langkah.
"Gak papa kamu marah sama aku El. Nanti, aku bakal ketemu sama kamu lagi. Aku mau hubungan kita baik lagi." Ia menarik nafas dalam-dalam. Air matanya turun membasahi pipi chubbynya.
"Kamu emang gak pernah peduli sama aku, Sha! aku benci semua orang! Kenapa gak pernah ada yang peduli sama aku?!" Bentakku, cukup membuatnya menutupi mulut dan hidungnya.
"Aku peduli sama ka-"
"Udah sana pergi! aku males lihat kamu disini! Semoga kamu bahagia, dan masuk SMP yang kamu inginkan. Jangan ingat-ingat aku lagi, aku kecewa sama kamu!" Bentakku.
Tiba-tiba saja seorang laki-laki berpakaian supir datang membawa payung, dan melindungi wanita itu dari rintik hujan.
"Non, udah ditungguin Nyonya didalam mobil. Yuk non." Ucap laki itu, lalu ia meraih tangannya, dan membawanya pergi.
"EL..." lirihnya. Aku melihatnya semakin menjauh. Memasuki mobil putih diseberang sana.
Aku kehilangan dia, orang yang selama ini aku sayang. Dia satu-satunya orang yang baik kepadaku. Ternyata ia sekarang benar-benar pergi.
Setelah mobil itu hilang dari pandanganku, aku pergi dari taman itu. Berhubung aku sudah merasa cukup mandiri, di umur 12 tahun ini, aku berani berjalan kaki menuju rumahku. Perasaan sedih, kesal, dan rindu itu bercampur aduk.
"Mama.." ucap ku saat sudah memasuki rumah.
"Oh, Zulfan.. kenapa baju kamu basah semua? Hujan-hujan ya pasti?" Ucapnya
Aku menunduk, menutupi wajahku yang masih menyisakan tangisan tadi.
"Kamu kenapa, Zulfan? Jawab mama.."
"Lakesha pergi ma... dia pindah ke Jakarta sama orang tuanya. Dia ninggalin aku mau." Lirihku, sambil memeluk Mama.
"Oh, sayang.. gak apa-apa nak. Mungkin memang bukan waktunya. Tapi mama yakin, nanti pasti kamu bertemu lagi sama dia."
"Tapi kapan ma.. Aku kangen sama dia, aku masih mau main bareng dia terus disini. Aku masih pingin SMP bareng sama dia.."
"Sabar ya nak.. udah udah, kamu lupain aja masalahnya. Kamu naik keatas, mandi, terus ganti baju. Jangan pikirin perempuan, kamu fokus UN dulu." Ucap mama, sambil mengelus-elus rambutku dan tersenyum.
"Yaudah ma, Zulfan naik dulu ya." Pamitku. Mama mengangguk, lalu aku menaiki tangga, menuju kamarku. Tidak peduli jika lantai rumah ini basah karena kaki ku, aku hanya ingin cepat mandi, dan tidur.
"Aku gak suka perempuan, gak suka." Batinku, malam ini. Ya. Malam saat mataku mulai menutup.
-welcome, maaf kalau gak nyambung, gak jelas, jelek, dll. Ini cerita pertama aku, jadi maklumin aja. Hehe.-
Dont forget to vote, and comment.
👄thari.
YOU ARE READING
Still Trying
Teen Fiction(CERITA DALAM PERBAIKAN) Zulfan Rizky Elgaza Nama itu selalu membuat jantung perempuan itu berdegup kencang. Salshabilla Canesya, perempuan yang harus menerima kenyataan pahit, setelah laki-laki yang sangat ia sayangi kini pergi. Dia bagaikan tengg...
