Surat

122 7 24
                                        

Tahu kah kamu? Pertama kali kita bertemu itu, saat aku harus mengikuti acara pembentukan karakter lewat acara kemah yang diselenggarakan sekolah?
.

Ingatkah kamu? Pertama kali saat kita bertemu kita bahkan tak saling sapa dan hanya saling melihat lalu berlalu begitu saja.
.

Ingatkah kamu? Pertama bertemu kau menunjukan sifat tak bersahabat? Bahkan waktu itu aku berpikir "--jutek banget si"
.

Dan apakah kau tahu? Bahwa setelah itu hari-hariku tak pernah lepas darimu? Kau selalu menghantui pikiranku hingga membuatku bertanya "--aku kenapa?"
.

Tahukah kamu saat pertama kali aku tahu bahwa aku menyukaimu yang kupikirkan adalah "-- mustahil aku suka. Kita beretemu cuma 4 hari itupun kita bertemu saat ada keperluan . Saling sapa dan berbicara tidak pernah, dia tau aku aja, belum tentu --"
.

Tapi tahukah kamu? Bahwa saat ku mencoba menampik rasa itu, yang ada aku makin terjerat dan terjatuh pada kenyataan. Bahkan aku akan menangis ketika wajahmu mulai mengabur dalam ingatanku.
.

Pernahkah kau tahu? Aku selalu menyimpan rasa ini bahkan ketika wajah, rambutmu, kulitmu, bibirmu dan semua yang ada padamu sudah hilang tertelan waktu. Aku bahkan tak bisa lagi menangis meski tak dapat mengingat wajahmu.
.

Ingatkah kamu? Saat akhirnya kita bertemu untuk yang kedua kalinya? Aku memandangmu dan tiba-tiba aku menangis? Kau berubah panik dan mengusap pipiku tiba-tiba. Saat itu aku malah makin histeris dan kau spontan memelukku. Saat itu aku bersyukur aku menangis dihadapanmu karena drengan begitu akhirnya kita dapat berpelukan dibawah lampu jalan selama beberapa menit.
.

Ingatkah kamu? Kita mulai dekat saat itu,dan akhirnya setelah 7 tahun lamanya kau tahu, kita pernah bertemu sebelumnya.
.

Bolehkah aku berharap? Bolehkah aku merasa bahwa kita mulai saling memandang dengan pandangan yang berbeda? Bolehkah aku berpikir "-- sepertinya usahaku menunggu dan mencarimu tak pernah sia-sia. Karena, sepertinya kau mulai jatuh cinta padaku--"
.

Bolehkah aku menyalahkanmu? Ketika kau mengecup bibir ini dan berkata "-- maaf aku tidak bisa, aku tidak tau ini membuatmu salah paham. Tapi sebenarnya aku tak pernah bermaksud membuatmu berpikir aku telah jatuh cinta padamu--"
.

Ingatkah kamu? Sejak saat itu kita tak lagi saling sapa. Oh bukan kita, tapi aku yang melakukanya. Aku terlalu sakit untuk menerima kenyataan bahwa kau mengecupku bukan untuk menerimaku. Kau mengecupku untuk mengatakan bahwa "--ini tanda maaf dariku,kumohon lupakan aku--"
.

Sejak itu, kita kembali menghilang. Kita saling bertolak belakang. Aku tidak lagi tahu kemana kau pergi dan aku kembali sendiri untuk sembuhkan luka.
.

Bolehkah aku menyalahkan takdir yang diciptakan tuhan?
.

Saat pertama kali aku mulai merasakan bahagia tanpa bayangmu. Kau kembali lagi?!! Yang benar saja. Kenapa kau datang dengan wajah lukamu itu? Kenapa setelah tiga tahun lamanya kau menghilang, kau harus datang dengan menangis dan terisak dipelukanku?
.

Ingatkah kau? Saat itu akhirnya kita duduk berpelukan dan diselimuti keheningan. Kita tak saking tengok, bahkan untuk betanya apa yang terjadi saja tidak bisa .
.

Apakah kau tahu kau hancurkan aku lagi ketika kata pertama yang kau ucapkan adalah
"--dia menduakanku, aku mencintai dia tapi dia mengkhianatiku--"
.

Tak bisakah kau tau aku selalu mencintaimu, bahkan ketika kau poergi dan datang sesuka hati. Aku selalu siap menjadi rumah bagimu.
Tak bisakah kau lihat, saat aku serahkan semua yang kumiliki untukmu aku sedang berusaha memberitahumu bahwa aku cinta...
.

Apakah aku bisa menyebut diriku sebagai seseorang paling bodoh di dunia ini? Ketika kau pulang dan memelukku sambil berkata "-- dia memintaku kembali , dia bilang dia menyesal dan ingin kembali denganku. Aku sungguh senang karena cinta tulusku bisa membuatnya mengingatku--"
Aku malah tersenyum dan berkata "-- benarkah? Selamat kalau begitu--"
.

Bisakah kau bayangkan apa yang kurasakan?
.

Aku sedang berlatih mengikhlaskan(lagi) tapi apa yang kudapat didepan pintu rumahku membuatku kembali menjadi gila.
.

Aku tak pernah tahu bahwa rasa sakit yang kurasakan kali ini tidak sepadan dengan sakit dihati ini. Tapi bolehkan aku senang? Untuk terakhir kalinya aku mendengar kau berteriak dan menangis ketika kau melihat tubuhku terbalut merah pekat cairan amis ini?
.

Aku dapat melihatmu dari sisi lain, aku melihatmku dari sini sayang. Aku melihat saat kau tetap menangis sesenggukan dan memilih setia menunggu gundukan tanah yang bertuliskan namaku.
.

Aku ingin berbahagia, melihatmu menyadari bahwa kau mencintaiku. Tapi, semua terlambat sayang...
Kita sudah berbeda...
.

Maukah kau membaca surat yang kutinggalkan di laci tempat tidur kuta? Tempat dimana kita biasa menyatu? Bisakah kampu menemukan dan membacanya sayang..
.

Yang aku inginkan dari dulu adalah balasan cintamu
Yang aku inginkan dari dulu adalah kau menyadari hadirku
Tapi kau tidak pernah menyadarinya
Kau sudah Menjadi malaikat kematianku ketika aku menemukan sebuah undangan berpita merah didepan pintu rumahku.
Kau mampu menyedot oksigen yang ingin kuhirup ketika melihat tulisan yang ada diundangan itu..

"Okky Hermawan & Velanis Atmajaya "

Yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis dalam diam dan menjerit keesokan paginya.
Dan apakah kau dapat membaca surat ini ketika aku hanya tinggal nama ? Ataukah aku akan tetap menyimpan semua sakit yang kurasa sendirian?

.

Untuk terakhir kalinya aku melihatmu menangis di samping tempat tidur kita sayang...
Apakah kau tau? Aku juga ikut menangis dan sedih melihatmu dari sini?
Tapi bolehkah aku bahagia ketika kau mulai gila karena ku?
Ketika kau hanya ingat aku dan berteriak histeris memanggil namaku tanpa ada yang bisa menenagkanmu...

TravelDonde viven las historias. Descúbrelo ahora