Kabut dingin menyelimuti pagi ini, sayup -sayup suara kokok ayam jantan ku dengar di kejauhan. Dengan gerakan malas kusibak selimut yang membungkus tubuhku. Dingin. Itu yang kurasa.
Tik tik tik
"Pantas, di luar hujan ternyata.'' gumamku lirih.
Dengan langkah perlahan -sambil memeluk tubuhku mencari sisa kehangatan dari selimut tadi- aku melangkah menuju jendela, menyibak gorden yang menampilkan tarian hujan yang indah.
Di mana kamu? Ini hujan ke-30 setelah kepergianmu. Bukankah kau berjanji akan datang saat hujan ke-27? Kau tahu aku selalu menghitung tetes hujan berharap setelah tetes terakhir kau akan datang dengan payung biru kesayanganmu. Tapi, setelah tetes tetes itu mereda kau tak pernah datang. Apa kau melupakan janjimu? Tapi, kenapa aku sanggup mengingatnya setelah perpisahan kita awal musim kemarau tahun ini- 9 bulan lalu.
***
''Fre, tolong ambilkan berkas di meja sebelah utara!'' ucapku pada salah satu assistanku, Freya yang sekaligus sahabatku sejak SMA.
Aku Ginaya Putri Agni. Seseorang yang sudah dilatih mandiri oleh kehidupan sejak kematian kedua orangtuaku, sekaligus satu-satunya kakak yang aku punya, kakak kebanggaanku, kak Farisky Faisal Farzan 5 tahun yang lalu. Saat saat yang seharusnya membahagiakan berubah menjadi kelabu. Kehilangan yang tak pernah ku kira akan menimpa diriku disaat aku telah mewujudkan salah satu mimpi keluargaku. Menjadi lulusan terbaik dan peraih beasiswa di universitas ternama dunia.
''Pah, Mah, Kak maaf, Gi belum bisa jenguk, Gi masih ngurusi pagelaran minggu depan, Gi belum bisa dateng buat kalian. Maafin Gi, ya? Gi janji setelah semuanya beres Gi bakalan sering sering nengokin kalian'' ucapku, tak terasa sebutir airmataku luruh saat melihat foto keluargaku di meja. Aku merindukan kalian. Sangat.
''Maaf, bu, ini berkas yang anda minta.''
''Terimakasih, kamu bisa kembali.''
''Baik, permisi.''
Setelah beberapa menit aku mempelajari berkas yang ada di tanganku. Aku segera persiapan berangkat ke Paris, untuk menghadiri Prancis Fashion Week 2016, yang akan diadakan seminggu lagi, dengan aku sebagai salah satu desainer yang akan megenalkan busana rancangan untuk tahun depan.
''Fre, tolong bilang ke Andi, aku akan ke bandara sebentar lagi.''
''Iya, bu.''
''Fre..., bukannya aku sudah bilang jangan panggil aku 'bu', aku bukan ibumu.''
''Tapi, kau bosku. Makanya aku panggil bu, bu Gina.''
''Terserah. Kau ikut kan ke Paris?''
''Ya, aku ikut. Tenang saja.''
''Bu, mobilnya sudah siap.''
''Ayo berangkat!''
***
Ini hujan ke 31, Ge. Walau di negara yang berbeda. Entah di Indonesia sedang hujan atau tidak, aku tidak tau. Aku di sini menyaksikan tarian hujan di balik gelapnya fajar, Ge. Nanti aku akan menghadiri pergelaran fashion terbesar di dunia. Apakah kau akan hadir di sana, Ge? Seperti janjimu sebelum kau pergi.
***
Pergelaran fashion telah usai. Dia tak hadir. Tak kan pernah. Aku melangkah menuju belakang panggung untuk mengucapkan terima kasih kepada para model untuk kerjasama mereka kali ini.
Namun ada suara yang menahan langkah kakiku. Suaranya. Suara orang yang ku rindu. Dia di sini. Geandri Kurnia Wijaya ada di sini.
''Ginaya Putri Agni. Salah satu desainer yang mengikuti Paris Fasion Week 2016. Seseorang yang menjalani kehidupan untuk mewujudkan mimpi keluarganya. Seseorang yang sangat berarti bagiku. Penyemangat langkahku. Maaf aku tidak menepati janjiku, tidak datang saat hujan ke 27. Namun aku datang saat hujan ke 32, sekaligus untuk menunaikan janjiku yang lain. Aku mencintaimu Ginaya Putri Agni. Maukah kau menikah denganku?'' tanyanya di depan seluruh para desainer dari seluruh dunia yang hadir di acara ini. Dia berjalan mendekat ke arahku yang hanya mematung melihat kehadirannya, dia berlutut sambil mengulurkan kotak beludru berisi cincin berlian yang sangat cantik.
''Will you marry me?'' tanyanya sekali lagi.
Aku diam. Tanpa terasa ada yang mengalir turun dari kedua mataku, dan dengan perlahan aku menganggukkan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya. Dia memasangkan cincin itu ke jariku dan menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan yang kurindu. Gema suara riuh tepuk tangan mengiringi pelukan kerinduan kami yang semakin erat.
Rengel, 23102016
Ditemani hujan yang mengguyur dengan derasnya di pagi hari
YOU ARE READING
Kepingan Memori
Short StoryKumpulan cerpen yang mencoba menggabungkan kisah dari masa lalu maupun sekarang yang belum usai menjadi rangkaian kata yang utuh. Tentang rasa. Penantian. Sebuah takdir. Perjuangan tentang menggapai sebuah impian. Cinta yang tulus. Kesabaran. Melepa...
