•Page 1•

366 10 0
                                        

"Vivi pergi dulu ma! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."

Dengan tergesa-gesa Vivi menaiki sepeda pink mininya itu. Tepat waktu. Begitu memasuki gerbang sekolah, lonceng langsung berbunyi. Vivi semakin cepat mengayuh sepeda.

"Tunggu!" teriak Vivi sambil berlari menuju pintu kelas. Begitu mendengar teriakan Vivi, seorang gadis segera menghentikan langkahnya. Ia langsung menoleh. Mata sipitnya tertuju pada Vivi. Sebut saja Dina, sahabat terbaik Vivi.

"Tumben telat?"
"Aku bangun kesiangan." Vivi menjawab dengan nafas tersengal-sengal.
"Hei kalian ini, ayo masuk! Lonceng sudah berbunyi dari tadi." bentak seorang guru yang memang terkenal galak. Dina dan Vivi bergegas masuk kelas. Kelas hingar bingar oleh keceriaan dan celoteh cerita para siswa kelas itu.

Pelajaran pertama baru saja akan dimulai, tiba-tiba...
"Aaaaaaa....!" Ema mengejutkan.
Teriakannya menggegerkan seisi kelas.
Nana ambruk. Tubuhnya mengejang. Buih putih bercampur darah keluar dari mulutnya. Matanya antara menutup dan membuka. Sebagian teman-teman Vivi mulai naik ke atas kursi sambil menjerit-jerit. Sebagian berhamburan keluar kelas karan ketakutan. Suasana pagi yang cerah menjadi tegang. Kelas menjadi riuh. Wajah ceria siswa menjadi kusut. Ema terus berteriak histeris. Di kelas Vivi, dialah yang paling penakut.
Beberapa orang guru datang melihat keributan.

"Ayo bantu!" Pak Gusti mengajak beberapa anak laki-laki untuk menolong. Sedikit ragu, Jerry, Dadan, Vito, dan Tito mengangkat Nana. Jerry berlari keluar menyeret kursi panjang yang berada di samping laboraturium.
Untuk sementara, Nana dibaringkan di atasnya sebelum dibawa ke UKS.

EPILEPSIWhere stories live. Discover now