Mengapa semua menjadi seperti ini?
Mengapa kedamaian, kasih sayang dan cinta kita seperti ini?
Amarah ,kebencian perpecahan, kesedihan dan berakhir dengan kepergian mu?
Dimana kedamain dulu...
dimana kasih sayang itu?
Mengapa kau pergi tinggalkan kami yang menyangi mu selama ini?
Hubungan ini tak bisa seperti dulu, kehangatan kita bahkan tawa kita takan sama,
Karena benang yang menghubukan kita kini telah kusut dan terputus
Namun kepergian mu akan ku nantikan tuk kembali...
Untukmu Yang Kami Rindukan...
Langit hitam masih bersemi kabut masih menebal, fajar masih tertidur, dan hawa sedingin es pun siap menyambut siapa saja yang belum atau terbangun dari mimpinya, namun sayang orang-orang masih tertidur lelap dengan selimut tebal pengangat tubuh, mereka engan berajak dari tempat tidur yang hangat. Hari-hari akan dingin saat memasuki bulan Desember.
Tak terdengar azan dari panggilan-Nya, memang begilah keadaan permukiman ini, tak ada musola atau masjid berdiri di tanah permukiman ini.
Namaun ada pemandangan berbeda di sebuah rumah yang kokoh berdiri bergaya Siheyuan.
Seorang pemuda dengan pakaian panjang kerah tegak dari bahan berkilau dan kancing cina dibuat dari tali yang menepel di baju mode asimetris, ia berjalan di tengah kegelapan langit ini, langkahnya berhenti tepat didepan pancuran air, bibirnya berucap sesuatu seperti membaca mantra, bukan matra itu sebuah doa, kedua telapak tangannya di juluran kedalam air lalu saling mengesek.
Setelah itu ia mengambil air dengan ketua telapak tangannya meneruputnya lewat hidung mulut lalu membuangnya, memasuh seluaruh wajah putih orientalnya, lalu tangan hingga siku, dahi hingga rambut, telinga dan terakhir kaki kanan dan kiri, ia kembali mengucap doa lalu menghentikan aliran air.
Pemuda itu melakukannya dengan runtut sebanyak tiga kali, gerak-geriknya menujukan bersuci (wudhu) untuk shalat, shalat?
Ya Shalat Subuh tepatnya, salah sutu ibadah wajib bagi pemeluk Islam bersama kempat shalat setiap harinya.
Selang beberap menit ia keluar dengan tas jijing yang berukuran tidak terlalu besar yang berisi beberapa pakaian, dan dompet yang hanya berisi beberapa lembar yuan.
Saat ia akan melangkah pergi, ia menengok ke belakang, di lihatnya rumah dengan klasik terbuat dari kayu dengan lampion merah mengantung di atap teras dan pagar teras berwarna merah selaras dengan lampion-lampion diatasnya dan dinding yang berwarna putih.
Yang menjadi perhatiannya bukan rumah itu, namun seorang gadis cantik yang berambut panjang tergerai berwajah oriental yang berdiri di ambang pintu yang berukiran khas Cina.
Tetesan air bening keluar dari mata sipitnya kemudian ia berlari kearah pelukan pemuda itu. Wajahnya menghatam dada bidang pemuda itu dan isakan tangis tumpah, dan kini tak hanya dari gadis itu namun dari kedua mata pemuda sipitnya. Tas yang tadinya di jijingnya terlepas dari gengamannya, beralih memeluk gadis kecil itu.
''K..kakak...ma..u kemana?" tanya gadis itu disela isak tangisnya.
Pemuda itu tak menjawab dia memejamkan mata merasakan dadanya yang sesak seperti tertusuk, menatap gadis dalam pelukannya menagis pilu.
''Kak...ak mau ninggalin (nama kamu)?" lanjut nama kamu.
''Kak tidak ingin meninggalkan (nama kamu), tapi kakak harus pergi." kata pemuda itu dengan berat melepas pelukannya dan begitu juga dengan (nama kamu).
Kini kedua mata sembab itu mereka saling menatap
''Kak, (nama kamu) mau ikut.'' pinta (nama kamu) dengan wajah memelas.
Kakak (nama kamu) mengelengkan kepalanya.
''Trus yang jaga ayah siapa?"
Tanya kakak (nama kamu) dengan senyuman yang terasa dipaksakan. (Nama kamu) terdiam, ia sadar dia juga tak bisa meninggalkan ayahnya sendirian di rumah berlatai dua, yang cukup luas ini, air mata mulai menetes kembali.
Pemuda itu mengecup lebut dahi dan membelai rambut indah adik tersayangnya. Kemudian menghapus air mata yang turun lembut ke pipi dan berusaha kembali tersenyum.
''Jangan nangis, kakak suatu saat nanti akan kembali. Sampai jumpa (nam), bukan selamat tinggal.'' dan mulai melangkah pergi.
(Nama kamu) hanya dapat melihat kepergiannya dan tersungkur di tanah, air mata turun sederas hujan yang tiba-tiba hadir begitu saja, seolah mengerti kesedian kakak adik itu. (Nama kamu) hanya dapat menatap punggung kakaknya yang semakin jauh dan hilang dari pandangannya, dengan hati tercabik dan tersayat ia bembiarkan hujan mengguyur tubuhnya yang menggigil kedinginan.
Catatan Kaki 👞👠
♡Musim Dingin di mulai Bulan Desember-Maret.
♡Azan merupakan panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu masuknya salat fardu.
♡Siheyuan merupakan Rumah Tradisional China dengan desain dalam sebuah lahan tertutup dengan banyak bangunan di dalamnya. http://furnizing.com/article/rumah-tradisional-di-china
♡Wudhu salah satu cara bersuci umat islam.
♡Yuan Mata uang China.
==============================
Hai Readers...
Aduh awal-awal udah disabut yang sedih-sedih aja. Sebelumnya aku mau ngucapkan terimakasih buat @Meita Lulut Widyastuti yang super baik karena mau ngeditin sampul ini buat aku, sukaaa...💖💖💖 Soalnya bagus banget dan pas buat gambarin cerita gambar ceweknya di wajah ga keliatan, biar kalian bisa bayain kalo itu wajah kalian karena tokoh utamanya adalah kalian...
Oke sekarang balik ke cerita. Buat yang pernah baca pasti tau kalau cerita ini pernah ku publis, tapi aku hapus gara2 banyak kesalahan Inshaallah bakal aku perbaiki di sini dan buat update yang lama juga kok... Oke segitu aja kok biar ga pada bosen😋
Gak sabar...? Next...
Tolong berikan ngevote dan kemetar ya....:-)
ČTEŠ
Coboy Junior # CJR
TeenfikceMasih ingat tanggal 23 Febuari 2014 ketika resmi Bastian ninggalin gue, Aldi, Bang Kiki. Sedih kehilangan pasti, dia gak hanya personil Coboy Junior tapi juga temen, sahabat, bahkan seperti saudara buat kita. Gue yakin Comate dan B'starz juga kehila...
