Anak laki laki itu terlihat sibuk dengan aktivitas mengambarnya, masih menggunakan seragam sekolah dasar, kakinya terlihat terangkat diatas bangku taman yang panjang. Untuk tugas sekolah kali ini, dia sedang membuat sebuah robot transformer.
Ya, setidaknya gambaran itu berdasar imajinasinya.
Taman bermain memang selalu menjadi tujuannya setiap kali dia menunggu ibunya pulang, menjemputnya di tengah istirahat makan siang di kantor. Anak itu tidak pernah mempermasalahkan, toh jiwa kanak kanaknya justru lebih senang dengan lingkungan diluar rumah.
Lengannya perlahan melepas krayon berwarna abu miliknya, merasa terusik dengan suara gemerisik di balik semak semak yang berada di belakangnya. Namun bukan itu, suara sesenggukan dari balik semak itulah yang membuatnya kebingungan.
Tapi ayahnya pernah bilang dia tidak boleh mendekati hal yang mencurigakan.
Dengan tungkai panjangnya, anak laki laki itu melompat turun dari bangku taman sambil berpose layaknya superhero kala menyentuh tanah, dimana sulit dipungkiri bahwa anak seusianya lebih menyimpan rasa penasaran berlebih akan hal hal di sekitarnya.
Entah apa yang ada di benaknya. Mungkin saat ini anak itu sedang membayangkan dibalik sana dia bisa menemukan spiderman yang sedang menangis karena lututnya tergores atau apalah.
Sebelah lengannya terlihat mengangkat tempat pensil yang terbuat dari aluminium, berniat langsung memukul jika dia menemukan hewan berbahaya nantinya, tanpa pernah berfikir kalau bukannya hewan itu yang kesakitan, yang ada tempat pensil hadiahnya itu yang penyok.
Anak itu hanya bisa terdiam di posisinya kala dia ternyata menemukan seorang perempuan berbalutkan seragam sekolah dasar, sama sepertinya, sedang berjongkok sembari menangis dengan suara tercekat.
"Kenapa menangis?" Tanya anak laki laki itu, mengerutkan kening layaknya orang dewasa dalam balutan seragam sekolah dasar.
Tidak mendapat jawaban, dia lantas ikut berjongkok sembari memiringkan kepalanya untuk melihat wajah perempuan di hadapannya itu.
Dari manik mata coklatnya, dia bisa melihat seorang di hadapannya itu sedang meremas bagian atas seragamnya, wajah samar itu terlihat memerah karena menangis, sekaligus terlihat kesakitan sambil memegangi benda tabung berwana putih.
Padahal dia sering mendengar anak perempuan di sekoahnya menangis, tapi mendengar suara senggukan yang disertai tarikan nafas yang terdengar sulit itu membuatnya ikutt merasakan ngilu.
Anak laki laki itu seketika menolehkan pandangannya ke berbagai arah, mungkin perempuan di hadapannya ini bersama teman, meski yang da lihat hanya semak semak.
"Sama siapa ke sini?" Tanyanya lagi sembari kebingungan, tidak tahu harus mengucapkan apa.
Dia bingung, tidak bisa menenangkan anak yang sedang menangis layaknya ibundanya.
"Naya sendiri. Tunggu Ayah. Malu. Nilai Naya semua jelek. Temen Naya ejek bodoh." Balasan dari anak perempuan itu terdengar tidak jelas, terbata bata sembari matanya terlihat berkerut dan terpejam, seakan tubuh kecilnya kehilangan nafas setiap kali mengucapkan sebuah kata.
Coba ibunya ada di sini, anak itu pasti akan berhenti menangis.
Anak laki laki itu baru saja akan berucap kala bibirnya kembali terkatup, pupil matanya melebar ketika melihat seorang di hadapannya itu semakin kesulitan bernafas, lalu menyemprotkan sesuatu ke dalam mulutnya diiringi cengkraman pada seragam yang semakin menguat, membuatnya tanpa sadar ikut meringis dan meremas kotak pensilnya.
Sedang apa dia?
Apa perempuan di hadapannya itu baru saja menyemprotkan parfum?
Biasanya sih dia selalu disemprotkan benda berbau menyengat itu oleh ibunya, membuat hidungnya perih. Tidak mengerti bagaimana rasanya menyemprotkan benda itu ke dalam mulutnya.
"Sakit ah, semprot semprot parfum ke mulut gitu." Katanya, nyaris kelewat polos.
"Ng-gak." Gadis di hadapannya menggeleng samar, perlahan melepaskan lengannya dan membiarkannya terjatuh di tanah meski nafasnya masih terdengar hanya satu dua.
Masa sih, sepertinya dia akan mencobanya di rumah sehabis ini.
"Mau membantuku menggambar?" Anak laki laki itu mencoba mengalihkan perhatian, mencoba menghibur seorang di depannya meski dia tidak yakin anak itu menyukai trasformer.
Perempuan kan suka barbie.
Sembari berdiri tegap, anak laki laki itu mengulurkan lengan kanannya kala hanya mendapatkan respon berupa tatapan mata dari kedua bola mata besar yang sembab itu, membuatnya teringat akan mata anime yang dibuat teman temannya.
"Ayo."
Ketika kemudian lengan yang terasa kecil datang menyambut uluran tangannya, anak laki laki itu seketika tersenyum lebar lalu menuntunnya.
ESTÁS LEYENDO
Naya's Bear
Novela JuvenilSaat melihat setiap origami berbentuk beruang yang terselip di kolong mejanya setiap hari, Alvaro bukannya tidak tahu bahwa itu berasal dari Naya. Hanya saja, waktu yang membuatnya tidak ingin berurusan lagi dengan si pemilik wajah mungil yang selal...
