First school

20 1 0
                                        



Disaat semua temanku sudah menginjakkan kakinya di sekolah negri, aku pun hanya bisa tersenyum. Aku tidak diterima satu sekolah negeri manapun di kota ini. Menyedihkan bukan ?. Takada yang special dari diriku sekarang.

Kuseduh mie instan di buihnya air panas, kuaduk-aduk berharap akan cepat matang. Nihil, kesialan datang lagi, listrikku mati mengakibatkan kompor yang berenergikan listrik ini meredup seketika. Kubopoh panci di tanganku dan meletakkannya di meja.

Inikah nasibku ? Sekolah negeri yang ku capai di JHS tidak membuahkan hasil di SHS. Apa yang akan di pikirkan kedua orang tuaku ketika mereka menyadari bahwa aku tidak mendapatkan sebuat sekolah negeri? Yang kudengar, daddy akan menempatkan aku di salahsatu asrama khusus wanita, jika aku tidak masuk negeri. Dan opsi lain dia akan memasukkan aku di sekolah murahan yang rata-rata terdapat anak yang malas bersekolah dan hanya menginginkan sebuah status 'LULUS'. Aku pun mulai panik dengan seluruh pikiranku ini. Apakah aku harus test? Secarik kertas pendaftaran di tanganku ini sangat menggiurkan. Fasilitas yang banyak, sekolah mahal, yang terpenting ini adalah sekolah penjurusan. Akupun mulai berfikir. Apakah aku cocok bersekolah di sini? Di kota New Jersey dengan fasilitas setara dengan SHS unggulan di NY. Apakah aku bisa?

"Natt?"
"Yas mam?"
"Gimana hasilnya?" Bomb! Sebuah pertanyaan ini yang sangat aku hindari sejak kompor itu mati. "Ehmm mam listrik mati" kutuangkan sedikit air digelas dan langsung meneguknya. "Sudah nyala Natt, gimana hasilnya? Dapet?" Kuraut wajah pura-puraku ini sedikit muka sedih, kuhamburkan pelukan ke sang ibu. Takut, aku sangat takut. Apa yang akan terjadi setelah ini?

---
Kumpul keluarga adalah rutinitas keluargaku di setiap hari minggu, mungkin hanya sekedar menonton acara tv kesukaan kami atau hanya bergurau. Sunggung kebiasaan yang sangat aneh untukku. "Natt" sadar daddy membuatku tegang. Inilah saatnya natt, kamu harus kuat menjelaskannya.
"Mama sudah cerita, katanya kamu tidak dapat sekolah negeri ya?" Dengan sedikit santai daddy bertanya. Apakah tidak salah? Dia hanya bertanya seperti itu dan tidak memarahiku? Seperti yang sudah-sudah emosinya seperti tangga, semakin lama pasti semakin memuncak. Kuangkulkan sedikit kepalaku kebawah. jujur, aku sangat tidak sanggup untuk mendengar lebih lanjut lagi. "Sudah diduga" daddy memasukkan pizza kembali kedalam mututnya dan meluruskan kaki di depan ruang santai ini. "Hah?" Aku tidak habis pikir dengannya, jangan menjawab natt, kamu akan kena. Sabar terlebih dahulu akan mencairkan suasana. Kuedarkan pandanganku ke dapur yang dimana tak ada orang disana. Dengan sangat emosi ku julurkan lidahku untuk meluapkan emosi ini. "Iyaa, dengan usaha yang kurang, belajar dengan sistem kebut semalam seperti itu takkan membuatmu masuk tes untuk mendapatkan negeri. Lihatlah, berapa teman satu squad kamu itu yang masuk negeri?" Pernyataan dan menjelasan yang cukup menusuk yaa dad! Thankyou so much. Seperti daddy bilang, aku pun sudah menduganya.
"Hey, kamu belum menjawab daddy" panas. Ruangan ini sudah dilengkapi 2 pendingin ruangan tapi tetap saja panas, kedua adikku hanya melirik kearahku dan memakan pizza itu kembali. Ketegangan disini begitu terasa. Mama hanya mendengus dan mencoba mengalihkan perhatiannya dan berusaha untuk tidak ikut campur dengan permasalahan sekolah karena ia sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Kutarik nafas dalam-dalam dan mencoba merileksasikan dadaku yang sudah tidak tahan dengan emosi yang menggebu-gebu ini. "Ehmmm, Diana, Chloe, dan Isha gak dapet-- TAPI LAURA MASUK NEGERI DAD" dengan sedikit penekanan ku tambahkan untuk menghilangkan poin utama daddy untuk memarahiku. "Itu karena Laura cukup untuk belajar. Waktu kamu sama diana dan yang lain shopping di mall, dimana laura?" "Dia izin tidak ikut karena mau les tambahan--" aku tahu ini lah saatnya untuk sebuah petasan mercon datang dengam secara tibatiba dan pada akhirnya petasan itu akan kembali mati dan hilang pada zamannya.

--
Kutenteng semua kantong belanjaku dan menaruhnya di bagasi taxi dan masuk dengan sedikit insiden terpentuk oleh body taxi. Diana berada di sebelah supir dan Isha disebelahku yang sedang tertawa terpingkal-pingkal.
"Natt, gimana reaksi dari Mr. Vibs?" Tanya isha dengan santai menggunakan nama belakangku yang sangat menjijikan itu. "Ohh, dad. Biasa, you know what i mean?" Semuanya pun tertawa kembali. Pikiranku kembali bingung dengan ucapan dad kemarin "Goldeah IT School, sekolah itu sangat cocok untukmu natt, penjurusan di bidang art sangat menjanjikan. Daddy dengar disitu link untuk ke perguruan negri sangat bagus. Kamu tidak akan menyesal. Percayalah!" Kuedarkan pandanganku ke ruko-ruko di pinggir jalan tapi pandanganku tidak terlalu fokus terhadap itu melainkan sebuah tawaran daddy. Apakah ini baik? Apa ini sudah ditakdirkan? Aku takut, aku tidak mau seperti anak culun yang tinggal di pinggir kota dengan gaya yang kampungan. Mengganggap semua yang berada di NY adalah sebuah kebanggaan. Aku takut akan menjadi anak yang norak ketika mendatangi New york. Aku takut apakah aku akan berteman dengan cowok dengan wajah penuh jerawat dan tidak mempunyai keahlian samasekali. Aku takut akan berteman dengan cowok yang nerd dan justru itu akan menjadi pacarku. Sudah natt, itu hanya ada di pikiranmu saja. "Aku sudah daftar di Goldeah IT School" kedua temanku langsung menatapku dengan tajam. Apakah ada yang salah dengan perkataanku ini? "Shit! Itu sekolah mahal!"
"Katanya bagus lho Natt"
"Itu di daerahnya dibanggain, katanya udah International"

My FirstStories to obsess over. Discover now