Bagian 1

13.8K 456 8
                                        




"Sih yang bentar lagi jadi tante!" Goda Sofie kepada sahabatnya, Tari. "Apaan sih, dari dulu aku juga udah jadi tante kali" seru gadis itu.

Tari, sahabat sedari SMP Sofie. Kedua gadis itu tidak dapat dipisahkan, mulai dari kelas 8 semester 1 sampai akhir dari kelas 9 selalu saja sebangku. Ya, walaupun bapak walikelas mereka sudah ratusan bahkan ribuan kali mengubah tempat duduk mereka berdua tapi ya bersatu juga nantinya. SMA pun masih bersama, sama-sama lulus di salah satu Sekolah Menengah Atas negeri ternama di kota mereka. Awalnya ketika pembagian kelas Sofie dan Tari tidak sekelas, Sofie X MIA 4 sementara Tari X MIA 1 , namun Tari tidak mau dan ia pun berusaha mencari-cari orang di kelas X MIA 4 untuk pindah ke X MIA 1 dan ada, kembali sekelas juga sebangku. Intinya, mereka adalah sahabat dari SMP sampai sekarang—umur 21 tahun.

Dan pada hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Mas Arkan—abang dari Tari yang juga sangat dekat dengan Sofie sedari SMP. Laki-laki itu akan segera menjadi seorang suami bagi istrinya, hari ini keluarga Fia akan pergi ke rumah seorang wanita yang akan segera menjadi istri Arkan, ia akan melamar perempuan itu.

"Aku gak suka sama calon mas Arkan!" ucap Tari ketus, dengan kerutan-kerutan kesal di dahinya. "Kenapa? Kan cantik sih.." Sofie tersenyum sambil menuangkan sirup ke gelas-gelas kaca. "Kepalamu, cantik noh cantik! Namanya aja yang Indah orangnya enggak!" Tari menyerahkan hpnya, menunjukkan calon istri dari  Galih. Sofie mengambil handphone itu dan menatap layarnya dengan cermat. Tari benar, calon istri Arkan tidak cantik tetapi juga tidak jelek, biasa-biasa saja, sangat beda dengan mantan-mantan Arkan sebelumnya.

"Lah, kusangka kakak kemarin itu..kak Valen" ujar Sofie pelan, takut terdengar orang-orang dapur. "Kan gak cantik, cantikan kau lagi Sof! Mendingan kau aja yang jadi calon mas" Tari menggerutu sebal, sementara Sofie tertawa besar "Is kan kami deketnya cuman hubungan mas sama adek sih Tar..temen curhat juga"

"Kan udah aku tawarin hari itu mau aku deketin atau gak sama mas Arkan, kaunya gak mau. Padahal kau sama mas Arkan sama-sama kosong hari itu" Tari merapikan kue-kue di piring, mulutnya monyong-monyong merepeti Sofie.

"Segan lah Tar.."

"Apa yang segan, kenal udah, sering bicara, tinggal bangun chemistry aja kok. Kau cantik, manis, Mas Arkan ganteng! Ah cocok banget kalau dampingan di itu nanti, apa sih namanya" Sofie hanya tersenyum. Sebenarnya bukannya ia tidak mau, ia mau tentunya. Sudah kenal dari SMP membuat Sofie dan Arkan tentunya tidak canggung dan kedekatan itu malah membuat Sofie jatuh hati kepada Arkan berkembang. Semenjak kejadian itu..

"TRUTH or DARE!! TRUTH or DARE!!" Seru Tari, Sofie dan beberapa teman kuliah Arkan.

"DARE aja deh"

"Yah..." seru semua orang, padahal mereka mengharapkan Arkan memilih TRUTH agar rahasia Arkan yang selama ini selalu ditutup rapatnya bisa terbongkar. Yaitu apa sebenarnya yang menyebabkan hubungan Valen dan Arkan bisa berakhir. Walaupun Arkan hanya berkata kalau semua itu hanya karena ia bosan dengan Valen, tapi siapa yang akan percaya setelah melihat Valen datang malam-malam ke rumah Arkan menangis-nangis dengan membawa pisau di tangannya, arah pisau itu menuju perutnya. Tentu saja tidak akan yang percaya.

"Mas! Kok dare-dare terus sih?!" gerutu Tari, ia juga mau tahu kebenaran putusnya Valen dan Arkan.

"Suka mas dong!"

"Keluar lu kan, gausah ikutan main ini" Ujar Rio, salah satu teman kampusnya. Tangannya sibuk mendorong tubuh Arkan agar menjauh dari lingkaran yang mereka buat.

"Mana mau awak, apa nih Dare nya? Kasih dong, gua dengan senang hati menerimanya, apa aja" Tari mengerutkan alisnya, kesal dengan gaya sombong Arkan. "Buat baper 1 orang di antara kami, harus dicium terus kasih kata-kata, siapa aja! Teserah mau Kak Gina, Kak Eci siapa aja teserah. Jangan aku" ujar Tari tersenyum licik, ia tahu bahwa mas-nya akan keberatan  mencium pipi orang yang tidak memiliki hubungan special dengannya.

"Oke." Tari tertegun Arkan menerima tantangannya dengan berani, sekaligus penasaran siapa yang akan pria itu cium.

Arkan memandang di sekitarnya, di tatapnya satu persatu perempuan di lingkaran yang mereka bentuk. Gina, perempuan itu menatap dirinya sambil tersenyum, Apakah ia berharap akan dicium? Sementara Eci menunduk komat-kamit, entah berdoa mendapat ciuman atau sebaliknya dan Sofie, gadis itu malah sibuk be-selfie lalu tertawa kecil melihat hasil fotonya.

Arkan mendekati gadis itu, mata semua orang tertuju pada gerak badan Arkan. Sofie sibuk be-selfie ria padahal yang lainnya sudah menggigit jari karena gemas, dan Tari, ia merekam adegan yang akan bersejarah di dalam handphonenya.

Cup!

Arkan mencium pipi gadis itu, Sofie menoleh kaget, mulutnya setengah terbuka,bola matanya melotot seakan hendak keluar.

"I love you Sofie"

Dan kenangan itu masih teringat jelas dalam otaknya, ia diam-diam menatap foto tak sengaja ketika pria itu mencium pipinya di kamar Tari. Sofie tersenyum samar, sudahlah itu hanya perasaan yang muncul sementara bukan perasaan yang sesungguhnya.

"Ayo Tari! Berangkat kita" teriak Layla—ibu dari Arkan dan Tari. "Eh nak Sofie udah tiba dari tadi ya? Cantiknya..kamu berisi ya sekarang, bagus badan kamu!" Sofie tersenyum malu "Hehe iya tante, akhir-akhir ini Sofie sering nge-gym" Layla mengangguk-angguk sambil menatap Sofie kagum.

"Ma, yauda gak gitu juga ngeliatinnya!" Tari menyikut pelan lengan ibunya, menggoda si ibu. "Habisnya enak gitu diliat, gak kayak kamu kurus!" Layla menusuk perut Layla, lalu wanita itu pergi keluar kamar, Tari menatap ibunya tak percaya, "Ih mama!" serunya  yang disusul tawa dari Layla dan Sofie.

**

Selesai juga acara pelamaran Arkan dan Indah hari ini. Sofie dan tari duduk di ayunan sambil menyantap minuman dan makanan mereka. Sementara Arkan dan Indah, pasangan yang baru saja melakukan pelamaran merapat ke kerabat-kerabat yang datang, untuk menerima wejangan berupa nasihat-nasihat.

"Lihat tuh, gak cocok kan? ih gak suka aku" Tari menekan-nekan piringnya sebal, Sofie menatapnya heran "Apasih yang buat kamu gak suka sama kakak itu, dia kan baik sih"

"Gini ya, aku tuh tipe orang yang nilai kebaikan atau tingkah laku orang lewat first impersion-nya. Dulu pas kakak itu ketemu aku, gak ada disenyumin atau di ajak bicara, kenalan atau apa gitu, padahal kakak itu jelas-jelas tau kalau aku adek mas Arkan. Apa gak sebel?"

"Tapi kan kemarin aku lihat kalian foto bareng"

"Ya..itu cuman karena aku mau ngehargai dia, apalagi ada mas sama mama, bisa kenak rap aku kalau gak sopan"

"Aku tuh diantara semua mantan mas Arkan, cuman sama kak Valen yang paling aku deket, sayangnya mereka putus—" Sofie mengaduk minumannya sambil tersenyum kecut.

"Apasih yang buat putus? Tapi serem juga pas tau kalau kak Valen mau nusuk perutnya. Ah maunya aku ada di rumah" sesal Tari karena melewatkan hal yang menegangkan, saat itu memang ia dan ibu serta ayahnya sedang keluar kota, dan hanya Arkan lah yang berada di rumah.

"Sof.."

"Ya?"

"Kau tau gak kenapa mas Arkan bisa mutusin kak Valen?" Sofie terdiam, lalu ia menggeleng pelan. "Enggak" namun faktanya ia tahu semuanya apa yang selama ini Arkan berusaha tutup-tutupi.

Hola!

Hai! semuanya!! i'm so sorry buat para readers yang sebelumnya udah pernah baca cerita aku yang berjudul I FIND U, dan tiba-tiba aku hentikan gitu aja dan buat kalau itu udah completed padahal ngegantung gitu:( aku sungguh minta maaf kepadamu wahai readers. Entah kenapa mood aku hilang begitu saja karena menyadari gaya penulisanku tidak bagus:((

Jadiiiii, sebagai perminta maafnya, aku buat cerita baru ini yang udah aku jamin pasti bakal the end, gak ngegantung lagi hihihi. InshaAllah, aku post cerita se-sering mungkin.

So, jangan lupa vote-nya dan follow aku yah!xoxo

Beautiful AccidentStories to obsess over. Discover now