Di siang yang panas itu Aku dan Dina, juga dua kelompok praktek lainnya yaitu Hani-Erik dan Oliver-Olivia sedang melakukan praktek bedah pada hewan. Tak heran, kami semua kuliah di bidang kedokteran, jadi sebelum nanti membedah manusia kami harus latihan membedah hewan terlebih dahulu. Kami melakukan praktek di Lab yang sudah sangat usang, kotor dan terletak di pojokan kampus. Rencananya kampus akan meruntuhkannya bulan depan.
Saat itu praktek telah selesai, dosen pembimbing menyuruh kami untuk membersihkan alat-alat praktek dan menguburkan kelinci yang menjadi sukarelawan praktek kali ini. Dina sedang merasa kurang enak badan pada saat itu, aku pun terpaksa membersihkan alat-alat praktek sendiri bersama kelompok Hani-Erik sehingga di lab hanya tersisa Dina dan Oliver-Olivia. Aku sedikit heran kepada Oliver-Olivia karena mereka tidak langsung membersihkan alat-alat dan malah duduk santai membicarakan hal yang tidak kumengerti, mereka orang yang cukup aneh pikirku, karena terasa menjauhi pergaulan seakan sudah termakan dunia mereka sendiri. Tapi aku tak banyak pikir, hal terpenting sekarang ialah membersihkan alat, mengubur kelinci lalu segera pulang ke kost-an untuk beristirahat.
Letak tempat untuk membersihkan peralatan praktek dari lab cukup jauh, terhalang oleh kantin yang berada di antara keduanya. 20 menit berlalu, peralatan praktek telah bersih dan kelinci telah aku kuburkan. Agak lama mungkin, ini karena tekstur tanah untuk mengubur kelinci cukup keras. Aku tak sadar dua orang yang juga membersihkan peralatan praktek, Hani dan Erik, telah menghilang dari tempat ini entah sejak kapan. Aku pikir mereka telah kembali ke lab terlebih dahulu, tapi di lab hanya ada Dina seorang diri, dua sosok orang aneh itu juga telah menghilang. Kuperhatikan dari pintu lab Dina terlihat aneh, tidak bergerak sama sekali dari kursinya, posisi tubuhnya tengkulap di atas meja seperti orang ketiduran. Begitu aku dekati dia,darah mengalir deras dari perutnya, sebuah pisau tergeletak di bawah meja praktek. Hati dan pikiranku terasa kacau, kaget bercampur sedih melihat temanku sudah tak bernyawa dan di saat itu Erik memasuki lab disusul Hani. Hani yang menyadari kondisi Dina lantas berteriak kaget, Erik pun menunjukan ekspresi yang sama namun tidak berteriak seperti Hani. Mereka berdua hendak mendekati jasad Dina, tetapi aku mencegah mereka mendekatinya, kuperintahkan mereka menunggu di luar Lab karena aku curiga salah satu dari merekalah yang telah membunuh Dina. Aku pun lantas menyuruh Hani untuk menelefon ambulans dan polisi.
Beberapa menit kemudian polisi datang dan langsung melakukan penyelidikan di sekitar TKP. Warga kampus menjadi gempar karena peristiwa ini, konser yang diselenggarakan fakultas seni pun terpaksa dihentikan. Aku tidak memikirkan hal itu, yang kupikirkan ialah siapa yang telah membunuh temanku Dina. Aku mencurigai Erik, Hani, serta si aneh Oliver dan Olivia yang sejak peristiwa ini hilang entah kemana. Polisi yang telah menyelidiki tempat kejadian kemudian menginterogasi aku, Hani, dan Erik. Aku mencatat semua yang mereka katakan dalam interogasi baik Erik maupun Hani.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Polisi telah selesai menginterogasi, dan mereka menemukan sidik jari Erik dari pisau yang merupakan senjata pembunuhan. Erik berdalih bahwa sidik jarinya itu tertempel ketika ia membersihkan peralatan praktek, tapi polisi kurang mempercayai hal itu dan akan membawa Erik ke kantor untuk investigasi lebih lanjut. Aku merasa sedih karena teman dekatku telah dibunuh, dia telah mengajari ku banyak hal terutama dalam hal penguasaan bahasa jepang, aku sangat terbantu olehnya mengingat bulan depan aku harus berangkat ke Jepang untuk pertukaran pelajar. Tapi aku harus menahan rasa sedihku dan mencari tahu siapa yang telah membunuh temanku ini. Aku berfikir sejenak, memikirkan pernyataan dari teman temanku ini. Erik mengatakan bahwa ia membersihkan peralatan praktek tak kurang dari 5 menit, kemudian ia pergi menonton Konser di Fakultas Seni. Hani mengatakan bahwa ia pergi ke kantin setelah membersihkan peralatan, di sana ia melihat Oliver dan Olivia keluar dari pintu lab.