Prologue

11.2K 1.1K 206
                                        

"Appa,"

"Hm?"

"Aku tidak suka pelajaran bahasa Inggris."

Chanyeol menghentikan tangan di kancing kedua putranya. "Kenapa, jagoan?"

"Guru di sekolahku menyalahkan tugas bahasa inggrisku, padahal aku tahu punyaku benar. Aku sudah mengeceknya di kamus bahasa inggris."

Chanyeol tersenyum melihat wajah sebal putranya. "Apa yang sudah kau cek?" Tanyanya dengan sabar, kembali meraih kancing ketiga untuk diselipkan ke dalam lubang pasangannya.

"Aku menggunakan kata home dan guruku bilang lebih tepat jawabannya house. Aku sudah mengecek di kamus dan artinya sama. Apa bedanya house dan home, appa? Aku dapat nilai setengah gara-gara itu."

Chanyeol terdiam untuk sesaat sebelum memandang wajah putranya. Ia sebetulnya bisa menjawab sekarang juga tapi sekilas memori di otaknya tak bisa menghentikannya untuk melihat kembali masa itu. "Kau tahu rumah Joon di sebelah?"

Putranya mengangguk dengan cepat. "Iya, rumah Joon bagus sekali seperti istana."

"Dan kau tahu bedanya dengan rumah kita?"

Chanyeol menunggu putranya bicara karena dia tahu anak laki-lakinya itu sangat ingin memiliki rumah yang ada kolam renang dan banyak mainan seperti rumah Joon, teman sebaya putranya.

"Joon memiliki kolam renang di rumahnya. Ruang main sebesar ruang tamu kita, kolam ikan yang luas dan juga taman bermainnya sendiri. Kita tidak punya itu."

"Betul." Chanyeol menyampirkan jas hitam mini di pundak putranya. "Itu definisi house, jagoan. Dan seandainya kau disuruh memilih tinggal selama beberapa tahun, kau akan memilih rumah Joon dengan kolam renang dan ruang mainan tanpa melihat ayah dan ibu atau rumah ini dengan appa dan eomma yang setiap malam memelukmu?"

Putranya diam sebentar, tampak bimbang dengan pilihan yang dikatakan ayahnya. Dia mencintai kolam renang dan mainan. "Kalau aku tidak bisa melihat appa dan eomma untuk apa aku pulang ke rumah Joon? Aku lebih suka bersamamu appa."

Chanyeol menyentuh ujung hidung putranya sambil tersenyum, lega dengan jawaban yang dilontarkan anak laki-lakinya. "Itulah definisi home, jagoan. Rumahmu yang sebenarnya."

Putranya mengangguk meskipun tak benar-benar mengerti ayahnya, jadi ia segera menambahkan, "Kalau ayah, di mana home untuk ayah?"

"Home?"

Chanyeol terdiam, kembali mengingat masa itu.

__oOo__

Chanyeol tidak memiliki rumah.

Apa itu rumah tidak pernah ada dalam ingatan Chanyeol, ya tentu, karena dia tidak mau mengingat apapun soal rumah. Sebulan lalu ayahnya mengirimkan surat cerai ke alamat rumahnya dan membuat ibunya berubah sikap. Penantian selama lima tahun itu dibalas dengan surat cerai. Sejujurnya Chanyeol tak begitu mengerti apa makna surat cerai sebelum melihat ibunya mabuk-mabukan setiap malam, memukul Chanyeol hanya karena memecahkan piring atau memaki Chanyeol setiap pagi karena Chanyeol meminta uang saku untuk ke sekolah. Sejak datangnya surat cerai itu, Chanyeol mulai membenci ibunya, apalagi ayahnya. Dan moment yang paling dibenci Chanyeol adalah tiga hari lalu, di mana ia menemukan ibunya melotot dengan leher tergantung kain dari atap, kakinya melayang tanpa pijakan.

Sejak hari itu, Chanyeol kehilangan ayah dan ibunya, apalagi rumah.

Dan di sinilah ia sekarang. Panti asuhan bernama 'White House' yang menjadi rumah baru untuk Chanyeol.

Dolphin TaleWhere stories live. Discover now