Satu

388 56 19
                                        

    

     Aku pun mulai memasukan buku pelajaran kedalam tas biru laut-ku satu per-satu. Kali ini sekolah sudah mulai sepi, biasanya disini banyak sekali anak-anak yang masih nongkrong berbincang tidak jelas. Aku berjalan menyusuri lorong kelas 12 sendirian,aku tidak takut karena sudah terbiasa lewat lorong ini sore hari. Saat sedang berjalan, dari arah kanan seseorang berlari dengan kencang sambil membawa bola basketnya.

     Ia pun menabrak tubuhku yang berbanding jauh dengan tubuhnya sehingga aku terjatuh. Kepalaku sedikit pusing setelah tabrakan tadi. Laki-laki tersebut menjulurkan tanganya padaku,aku pun meraih tangannya dan berusaha bangkit walau kepalaku sedikit pusing. Ia pun bertanya padaku.

"Sorry tadi gue lagi buru-buru, lo gak kenapa-napa kan?" Tanyanya.

 
 "Gue gak kenapa-napa kok,cuman tadi kepala gue agak pusing aja" Jawabku sambil memegangi kepalaku.

"Yakin lo cuman pusing aja? Gue takut lo kenapa-napa nanti lo malah nuntut gue suruh ganti rugi!"

 "Nggak kok, gue permisi dulu ya udah sore" Pamitku sambil tersenyum padanya. Tak disangka ia malah menahan tangan gue lalu menarik gue menuju ke parkiran sekolah.

 "Kita mau ngapain? Eh,lo mau bawa gue kemana? Gue mending diculik sama hantu daripada sama lo" Bentakku sambil berusaha melepaskan genggamannya.

"Iya gue emang mau nyulik lo kepelaminan! Eh, ya nggak lah gue mau nganterin lo pulang sebagai permintaan maaf gue,lagian juga udah sore anak gadis gaboleh pulang sendirian" Ledeknya. Ia pun menyuruhku naik keatas motor ninjanya. Aku pun mengangguk pasrah lalu naik keatas motornya.

   Disepanjang perjalanan kami hanya terdiam. Tidak ada satupun dari kami yang berbicara. Wajar,kami tidak saling mengenal apalagi dia yang kenal padaku. Satu yang aku tau, namanya Raka Farreldiansyah  ketua basket dari kelas 12 IPS 5. Bagaimana kalau dia tau aku anak IPA? Mungkin dia langsung jijik kali ya.

  
"Stop stop! Itu rumah gue" Aku pun turun dari motornya sambil mengucapkan terimakasih. Aku tahu sepertinya ia akan menanyakan sesuatu padaku. Makanya, aku langsung buru-buru masuk ke dalam rumah sebelum ia bertanya.

     Sesampainya dirumah, mamah langsung menyuruhku meminun jus jambu yang dibuatnya. Setelah meminum jus, mamah bertanya padaku.

"Tadi siapa Vika? Keliatannya udah akrab banget nak?" Tanya mamah sambil tersenyum.

    Aku pun hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum pada beliau.

  
"Bukan siapa-siapa mah"



***




    Cahaya mentari pagi menyinari ruangan kamarku. Pantulan cahaya-nya mengenai mataku yang langsung membuatku terpaksa membuka mataku lebar-lebar. Aku pun langsung bergegas menuju kamar mandi dan sarapan kerena pasti Kak Zen sudah menunggu dibawah.

      Setelah selesai memakai seragam dan memakai parfum dan bedak, aku pun langsung turun kebawah untuk sarapan. Mamah dan Papah pasti sudah berangkat ke kantor. Dan Kak Zen, seperti biasa dia pasti sedang sarapan dibawah.

"Padi de, buruan sarapan kita berangkat bentar lagi"

"Mau ngapain?" Tanyaku sambil mengoleskan selai kacang pada roti.

"Takut macet kalau siang, kakak lagi gak mau dihukum" jawabnya lalu beranjak pergi menuju garasi.

    Aku langsung melahap roti yang ada ditanganku dan berjalan menuju garasi. Kak Zen sudah ada didalam mobil, aku menyusul masuk kedalam. Didalam mobil Kak Zen terus bercerita banyak soal kekasihnya. Mulai dari awal mereka kenalan sampai akhirnya mereka pacaran. Padahal aku tak meminta, tapi ya sudahlah daripada aku mati kebosananan disini.

Famoush Where stories live. Discover now