Adera, Cantika, dan Lina sedang duduk disebelah batu nisan dan menaburi bunga yang mereka beli diperapatan jalan. Mereka sekarang menggunakan baju setelah hitam.
"Hey Reva, apa kabar?"tanya Lina sambil memegang batu nisan yang bertulisan Reva Mentari.
"Aku kangen loh sama kamu."kata Adera sendu dengan mata tertuju kebatu nisan tersebut.
"Kapan kita hangout bareng? Kita mau ngajak kamu makan something. Ada yang kurang kalau makan itu."kata Cantika dengan tangisan yang tak bisa dia bendung lagi (READ: SOMETHING > BATAGOR).
"Dulu Gaje ada 4 orang, sekarang hilang satu."kata Lina dengan mengelap air matanya yang sejak tadi menetes.
"Lihat Rev, temen lo mukanya jelek semua. Udah gede nangis."kata Adera diselingin senyum.
"Kampret lo!"sahut Cantika.
"Gue pitek aja kali ya Rev kepala si Adera, masa gue dibilang cengeng."kata Lina
"Rev, lo kok doyan sih temenan sama si Lina yang sukanya pitek orang."kata Adera.
"Jangan dengerin Rev, Adera gila gara-gara kemaren lihat Galang sama mantan pacarnya."kata Lina
"Kampret jangan dibahas."sahut Adera.
Cantika dan Lina tertawa saat melihat ekspresi Adera yang benar-benar semerawut.
"Jangan ketawa Rev.. Gue tau kalo lo sekarag ketawa, tapi please hentiin ketawa lo, gue merasa terzolimin"kata Adera sok dramatis
"Kebanyakan nonton drama ni bocah."kata Cantika.
Mereka disitu hanya tertawa saat Adera menceritakan yang lucu-lucu membuat Cantika dan Lina lupa akan tangisannya tadi. Adera memang pintar dalam urusan hal ini. Dan Adera tahu, Reva tidak akan suka kalau teman-temannya menangis akibatnya.
Angin sore mulai terasa disekujur tubuh mereka. Senja mulai datang. Mereka segera pamitan dengan Reva yang sudah menghadap Allah duluan. Mereka segera angkat kaki dari makam melati itu. Cantika, Adera, dan Lina menaiki mobil Jazz berwana hitam dan menyusuri kota Jakarta dengan senja telah tiba.
***
"Mamah Adera berangkat."kata Adera berlari dengan roti yang dia pegang ditangan kanannya dan tak luput dia memakan roti itu. Adera melihat mobil Jazz putih didepan gerbang rumahnya, ia segera menghabiskan rotinya dengan rakus. Dan ia mengambil sepatu yang tak jauh darinya, ia membinting sepatu itu sampai kemobil didepan gerbangnya.
"Lama amat."ketus Galang yang besender dimobil jazz warna putih itu.
"Maaf Lang."kata Adera cengegesan.
"Jadi gak salah kalau gue manggil lo siput."sahut Galang segera membukakan pintu kiri untuk Adera. Adera segera masuk dengan cengiran kuda yang ia buat. Setelah itu Galang segera memasuki mobil lewat pintu kanan.
Mobil Jazz putih itu menyusuri kota Jakarta dengan alunan lagu Human nature- are you lonesome tonight love me.
"Eh Galang ganti napa lagunya gak bagus ah buat telinga gue."kata Adera sambil membenahi sepatunya yang belum sempat ia pakai tadi dirumah.
"Lagu apaan? Biasanya lagu yang lo putar galau mulu. Gak ah bikin pagi gue suram aja."ketus Galang.
"Ah dasar rese Galang mah."sahut Adera dengan wajah kesalnya.
Galang hanya tersenyum melihat ekspresi Adera. Dia lucu, cantik, manis, bahkan memilki sifat periang. Galang suka terhadap Adera yang apa adannya.
Adera dan Galang bisa dekat karena pada saat pemakaman Reva. Galang melihat bahwa Adera sempat kabur saat Reva dikubur, Galang awalnya tidak mau menyusul, tetapi Galang pasti merasakan betapa terpukulnya saat melihat sahabat tersayangnya sudah menghadap duluan ke Allah. Galang mengerti perasaan Adera. Dan semakin hari, Adera dan Galang semakin dekat dan itu membuat Galang jatuh cinta terhadap Adera.
YOU ARE READING
ASKA
Teen FictionSebuah cerita klise dimana Adera Linzy memiliki perasaan terhadap Galang Ilal. Dan Galang Ilal juga memiliki perasaan yang sama terhadap Adera Linzy. Tetapi perasaan Adera berubah saat ada murid pindahan bernama Aska Devano. Bagaimana kelanjutan...
