Bagian. 1

168 14 0
                                        

(Tonton videonya biar lebih ngefeel)
.
.

"Abonim!!.. Bertahanlah!.. kumohon bertahanlah!"

Gadis itu berusaha memapah appaku yang sudah sekarat,
Akupun membantunya.

"Aku sudah memanggil ambulans, mereka akan datang sebentar lagi" jelasnya.

Akupun mengangguk, airmata sedari tadi tak kunjung kering dimataku.
Aku takut!, aku takut kehilangan appa. Meskipun dia kerap kali memukulku, memakiku. Tapi dia tetaplah appaku.

Benar saja saat kami baru menuruni satu lantai dari lantai teratas gedung ini, petugas ambulans sudah datang menghampiri kami. Dia membawa appa dengan Tandunya, aku bergegas mengikuti mereka.

Gedung ini terdiri dari lima lantai, tapi terasa sangat lama untuk mencampai lantai dasar. Aku benar-benar khawatir jika appa tak terselamatkan.

"Kau, temani appamu. Aku akan menggurus oppamu" ujar gadis itu, saat kami sudah berada didepan mobil ambulans. Aku hanya membalasnya dengan anggukan, kemudian masuk kedalam ambulans bersama dengan appa.

***********

Aku kembali masuk ketempat itu lagi, tempat dimana seorang anak yang hampir membunuh ayahnya.

Aku melihat pria itu masih terduduk disudut ruangan, dengan tangan yang masih berlumuran darah.
Yang membuatnya berbeda adalah tangisannya yang menyesakkan, aku dapat merasakan bahwa sebenarnya dia menyesal.

Aku bergegas kedapur untuk mengambil sebaskom air, dan handuk bersih.
Aku duduk dihadapannya, membersihkan darah dikedua tangannya. Dia hanya tetap menangis, dan kembali menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Aku mencegahnya, untuk membersihkan wajahnya dari bercak darah yang mengenai wajahnya.

"A-appa" lirihnya yang masih dapat kudengar.

Aku sama sekali tak ingin bicara apapun pada pembunuh ini.

Setelah bersih aku beranjak untuk mengambil pakaiannya.
Dan kembali duduk berhadapan dengannya.

Aku membuka hoodie hitamnya, selanjutnya kaos putihnya. Tapi tangannya mengentikan kegiatanku.

"Aku bisa melakukannya sendiri" dia mengatakannya dengan tersendat-sendat.

Aku menyodorkan pakaiannya. Kemudian berdiri agak jauh darinya, dan membelakanginya.

Saat kurasakan pria itu telah selesai mengganti pakaiannya aku berbalik. Lalu membersihkan tempat kejadian ini, serpihan kaca dari botol soju dan beberapa bercak darah tentunya.

Semua sudah bersih, aku juga sudah menggelar kasur lantai.

Dan kembali aku duduk dihadapan pria ini, tangisnya tak seperti tadi. Hanya tersisa isakan.

Aku mengelus kepalanya, dan menatapnya dalam.

Kejadian ini adalah kejadian yang pernah kualami. Keinginan untuk melenyapkan orang tua kandungku, muak dengan segala apa yang mereka lakukan padaku. Tanpa berfikir mereka terus membuatku terpuruk dan putus asa, tapi aku cukup tau diri untuk tidak benar-benar membunuh mereka.

"Neo Nugu-ya?"

Aku menghentikan pergerakan tanganku yang mengelus kepalanya. Pertanyaannya menarikku kembali kedunia nyata.

"Istirahatlah. Aku akan kerumah sakit" aku beranjak, meninggalkannya.

***************

"Bagaimana?"

"Aku tidak tau, mereka belum selesai memeriksa appa"

"Appamu, akankah dia baik-baik saja?" Gadis itu membuat pertanyaan, yang aku sendiripun tak tahu jawabannya.

"Dia, pasti sangat kecewa atas perlakuan oppamu" lanjutnya.

"Oppa melakukan itu untuk melindungi ku, saat itu appa sedang memukulku karena aku tak memberikan uang padanya. Tanpa aba-aba oppa melayangkan botol itu tepat dikepala appa-"

"Pernahkah kalian ketahui. Wajah bahagia appa kalian saat melihat kalian lahir selamat kedunia?" Potongnya cepat.

Aku tertegun mendengarnya. Aku bahkan tak berfikir tentang itu.

"Sekeji-kejinya appamu, kupastikan dia tidak akan memukulmu sampai mati" lanjutnya.

Tepat dengan selesai kalimatnya, dokterpun keluar.

"Bagaimana keadaan appaku?"

"Lukanya cukup dalam serta pendarahan, dia kekurangan banyak darah dan kami kekurangan stok darah" jelas dokter tersebut.

"Apa golongan darahnya?" Aku menoleh kearah gadis itu.

"A+"

Ah!. Sayang sekali golongan darahku B.
Bagaimana ini?, aku tidak bisa melakukan apapun.

"Ambil darahku"

Ucapan gadis ini lagi-lagi mengejutkanku.

"Appamu, akan baik-baik saja" lanjutnya.

"Baiklah, ikut denganku" balas dokter itu.

Kini tinggal aku dengan keheningan. Aku menatap appa dari balik pintu ini, sebagai anak kandungnya aku tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan nyawanya.

Dan lagi,
Kenapa gadis itu membantuku dengan begitu banyaknya?.
Kami tidak terlalu dekat disekolah. Ya dia memang teman sekelasku, Tapi dia pendiam. Dan penyendiri, Lebih tepatnya tak memiliki teman satupun.

Kenapa?
Jung In Rae, kenapa kau membantuku?

TBC~

A/n :
Harap ketahui, tanda ( ***********) yang banyak itu berarti pergantian sudut pandang atau biasa disebut POV. Untuk part pertama saya tidak akan menjelaskan POV secara detail, Harap maklumi.

See u next chapt 😉

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 24, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

You're EverythingWhere stories live. Discover now