Dia tampan, pintar, populer, dia segalanya bagiku. Tetapi bagiku dia seperti bintang hanya untuk dilihat dari jauh, sangat sulit untuk digapai.
~~~
Bel istirahat adalah adalah salah satu surga di dunia nyata bagi sebagian siswa, salah satu nya aku dan Ninda.
" Woy rin ngelamun aja lo, lagi ngelamun yang jorok ya " ninda yang tiba - tiba datang mengagetkanku dengan wajah super tengilnya itu.
" Anjay lo kaget tau untung gue ga punya riwayat penyakit jantung, otak lo ngeres mulu padahal cewek " balasku sengit sambil menatap ninda yang sedang memasukan perasaan tulis miliknya.
" Aduh Karina Salsabilla Dinata yang cantik, otak gue yang pintar ini nggak ada yang isinya kayak begituan otak gue masih perawan ting ting, btw anyway busway, kantin yuk rin?"
"yaudah deh ayo pusing gue mikirin matematika daritadi, bikin perut gue laper" kataku sambil memegangi perutku dengan salah satu tanganku, dan tanganku yang satu nya menarik tangan Ninda agar berjalan lebih cepat. Emang kalo soal makanan ninda jagonya, walaupun gitu badannya nggak pernah gendut heran.
" shit rame lagi kantinnya " gerutu ninda sambil menatap kesekeliling kantin yang sangat padat.
" iya mana tempat duduknya penuh semua lagi " kataku sambil meneliti seisi kantin Untuk mencari meja yang kosong.
" Terus gimana dong? " Tanya ninda dengan wajah nelangsanya.
" yaudah kita pesen dulu aja, lo yang pesenin gue yang cari tempat duduk,gue mager antri " kataku dengan wajah polos yang langsung dibahas Ninda dengan toyoran di kepalaku.
" Kebiasaan deh lo! yauda, makan yang biasanya kan? " Kemudian Ninda berjalan melewati para siswa yang hilir mudik.
" Iya deh jangan lupa minumnya es jeruk ya jangan terlalu manis nih uangnya " kataku sambil memberikan selembar uang lima puluh ribuan.
"Bacot!" gerutu ninda sambil mengambil uangku.
Setelah mendapatkan tempat duduk yang kosong, aku mengedarkan pandanganku kelapangan basket, secara tidak sengaja mataku bertemu dengan lelaki yang sudah lama aku kagumi kami mempunyai janji waktu masih kecil, aku ingin mengatakannya, namun hanya bisa kupendam saja, jika aku mengatakan yang sebenernya aku takut dia akan menganggapku aneh. Dia sedang tertawa bersama teman temannya, ingin sekali aku kesana dan mengajaknya berbicara namun itu hanyalah sebuah khayalanku saja.
"oey rin nih pesenan lo sama ni kembalian lo" lalu ninda datang dan memberikan uang kembalianku.
"Thanks ya cantik" kataku sambil mengambil pesananku dari tangan ninda dan meletakkanya diatas meja.
" Jijik deh rin, lo lagi liat apa rin tadi gue liat lo ngelamun! " lalu ninda mengedarkan pandangannya ke lapangan untuk mengetahui apa yang aku lihat.
" Oh lo liatin dia lagi? Udah deh rin apa lo ga capek nungguin dia selama ini? Toh dia nya juga gapeduli sama lo " Memang hanya Ninda dan kakakku yang tau tentang masalahku dengan dia, karena memang kami berempat dari kecil sudah berteman walaupun tidak sedekat aku dan dia dulu, iya dulu sebelum kepindahannya dan keluarganya dikarenakan papanya yang pindah dinas, aku tidak mengerti apa yang membuat dia melupakanku.
" Lagian ya kalo dia ga peduliin gue, ya wajarlah orang gue cuma liat ga ngomong sama dia kalo gue suka sama dia jadi bukan salahnya dia " kemudian memakan pesananku.
" Nah itu lo tau terus ngapain lo gak ngomong sama dia bego! Suka gemes sendiri kadang gue lihat lo sama dia " kata ninda sambil menoyor kepalaku.
"Sakit bego! Ya gue gamau ngomong, karena bagi gue dia itu kayak bintang cuma bisa dilihat, tapi sulit buat digapai!"
"Anjay bahasa lo, nih gue kasih tau, lo itu jelas jelas ada yang suka sama lo perhatian sama lo, malah gak lo peduliin, dan orang yang gapernah peduliin malah lo perhatiin" kata ninda sambil melirik kearah lapangan.
"Ya yang namanya udah sayang sama dia mau diapain lagi, kita gabisa sembarangan mengubah Hati seseorang! " Aku mengaduk makananku yang tinggal setengah, sambil memikirkan perkataan Ninda.
"Serah lo dah serah, eh ada danta gabung sini dan" tiba tiba ninda memanggil Danta yang datang dari arah pintu masuk ke kantin.
"Emang boleh? biasanya kalau gue gabung bareng kalian, gue langsung disuruh pergi" lalu dengan cepat danta duduk disebelahku sambil melirik ninda.
"Bacot lu ah tinggal duduk aja susah" omelku pada danta yang sedang berusaha menarik perhatianku.
"Aduh yang jangan galak galak dong nanti bebeb sakit hatinya" ucap danta sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
"Yang yang pala lo peyang" sambil menoyor kepala danta.
"Aduh sakit yang" kata danta dengan nada manja sambil memegangi kepalanya.
" bacot lo berdua, danta juga kalo mau ngerusuh jangan disini" gerutu ninda sambil menatap danta dan aku.
"Lah kan lo tadi yang ngajakin gue gabung tadi dasar bekicot grosiran " ledek danta pada ninda yang sudah menampilkan wajah yang kesal.
"Ih dasar kambing bau, rin kalo ditembak danta jangan mau dia bau" lalu ninda menutup hidung dengan tangannya.
"Lo kok gitu si bekicot, ya terserah karinlah mau dia nerima gue apa nggak apa urusannya sama lo!" kata danta tak terima dengan mata melotot ke arah ninda.
"Ah berisik lo semua gua mau pergi aja pusing gue dengerin lo berdua ntar ujung ujungnya suka lagi" ledekku pada kedua orang itu.
"Ewh" teriak mereka bersamaan.
★★★★★★★★★★★★★
Jangan lupa vote dan comment oke.
~istri kyungsoo
YOU ARE READING
Dont Forget Me
Teen FictionKarina Salsabila Dinata cewek cantik, galak, dan agak pintar. Mengharapkan lelaki kecil yang sudah berjanji akan menjadikannya Princess di masa depannya. Kevin Satria Sabilal cowok tampan dengan segala bakat yang dimilikinya. yang sedang menunggu p...
