Y-O-U

33 2 0
                                        

Senja itu hadir lagi disertai hujan yang menetes di balik jendela kamar seorang gadis yang beranama Reina Khanza Az-zahra. Senja yang sama yang mengingatkannya pada suatu peristiwa yang sangat tak diinginkannya. Peristiwa yang membuat mimpi dan harapan yang telah ia bangun selama 6 bulan lamanya runtuh seketika. Kebahagiaan yang ia dapatkan dari seorang lelaki yang sangat ia sayangi. Yah, kekasihnya. Reza Fahlevi atau akrab disapa Reza. Seorang pemain futsal di salah satu club ternama di daerah Bulukumba, seorang anggota organisasi KIR yang kerap mengikuti berbagai ajang perlombaan di berbagai daerah, sosok yang bebas dari asap rokok dan sosok yang santun serta ramah itulah yang menaklukkan hati Reina, sosok yang juga dianggap cerdas, ramah dan santun oleh orang disekitarnya.
Pasangan muda-mudi itu dianggap memiliki keserasian. Yah, baru kali ini seorang Reina menjalin hubungan serius dengan seorang pemuda. Sebelumnya, ia hanya berpikiran untuk berfokus kepada sekolahnya. Prinsip itu berubah saat Reza datang di kehidupannya. Ia mulai penasaran pada sosok Reza, saat ia yang memiliki keterbatasan pada mata pelajaran Bahasa Jerman tak sengaja meminta bantuan kepada Reza untuk mengerjakan Tugas sekolahnya. Oh iya, mereka tidak bersekolah pada sekolah yang sama. Jarak antar sekolah mereka dapat ditempuh selama 30 menit. Jarak yang cukup jauh memang. Mereka hanya berkenalan lewat media sosial. Reza membantu Reina mengerjakan tugas sekolahnya hanya melalui salah satu aplikasi chat yang banyak diminati para remaja. Reina mulai kagum kepada Reza saat ia mengetahui bahwa Reza pernah ditunjuk sekolahnya untuk menjadi wakil sekolah dalam olimpiade Bahasa Jerman tapi karena penyakit tifus Reza yang kambuh, ia pun batal mengikuti olimpiade tersebut. Reza juga pernah menjuarai lomba KIR se-Sulawesi Selatan. Masih banyak prestasi yamg didapatkan sosok Reza yang membuat sosok seperti Reina terkagum-kagum padanya.
Hari demi hari mereka lalui dengan canda tawa hingga hubungan mereka pun semakin akrab. Reina tidak memiliki perasaan yang lebih terhadap Reza, tetapi ia takut jika Reza jauh darinya. Ia bingung akan perasaannya sendiri. Hingga saat itupun tiba, saat yang mengharuskan Reina menjawab semua kerisauan hatinya. Reza meminta Reina untuk mendampinginya, untuk menjadi kekasih hatinya. Reina bingung, ia merasa nyaman dengan Reza. Tapi ia takut itu bukanlah perasaan nyaman sebagai seorang kekasih tapi hanya perasaan nyaman pada seorang sahabat. Tepatnya pukul 00:02 WITA, Reza mengirimkan pesan kepada Reina yang berisi “Reina, sejak berkenalan denganmu aku merasakan hal yang lain. Kamu berbeda Reina. Kamu dapat membuatku nyaman denganmu. Sebelumnya, aku tak pernah merasakan hal ini dengan gadis lain. Aku berharap kamu mau menjadi kekasihku”. Pesan singkat yang membuat Reina bahagia sekaligus bingung. Ia juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Reza. Tapi ia ragu, apakah perasaan ini akan bertahan lama atau hanya sementara. Mengingat perkenalan mereka yang terbilang singkat.
Reina pun membalas pesan Reza dengan kalimat “Reza, aku ingin meminta maaf sebelumnya. Saat ini aku masih bingung dengan perasaanku. Aku takut jika aku menjawabnya sekarang, aku akan salah dalam menentukan pilihanku. Aku mohon beri aku waktu untuk berpikir tentang hal ini”. Reza sebenarnya merasa sedikit kecewa akan jawaban dari Reina tapi ia masih dapat menyimpan sedikit harapan kepada Reina. Mungkin besok, ia dapat menagih jawaban akan pertanyaannya itu kepada Reina. Malam itu, Reina tidak dapat tidur dengan nyenyak. Dipikirannya terus terbayang akan sosok Reza. Sosok yang beberapa waktu ini membuat dirinya nyaman.
Mentaripun mulai memancarkan sinarnya, Reina terbangun dengan mata sembab karena tidurnya yang tidak cukup semalam. Ia pun bergegas shalat shubuh karena matahari yang sudah mulai nampak. Ya, dia bangun terlambat. Setelah shalat, ia bergegas merapikan kamarnya lalu mandi untuk bersiap ke sekolah. Setelah semua siap, ia pun berpamitan kepada kedua orangtuanya. Ia tiba di sekolah tepat sebelum bel masuk berbunyi. “Nyaris saja terlambat” batin Reina. “Hei Reina, tumben kamu terlambat? Habis dari mana kamu?”. Reina berbalik mendengar suara yang sudah khas tersebut. Yah sudah pasti itu sahabatnya Nayla. “Aku bangun kesiangan nih, tapi aku gak terlambat kok. Hehe nyaris aja sih” jawab Reina. Nayla menggerutu. Sudah jadi ciri khas Reina yang mampu menangkis apapun yang diarahkan kepadanya. Setelah jam pelajaran berakhir, Reina mengajak Nayla kerumahnya. Reina berencana untuk menceritakan masalah Reza ke sahabatnya itu. “Nay,aku mau cerita sama kamu nih”. Nayla heran melihat sahabatnya, “cerita aja kali, kamu itu kayak orang lain aja. Biasanya juga kalau mau cerita, kamu langsung ngerocos aja tuh. Gak pakai izin. Masalah kamu serius ya?” Nayla bertanya dengan penuh selidik. Reina pun menceritakan semuanya kepada Nayla. Nayla akhirnya mengerti permasalahan yang dialami sahabatnya tersebut. Ia pun menyarankan kepada Reina untuk mencari tahu dengan lebih jauh terlebih dahulu sifat dari Reza. Ia takut sahabatnya akan tersakiti oleh Reza. Reina pun menanyakan sifat sebenarnya dari Reza dari beberapa teman yang ia percayai yang juga mengenal Reza. Ia pun merasa lega, karena jawaban yang ia terima sesuai dengan harapannya. Reza benar-benar orang yang baik dan juga ramah. Ia juga terkenal memiliki sifat yang setia. Ia hanya pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis satu kali. Setelah putus, ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama teman dan juga keluarganya. Baru kali ini, ia mulai membuka hatinya kembali. Dan itu karena Reina.
Malam kembali tiba, pesan dari Reza pun kembali masuk. Reina kalut. Ia belum memiliki keyakinan dalam hatinya. Ia pun menjawab pesan Reza seperti biasanya. Reza pun menanyakan jawaban dari Reina. Setelah berpikir, Reina pun mengiyakan pertanyaan Reza. Reza sangat bahagia, akhirnya ia dapat menjadi kekasih Reina. Mereka pun menjadi pasangan kekasih. Hari demi hari , minggu demi minggu, hingga bulan demi bulan mereka lalui dengan bahagia. Hingga saat hubungan mereka telah berjalan selama 2 bulan, hubungan mereka kandas. Dikarenakan Reina yang mulai bosan akan perhatian Reza yang tak ada habisnya. Ia ingin hubungan mereka segera berakhir. Ia menghapus Personal Status-nya yang sebelumnya nama Reza menjadi sibuk. Reza merasa risih akan perubahan sikap Reina. Ia merasa ada yang disembunyikan oleh Reina. Ia pun menelfon Reina untuk memperjelas hubungan mereka. Reina hanya diam. Reza pun mulai kesal akan sikap Reina, ia menanyakan kepada Reina apa sebenarnya yang diinginkan oleh Reina. Reina menjawab bahwa ia ingin mengakhiri hubungan mereka. Reza pun hanya pasrah akan keputusan Reina.
Keesokan harinya, Reina menjalani harinya tanpa pesan-pesan singkat dari Reza, tanpa perhatian dari Reza. Ia merasa ada yang berbeda, ia merasa kehilangan. Tapi, ia berusaha terlihat biasa saja di hadapan teman-temannya. Nayla yang mengetahui apa yang terjadi pun mencoba untuk menghibur Reina. Dua hari sejak berakhirnya hubungan mereka, Reina merasa menyesal. Ia rindu akan perhatian dari Reza. Tapi, ia terlalu gengsi untuk memulai sebuah percakapan diantara dia dengan Reza. Ia pun mengirimkan pesan ke sahabatnya, Nayla. “Nay, aku nyesel nih udah mutusin Reza”. Tak perlu menunggu lama, balasan dari Nayla pun muncul di layar handphone Reina. “tuh kan, aku bilang juga apa. Makanya kalo mau lakuin sesuatu itu. Dipikir-pikir dulu, kamu itu orangnya labil banget sih”, omel Nayla. Nayla yang tidak tega melihat sahabatnya seperti itupun, memberanikan diri berbicara ke Reza dan berusaha membantu Reina menjelaskan ke Reza. “Za, maaf aku bukannya mau ikut campur urusan kalian berdua. Tapi, aku sebagai sahabatnya Reina tuh gak sanggup lihat Reina terus-menerus merasa menyesal dan bersalah ke kamu. Aku cuma mau kasih tau kamu, kalau Reina tuh sayang sama kamu. Dia nyesel udah mutusin kamu. Dia berharap kamu mau maafin keegoisan dia”. “Reina gak salah kok, yang salah itu aku. Aku maunya dingertiin tapi aku gak pernah ngertiin Reina,lagian sebelum Reina minta maaf aku udah maafin dia duluan kok”. Kata Reza. “emang kamu gak punya niat untuk kembali sama Reina?” Nayla semakin mengintrogasi Reza. “nanti deh aku pikir-pikir dulu, kalau gitu aku pergi dulu yah soalnya aku lagi ada kerjaan nih. Makasih yah udah bantuin Reina dan udah jadi sahabat yang baik buat Reina”. Reza berlalu. Nayla masih dengan pikirannya. Ia masih bertanya-tanya. Kok Reza pake mikir dulu mau balik ke Reina? Emang dia udah gak sayang apa sama Reina? Emang secepat itu?. Mungkin waktu yang akan menjawabnya. Batin Nayla.
Reina pun menghampiri Nayla yang masih termenung dengan beberapa pertanyaan dikepalanya. Reina mengejutkan Nayla yang tidak sadar akan kedatangannya. Reina menanyakan hal apa yang membuat sahabatnya itu termenung. Pada awalnya Nayla berkata bahwa ia baik-baik saja, akan tetapi karena Reina yang terus mendesak Nayla agar berkata jujur ,akhirnya menceritakan percapakan dia dengan Reza. Reina merasa kecewa, ia merasa Reza sudah melupakannya. Reina pulang ke rumahnya dengan perasaan yang berkecamuk. Sesampainya di rumah, ia hanya berbaring dikamarnya sembari mendengarkan musik-musik kesukaannya melalui handsfree. Ia memeriksa aplikasi chatnya, tetapi yang masuk hanya pesan dari beberapa teman dan sisanya lagi dari beberapa orang yang tidak dikenalnya. Ia pun mengabaikan ponselnya yang berdering, ia beranggapan bahwa itu hanyalah pesan dari temannya. Tetapi, ia semakin tidak tahan ketika ponselnya tersebut tidak henti-hentinya bordering. Ia pun memeriksa ponselnya. Dan betapa bahagianya dia, ketika pesan yang masuk itu berasal dari orang yang disayanginya. Reza. Pesan singkat itu mampu membuat hati Reina yang karuan menjadi kembali bahagia. Walaupun Reza hanya menanyakan kabar Reina sambil sesekali bersenda gurau. Sudah hampir pukul 12 malam sejak mereka saling bertukar pesan, Reina yang mulai mengantukpun tidak mendapat tanda-tanda Reza yang akan kembali padanya. Ia pun memutuskan untuk tidak membalas lagi pesan dari Reza. Keesokan harinya, Reza kembali menyapa Reina dengan pesan-pesannya. Reina ragu, apakah sikap Reza ini karena ingin kembali padanya atau hanya akan menganggap Reina sebatas sahabat saja. Mereka saling bertukar pesan hingga larut malam, walau sesekali terhenti karena kesibukan Reza maupun Reina. Hingga Reza pun menanyakan perasaan yang dirasakan Reina saat ini kepadanya. Reina yang semula gengsi, mencoba membuang rasa gengsinya tersebut demi perasaannya terhadap Reza. Reina berkata jujur kepada Reza tentang perasaannya. Reza pun mengajak Reina untuk kembali menjalin hubungan, karena mereka masih memiliki perasaan yang sama. Hari itupun mereka kembali resmi menjadi pasangan kekasih.

YouStories to obsess over. Discover now