Faktanya:
Karakter dalam buku itu dua dimensional.
Semua karakter dari buku yang pernah Anda baca adalah karakter fiksional—bukan seseorang yang nyata.
Nah, sebelumnya, saya mau beranalogi sambil bercerita dulu.
Pernah tidak Anda sedang membaca buku sedih, lalu saat sampai di ending, Anda nangis. Kemudian, terjadilah percakapan seperti berikut:
"Lu nangis baca buku?"
"Iya. Ini sedih banget sumpah," jawab Anda sambil terisak-isak.
"Emang kenapa?"
"Ini, si cowok mati."
Hening. Dia menatap Anda dengan aneh.
"Itu 'kan ... cuma karakter di buku doang."
Dan kalimat itu terngiang-ngiang bak gema. "Karakter di buku doang ... ang ... ang."
Ya, balik lagi ke kalimat pembuka artikel ini. Karakter dalam buku itu dua dimensional. Tak nyata. Lalu ... mengapa Anda menangis saat si karakter—yang hanya hidup di dalam buku—di deretan tulisan itu—mati?
Jawabannya sederhana: Karakter dua dimensional itu terasa nyata. Hampir mirip manusia asli. Anda kenal dengan mereka. Anda tahu pribadinya, makanan kesukaannya, tempat tinggalnya, hobinya, bahkan mungkin bisa membaca pikirannya.
Ada koneksi di antara kalian.
Dan itu menumbuhkan rasa peduli pada Anda.
Saat Anda peduli dengan sesuatu, tak peduli dia manusia, binatang, atau karakter fiksional, Anda akan bersimpati padanya.
Jadi, awal dari semua itu adalah: ciptakan karakter yang nyata.
Lalu, pertanyaannya adalah, apa yang harus dimiliki seorang karakter agar terasa nyata?
1. Kenali fisiknya.
Berdasarkan survey kecil-kecilan yang saya buat, saya mendapat konklusi bahwa banyak sekali penulis yang tak mengetahui wajah dan postur tubuh karakternya sendiri. Oke, ia tahu matanya coklat, rambutnya dipotong cepak, kulitnya sawo matang. Namun, hanya ketiga fakta itu yang terlihat jelas di otak mereka. Selebihnya buram. Padahal benar-benar mengetahui fisik karakter kalian sangat penting. Bukankah jasad adalah sesuatu yang wajib dimiliki seorang manusia nyata?
Pikirkan fisiknya. Tuliskan secara rinci. Sertakan foto bila perlu. Kalau tidak ada yang cocok, beri foto terpisah mengenai elemen-elemen yang mereka miliki. Rambutnya mirip di foto ini, wajahnya kira-kira seperti ini, tubuhnya seperti ini. Lakukan apapun untuk membuat fisik karakter Anda jelas.
2. Memiliki kekurangan dan kelebihan.
Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing—entah itu perangai atau bakat. Begitu juga karakter dalam buku. Tiap karakter harus memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Misalnya, Cameron adalah lelaki yang simpatik, peduli dan tulus. Ia memang pendiam tetapi, saat sudah dekat dengannya, ia akan banyak bicara. Kekurangannya adalah ia pesimis dan sangat terbawa emosi. Walau pesimis, saat ia melakukan sesuatu, ia pantang menyerah.
Dari informasi di atas, menulis untuknya menjadi mudah. Anda tahu kira-kira bagaimana menulis dialognya dengan teman dekat—yang tentunya akan berbeda dengan dialognya dengan orang yang baru ia kenal. Anda tahu jika dihadapkan dengan masalah tertentu, responnya seperti apa. Hal tersebut membuat karakter Anda unik, kompleks, dan terasa nyata dengan kelakuannya yang reasonable.
3. Memiliki ketakutan terdalam.
Sebagai manusia, tentunya ada satu hal yang paling ia takuti. Ada yang takut penolakan, kehilangan, pengkhianatan, atau kesepian. Apa yang paling ia takuti?
Dengan mengetahui jawaban dari pertanyaan itu, Anda tahu bagaimana menulis breaking point sang karakter. Breaking point adalah hal yang penting untuk disertakan dalam cerita Anda. Hadapkan karakter dengan ketakutan terbesar yang akan mengubahnya. Perubahan sang karakter penting untuk character development. Tentunya, harus ada perubahan dari perangai sang karakter dari awal cerita hingga akhir.
Contohnya, Sandra dari novel 3600 Detik. Di awal novel, Sandra adalah anak yang berantakan, dan berperangai buruk. Namun, di akhir novel, ia menjadi seseorang yang jauh lebih baik.
Atau di novel Sunshine Becomes You karya Ilana Tan. Awalnya, Alex Hirano adalah lelaki pemurung yang pendiam dan temperamental. Namun, di akhir novel, ia menjadi seseorang yang lebih baik.
Character Development adalah hal yang wajib di sebuah cerita, dan menghadapkan karakter dengan ketakutan terbesarnya adalah salah satu cara.
4. Kenali keluarga dan lingkungannya
Siapa orang tuanya? Bagaimana karakter mereka? Hal ini penting untuk Anda pertimbangkan karena orang tua sangat mempengaruhi perangai karakter. Perhatikan juga lingkungannya. Seseorang yang dikelilingi orang-orang rajin, soleh, dan sopan pasti akan menjadi seperti itu. Perangainya tentu berbeda dengan seseorang yang dikelilingi perokok, pengguna narkoba atau pencuri.
5. Kenali apa yang paling berharga untuknya.
Jika seseorang akan menghancurkan sesuatu dan karaktermu berani berkorban untuk menyelamatkannya, kira-kira apakah hal yang dilindunginya?
Jawaban ini benar-benar mencerminkan karakter Anda.
Keluarga? Pasangan? Atau mungkin harta?
Hal ini dapat mengindikasikan betapa berharganya sesuatu untuk karakter Anda.
Sekarang setelah tahu apa yang diperlukan karakter untuk membuatnya nyata, implementasikanlah ke karya-karya Anda! Siapkah Anda berkoneksi dengan pembaca lewat karakter-karakter Anda?
YOU ARE READING
DI BALIK KISAH TERBAIK: Tips Menulis Fiksi
Non-FictionSaya masih ingat, setahun lalu, saya akan membuka aplikasi wattpad, mengetik, dan mempublikasikan. Lalu, cerita dengan 21 episode itu--yang ditulis berbekal garis besar cerita dan kemampuan mengetik--saya sebut novel. Setelah belajar selama satu tah...
