Bunyi gemericik air berjatuhan memenuhi pendengaranku. Hawa dingin menyeruak begitu saja ditemani bau khas tanah basah. aku mendesah. Aku benci hujan. Sangat benci. Tapi aku tidak bisa lari.
Aku memeluk tubuhku sendiri. Memcoba menghangatkan badan yang membeku. Aku tersenyum miris melihat sekelilingku. Semua kosong sebelum pemandangan mobil meramaikan jalan kering.
Aku berjongkok dengan kedua tangan di telingaku. Aku tidak mau. Aku tidak mau merasakan hujan ini lagi. Aku tidak mau merasakan dingin tanpa setetes air itu membasahi pakaianku. Aku tidak mau.
Sehebat apapun aku menutup telinga dan mata, bayang bayang itu pasti terlihat. Menghantuiku dalam diam.
Laki laki berjaket merah.
Kendaraan ramai.
Jalan kering.
Dan sekarang bunyi decitan yang memekakkan.
Suara benda terbentur keras.
Teriakan.
Dan darah.
Aku berteriak. Mengalahkan teriakan takut mereka. Teriakan marah dan lelah dengan semuanya. Berharap mereka semua mengalihkan pandangannya ke arahku.
Tapi percuma. Nobody can hear me, except my self.
[.]
Aku memoleskan pomade ke rambut landak ini sekali sekali bersiul senang. Dengan hodie abu abu yang menutupi seragam dan ransel yang disandang sebelah tangan, aku menuruni tangga menyapa ibu yang sedari tadi menyiapkan sarapan.
"Roti bakar isi telur dan sosis. Aku sudah bosan memasak ini asal kamu tau," ibu menaruh piring isi roti bakar ditemani susu. Dengan gerak cepat ia kembali membersihkan bekas minyak.disekitar kompor.
Aku menarik kursi dan meletakkan tasku di atas meja makan. Sambil mencomot roti bakarku, aku memperhatikan ibu. Yah, setiap pagi aku selalu.disuguhi dengan pemandangan ibu menyiapkan sarapan dan asal kalian tau aku sama bosan dengannya.
Ibu menarik kursi didepanku dengan sepiring nasi goreng ditangannya. "Are you okay, dear?" Tanyanya begitu melihat lingkar hitam di mataku bertambah pekat.
Aku mengangkat bahu. Toh, ga ada gunanya aku menjawab, ibu pasti tau apa yang aku alami. "Berikan aku make up yang biasa ibu gunakan untuk kantung mata yang hitam ini," aku menunjuk bawah mataku yang hitam.
Ibu bangkit memasuki ruang televisi, aku melihatnya sedang membuka satu persatu laci meja televisi. "Nih, yang ada cuma warna emas. Pakai saja saat perjalanan pergi sekolah nanti," ibu menyodorkan sebuah plastik yang aku rasa itu masker.
Aku mengambilnya dan langsung membuka plastik itu.
"Kamu tau cara pakai nya, No?" Tanya ibu ketika ia melihat kerutan di dahiku.
"Jangan khawatir, aku sering melihat teman perempuanku memakai ini," jawabku dan melenggang pergi ke sekolah.
[.]
Aku harus membenarkan perkataan teman temanku tentang betapa beruntungnya diriku. Aku sedikit cemas akan ditertawakan oleh orang orang yang melintas. Bayangkan saja kalian para lelaki memakai benda yang biasa dipakai oleh para kaum hawa seperti aku sekarang, tetapi karena aku memiliki keberuntungan yang lebih dari orang orang, aku tidak perlu malu.
Aku tidak tau siapa pemilik kacamata hitam yang sedang kupakai, tapi aku sangat berterimakasih kepadanya karena sudak meletakkan barang ini di tas sekolahku. Dan pagi ini aku seperti pelajar yang memiliki rencana untuk bolos.
"HAI FINO!"
Aku berjengit kaget ketika sebuah tangan memukul kepalaku keras. Dan untungnya saja kacamata ini tidak terjatuh.
"Tai lo ya, Frik!" Aku membalas pukulan Friki, teman dekatku akhir akhir ini. Aku tidak sengaja bertemu dengannya disamping rumahku.
Awalnya aku terkejut melihat dia di samping rumah sambil loncat loncat berusaha mengintip, tapi ternyata aku lega juga, dia tetangga baruku.
"Cepetan ya bro! Gue tunggu di halte depan deh," friki berlari meninggalkan ku di belakang.
Seketika langkahku terhenti. Aku melihat sekeliling. Jalanan yang kering ditemani oleh ramainya kenderaan. Aku membeku. Tidak mungkin ini tempat nya. Tidak mungkin waktunya terjadi .
Aku menoleh ke segala arah, mencari dia si jaket merah. Sambil berlari kecil aku terus mencari. Mataku terus bergerak dibalik kacamata hitam. Nafas ku tiba tiba tidak teratur. Keringat menghujani tubuh ku.
Siapa? Siapa dia? Siapa dia yang ada dimimpi ku?
Seiring aku bertanya dalam hati, akhirnya suara itu terdengar. Suara yang memekakkan telinga. Suara yang membuat semua orang disekitar nya datang mengerubungi.
Dan ucapan ucapan dari mereka.
Aku berjongkok menutup mata dan pendengaran. Kumohon, jangan terulang lagi.
Author note
Aku ga tau ini genre misteri, horror atau scifi. Sebenarnya ini cerita untuk event dan ternyata eventnya dibatalkan. Dari pada di anggurin di draf mending di publish, yekan?
Vote dan comment jangan lupaaa 😋😋😋
YOU ARE READING
Nightmare
Mystery / ThrillerBagiku mengetahui cara kematian seseorang itu menyakitkan. Berada di sebuah tempat gelap dengan rintikan hujan dan bau khasnya. Disana aku selalu melihat mereka mati. Tidak peduli kematian siapa itu, bahkan jika itu kematianku, itu menyakitkan. Ket...
