Kedatangan Jeon Jungkook ke rumahku merupakan sebuah pemacu semangat bagiku. Aku merupakan anak terpandang, tapi hal itu justru membuatku muak karena kedua orang tua ku lebih mementingkan pekerjaan mereka dibanding diriku yang notabene anak mereka sendiri.
Aku sudah tak peduli dengan hal semacam itu semenjak aku bertemu dengan anak salah satu asisten rumah tangga di rumahku, anak dari bibi Jeon. Namanya Jeon Jungkook.
Aku tak pernah tau jika ada namja setampan itu.
Brag brag brag
Aku menendang-nendangkan kakiku ke atas kasurku. Aku jadi gila hanya karena anak bibi Jeon itu. Ditambah lagi, anak itu kini bersekolah di sekolah yang sama denganku, berada di kelas yang sama pula dengan ku dan asal kalian tau, saat berangkat serta pulang sekolah, kami juga bersama.
Itu karena orang tua ku sudah menganggap bibi Jeon sebagai keluarga. Beliau telah bekerja di rumahku lebih lama dari pada usia ku sendiri. Jadi kini anaknya juga dianggap seperti anak mereka sendiri, menyekolahkan dia, sehingga supir pribadiku pun jadi supir pribadinya juga. Tapi entah kenapa aku senang-senang saja. Karena dengan begitu, aku bisa dekat dengannya.
Aku merona sendiri gara-gara memikirkannya.
Dan.. dan.. dia juga tinggal di rumahku! Kamarnya ada di bawah kamarku. Karena kamarku ada di lantai dua.
Terkadang aku selalu berusaha menguping lewat lantai kamarku, menempelkan dengan erat telingaku di lantai kamarku, mungkin saja aku bisa mendengarkan apa yang sedang dia lakukan.
Huft, aku tau aku gila. Karena itu tak mengkin dapat aku dengar. Aku hanya.. tak bisa mengendalikan diriku saat ini.
Lagi pula, kenapa anak bibi Jeon bisa setampan itu sih?
Aku menyelimuti seluruh tubuhku dengan selimut tebal yang biasa kupakai dan mencoba memejamkan mata, berharap akan segera pagi dan aku bisa berangkat bersama Jungkook lagi besok.
Oh iya, asal kalian tau, aku tak pernah menunjukan jika aku tertarik pada anak itu. Jujur saja, aku merasa gengsi mengakuinya.
Oke, aku akan berusaha tidur sekarang. "Selamat malam my Jungkookie" Aku mencium boneka beruang putih besar yang selalu berada di sisi kasurku, menemaniku tidur.
***
"Selamat pagi non Jimin" Bibi Jeon menyapaku saat aku tiba di meja makan. Aku melihat sekelilingku.