Semester kedua di sekolah yang baru, permulaan baginya untuk tetap semangat. Wonder Mess tempat di mana anak-anak perempuan dan laki-laki tinggal di asrama yang berbeda tetapi tetap berada di lingkar pagar yang sama.
"Bisakah kalian membantuku untuk berbaur?" katanya.
Itulah pertama kali ia berbicara di lingkungan barunya. Pertanyaannya itu membuat tiga pasang telinga mendengarnya dan berkata, "Oh, dengan senang hati kami bersedia membantumu."
Ia tersenyum senang mendengar jawaban teman-temannya.
"Kita belum kenalan. Namaku Kumiko. Panggil saja Miko."
Ya, gadis itu bernama Kumiko, gadis pindahan dari Jepang. Temannya memperkenalkan diri satu per satu. Mereka adalah Caroline, Angel, dan Kazuki.
"Kau sama denganku. Aku juga pindahan dari Jepang. Hanya saja aku sudah pindah ke sini dari tahun lalu, saat kelas sebelas," ujar Kazuki, yang memiliki nama tak berbeda jauh dengan nama-nama di Jepang.
"Nice to meet you," ujar Miko.
"Nice to meet you too," ujar Caroline.
"Miko, kau harus berhati-hati dengan si nenek sihir itu." Angel menunjuk salah seorang gadis berambut panjang di tengah kerumunan anak-anak lainnya.
"Siapa? Yang mana?" tanya Kumiko ingin memastikan orang yang diperbincangkan oleh Angel.
"Laura. Juga dua followers setianya, Cindy dan Pesona." Caroline menjelaskannya dan lagi-lagi Angel menunjuk-nunjuk orang yg dimaksud.
Hari pertama di asrama ini akan ada tempat bagi mereka, satu kamar untuk lima orang.
"Anak-anak, minta perhatiannya bisa?" ujar seorang wanita yang sudah cukup tua. Wanita itu menunggu sampai suasana tenang. "Kalian bisa tidur dengan siapa saja. saya tidak akan memilih-milih. Tulis nama kelompok kamar kalian," ujar Ibu Matilda, selaku pengurus asrama putri, Charmibo.
"Teman-teman kurang satu lagi nih. Siapa ya?" tanya Angel sambil menuliskan nama teman-teman sekamarnya di selembar kertas. Tiba-tiba ia berseru, "Calista! Mau bergabung dengan kami?"
"Terserah, yang penting aku mendapatkan kamar."
"Oke. Kita putuskan dalam satu kamar kita anggotanya aku, Kazuki, Kumiko, Caroline, dan Calista. Bagaimana?"
Mereka menganggukkan kepala tanda setuju. Dalam lima menit kertas pun dikumpulkan.
"Ok, anak-anak. sekarang kalian masuk ke kelas biasa," kata Bu Matilda.
Di tengah koridor, empat sekawan itu berjalan sambil mengobrol. "Bagaimana dengan Bigibo ya?" tanya Angel."Asrama putra?" tanya Miko sedikit menyelidik. "Iya, benar. Angel ini orangnya ingin tahu saja, ribet, dan terlalu detail. Makanya sering kali bertanya hal-hal yang tidak penting," ujar Kazuki. "Kalau mempersiapkan sesuatu bisa sampai 3 kali periksa karna terlalu detail," lanjutnya.
"Sudahlah, ayo cepat! Nanti kita terlambat masuk kelas," kata Caroline menyudahi perbincangan.
Setibanya di kelas, sepasang mata Kumiko tertangkap oleh sepasang mata milik (yang katanya) cowok paling keren di sekolah, yaitu Justin. "Hai! Kau anak baru, ya?" tanya cowok itu iseng dengan gaya khasnya yang (sok) manis. Itulah Justin, cowok yang paling hits di sekolah yang hobinya menggodai anak baru dan selalu berusaha menaklukkan hati para wanita. Bukan berarti playboy, hanya ingin memastikan ketampanannya, katanya. Tapi ia cowok yang baik dan tidak sombong. "Jangan jawab dia, Miko. Nanti kamu malah diisengi," ujar Kazuki memberi peringatan karena saat pertama kali dia pindah ke sini, Justin juga menggodanya dan mengerjainya.
"Pagi anak-anak. Kita kedatangan murid baru dari asrama perempuan." Miss Merry membuka pagi yang cerah ini dengan memperkenalkan Kumiko. "Silahkan perkenalkan dirimu."
"Halo semua. Nama saya adalah Kumiko. Saya pindahan dari Jepang. Tahun lalu sempat home schooling. Semoga kalian dapat berteman baik denganku," ujar Kumiko dengan sopan sambil membungkuk.
"Tenang aja. Pasti kami bisa berteman baik denganmu," celetuk Justin dibarengi senyum khasnya yang manis.
"Justin..." tegur Miss Merry.
"Maaf, Miss." Justin nyengir.
"Kumiko, kau bisa duduk di sebelah... Justin. Hanya itu kursi yang kosong."
"Baik, Miss."
Lagi-lagi Kumiko membungkukkan badannya sebelum duduk. Ya, itu memang salah satu kebiasaan orang-orang di negri Sakura sebagai bentuk hormat dan kesopanan mereka.
"Sudah berapa kali kau membungkuk hari ini? Tidak capek?" Justin memberi senyum tipis sambil menatap jail pada Miko. "Duduklah."
Miss Merry memulai pelajaran dengan menuliskan beberapa soal di papan.
"Ada yang bisa mengerjakan soal ini?"
Ekspresi anak-anak berubah serius seperti berpikir-pikir bagaimana menjawab soal tersebut.
"Saya, Miss." Kumiko mengacungkan tangannya. Lebih kurang lima menit, Kumiko telah menyelesaikannya.
"Silahkan duduk, Nak." Setelah Kumiko duduk, "Apakah jawaban kumiko benar, anak-anak?" Miss Merry melanjutkan bertanya.
"Benar," jawab Caroline sedangkan yang lain masih sibuk menghitung.
"Kenapa kau tahu jawabannya, Carol?"
"Kalau menurut saya miss, hasilnya sama dengan saya walaupun cara yang digunakan Kumiko lebih mudah."
"Hmmm.. oke. Beri tepuk tangan anak-anak."
"Siapa yang belum mengerti?" lanjut Miss Merry.
Semua anak mengangkat tangan kecuali Kumiko dan Caroline. Terlihat jelas di papan bahwa soal yang diberikan Miss Merry memang bukan soal yang mudah. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan murid dalam menangani sebuah soal.
"Sebaiknya kalian lebih banyak belajar. Kalian bisa bertanya pada Kumiko dan Caroline karena jam pelajaran kita sudah selesai. Selamat pagi anak-anak."
Murid-murid memberi salam dan segera berhamburan keluar kelas menuju canteen. Pelajaran matematika memang sulit. Begitulah kebanyakan murid di Wonder Mess menganggapnya.
"Wah, ternyata kau pintar juga, Miko," puji Angel sambil mengambil posisi duduk yang enak di canteen.
"Caroline juga," ujar Kumiko sebagai bentuk kerendahan hatinya.
"Kalau Caroline memang pintar akut. Semenjak masuk kelas 10, dia tidak lepas dari julukannya si juara paralel," kata Kazuki.
Caroline hanya tersenyum saja memandangi mereka.
Dari kejauhan terlihat jelas oleh Kumiko dan kawan-kawannya kedatangan si nenek sihir dan dua pengikutnya yang sedang menghampiri mereka.
"Misi dong anak baru! Kami bertiga mau duduk di sini," kata Cindy dengan sinis.
"Maaf. Aku memang anak baru tapi jangan main sinis begitu. Lagipula aku dan teman-temanku sudah duluan duduk di sini. Jadi kami tidak akan pindah," sahut anak baru itu, Kumiko.
Laura terlihata naik datah ingin marah melihat sikap Kumiko.
"Sayangnya kau anak baru jadi masih ku ampuni," ketus Laura. "Jadi, TOLONG kau pindah dari sini!"
"Aku tetap tidak mau pindah," tantang Kumiko.
Teman-teman yang ada di canteen melihat mereka dengan asyik seperti sedang menonton pertandingan.
Dengan mendengus, Laura, cindy, dan Pesona pergi meninggalkan empat sekawan yang dari tadi sudah duduk dan memesan makanan.
"Hebat! Baru saja masuk sekolah, kau sudah bisa menentangnya. Aku saja dulu tidak berani. Tapi ada Caroline yang membelaku," seru Kazuki menggebu-gebu.
"Aku biasa saja. Ini kan hak kita yang sudah duluan duduk di sini."
Caroline tersenyum tipis. "Sudahlah, ayo kita habiskan makanan ini! Ma'am Eleson pasti marah kalau kita telat masuk ke kelasnya," ujar Caroline.
DU LIEST GERADE
WONDER MESS : CERITA CINTA MIKO
JugendliteraturKisah persahabatan, kekeluargaan, dan percintaan. Semua itu dirasakan Miko, cewek keturunan Jepang. Ia berusaha keras untuk melupakan dan mengingat memori lama. Ia juga harus melawan Laura si nenek sihir supaya tidak diinjak-injak. Sementara di dala...
