BSP

6 0 0
                                        

Bukan Sebuah Penyesalan

Dalam kesunyian seketika aku bangun dan kupaksa mendobrak rasa malasku. Aku rasa kamar inilah penyebab malasku, barang-barang bertebaran dimana-mana hingga membuatku risih, akhirnya aku keluar. Dengan segenap emosi yang ku tahan sejak beberapa hari lalu bahkan berminggu-minggu yang lalu. Banyak hal yang ingin aku katakan tapi tidak tahu pada siapa, kalaupun ada orang yang mendengarkanku paling kata yang keluar hanya sejengkal dari setumpuk beban pikiran yang aku miliki. Menangis juga tidak bisa, beban itu hanya mencekik kerongkonganku hingga terasa sakit saat menelan. Akhirnya aku menyerah. Aku tidak ingat mata mana yang berhasil melihat dengan jelas kepedihanku, tangan mana yang menepuk pundakku atau bibir mana yang mengeluarkan kata penghiburan untukku, tak satupun telinga mendengar cerita sedihku ini. Rasanya aku seperti sendirian di muka bumi ini, hanya lalu lalang orang yang tidak kukenal atau mengenalku.

Motorku terparkir dengan sempurna di depan gedung jurusan teknik elektro, aku melangkah ogah-ogahan menuju kelasku sementara ku lirik jam tanganku menunjukkan waktu pukul 08.23. Pintu kelasku sudah tertutup, pasti sudah ada dosen masuk dan mau tak mau aku harus mengetuknya. Ku ketuk tiga kali lalu ku dorong gagang pintu itu hingga menganga, benar saja ada Pak Agung duduk dan sedang serius memperhatikan laptop di depannya sementara teman-teman sekelasku juga sama, menatap serius layar laptop mereka. Astaga, dosen dan mahasiswa benar-benar mirip tak ada bedanya. "permisi pak, maaf saya terlambat". Kabar bagus, dosen itu tak memarahiku, hanya menoleh kearahku lalu memalingkan wajahnya begitu saja, mungkin dia sudah muak karena aku hampir setiap hari selalu terlambat. Tatapannya seperti tak menganggapku ada sebagai murid, dan aku merasakan hal sialan ini setiap hari senin. "waktu habis silahkan tinggalkan tempat duduk kalian dan simpan file dengan nama dan nim kalian". Aku baru saja duduk dan mengeluarkan laptopku ketika kalimat itu keluar, kelimpungan ketika aku mendengarnya sementara teman-teman sekelasku telah berdiri dan meninggalkan ruangan. "saya ulangi dalam waktu satu menit ruangan harus sudah kosong". Mau tak mau aku pun berdiri dan meninggalkan mejaku menuju keluar kelas. "kamu kenapa gak ikut uts? Gak tau jadwal?". Lesmana teman karibku semenjak awal kuliah nyeletuk tiba-tiba ketika aku tepat berdiri di depannya. Aku tak menyahut sama sekali sampai akhirnya dosen pembimbingku memanggil namaku. "Kadek Wira. Silahkan ke ruang ketua jurusan sekarang". Tegas dan jelas lantas memalingkan badan dan berjalan lurus melewati koridor, aku mengikutinya dan kini pintu ruangan kepala jurusan sudah terpampang di depanku, terlihat sedikit menyeramkan. "Kadek Wira, kelas 2B Manajemen Informatika. Kamu tahu kenapa kamu dipanggil?". aku tak menjawab dan seketika ruangan ini hening. Kursi yang kududuki terasa seperti kursi panas. "kamu tidak mengikuti UTS pada mata kuliah Pemrograman dasar kan ? kamu juga absen tanpa keterangan selama empat hari dan itu sudah melebih ketentuan 18 jam untuk mendapatkan SP 1". Tangannya menyodorkan sebuah amplop putih ber kop almamater kebanggaanku, ya, sebenarnya aku bangga bisa kuliah di sini. Aku ingat betapa senangnya aku saat aku pertama kali mengenakan seragam praktekku dengan gagah, tapi entah mengapa apa yang terjadi di rumah mengganggu hidupku, semuanya, termasuk kehidupanku di kampus. Hampir setiap hari mendengar orang tua bertengkar, pernah ku coba untuk melerai tapi tak mengubah apapun, hanya pukulan yang aku dapat, yang bekasnya masih menghiasi bibirku hingga kini. sering ketika aku pulang malam dan tak ada yang menggubrisku, tak ada yang menanyakan aku dari mana, mengapa pulang larut, bagaimana kuliahku, hingga mereka tak tahu aku pergi melampiaskan marahku di club, meneguk ber botol-botol minuman yang pernah aku kutuk karena minuman itu yang membuat kakakku keluar masuk rumah sakit hingga hidupnya berakhir, dan sekarang aku tak bisa menyalahkan kakakku, karena akupun merasakan hal yang sama meski terkadang ada sedikit perasaan menyesal telah mengikuti jejak kakak ku. Aku tak tahu apakah mereka akan perduli atau tidak, marah atau tidak, murka atau apalah dengan surat ini yang akan aku bawa ke rumah. "nak, kau tak apa?". Lamunanku buyar seketika, kini bapak kepala jurusan menatap dalam mataku seolah mencari sesuatu yang membuatku membisu sejak tadi, aku segera memaling tak ingin membuat orang lain mengasihaniku. Persetan. Jangankan mengasihi, memahami pun tidak pernah ada, toh aku juga tak peduli. "tidak pak, saya akan menyampaikan surat ini pada orang tua saya, saya mohon permisi pak". Aku menyenangkan kepala jurusan dengan mengatakan jawaban itu, mungkin. Surat yang malang, kau akan berakhir di tempat sampah, bukankah lebih baik daripada kau ditertawakan oleh semua penghuni club nanti?.

Aku sudah lelah berjalan tapi entah mengapa belum juga sampai di tempat parkir, kini langkahku malah membelok ke arah lapangan, langkahku seolah ada yang menuntun meskipun sepertinya pikiranku hampir kosong dan berjalan layaknya robot, aku merasa kini badanku tanpa tenaga. Aku terus berjalan dan kini kedua kakiku sudah berada di tepi lapangan, tak mampu lagi diajak berjalan, aku berpapasan dengan seorang gadis berambut panjang yang tak asing lagi untukku. Ia mengenakan kemeja krem dan rok hitam dengan dasi batik yang diikat sederhana, aku menyukai seragam itu terlebih ketika melekat di badannya, aku masih ingat aroma mawar di baju itu ketika aku menyandarkan kepalaku di bahu pemiliknya, mendengarkan lagu di pantai selepas pulang kuliah. Ia menyimpulkan senyum yang membuat pipinya tertarik, membuatnya terlihat tembem, aku suka, aku suka dan aku merindukan pipi itu saat cemberut ketika aku mencubitnya. Iya, kenangan itu sekitar beberapa bulan yang lalu, lalu aku sengaja menjauhinya, aku jalang, aku tak ingin dia diganggu teman-temanku, aku tak ingin membahayakan hidupnya meski itu menyakitinya, ia semakin mendekat tapi pandanganku semakin mengabur. Gravitasi serasa seratus kali lebih kuat dan aku merasa seperti ditarik ke bawah, lututku, lenganku, kepalaku, aku merasakan sebuah cairan mengalir dari hidung dan merambah bibirku lalu jatuh ke lenganku, cairan berwarna merah, mataku hampir meredup tapi aku masih bisa melihat gadisku itu mendekat dan semakin mendekatiku, kurasakan tangannya menggenggam pergelangan tanganku, semakin erat. Aku tersungkur, mendengar suara yang ku rindukan itu memanggil namaku, namun semakin memudar, matahari tak mampu menembus pandanganku, mataku serasa memaksa untuk menutup dan seketika teriakan dan bayangan gadis itu hilang, hanya gelap.

Marni (Marni Supardi


Bukan Sebuah PenyesalanWhere stories live. Discover now