Reborn

121 10 4
                                        

Apa kalian percaya akan adanya kiamat? Bahwa dunia akan musnah, lalu akan terlahir lagi dan semuanya kembali seperti sediakala?

Apa kalian percaya dengan Reinkarnasi, Kehidupan setelah kematian, serta Hari Penghakiman?

Percaya?

Mungkin saja tidak. Tapi kami percaya.

Aku ... percaya.

* * *

Entah sudah yang keberapa kalinya dalam sebulan ini aku duduk di dekat jendela istana, mengamati keadaan bumi lewat teleskop.  Sungguh miris. Bumi semakin menyedihkan.

Gempa bumi.

Kebakaran hutan.

Es meleleh.

Kekurangan air bersih.

Perang di mana-mana.

Bumiku ... hancur.

Aku menghela napas sedih. Kalau  saja bisa, aku sudah menangis meraung-raung sejak tadi. Namun apalah daya? Aku hanyalah makhluk yang diciptakan dengan ekspresi teduh. Tidak bisa menangis. Tidak bisa bahagia. Tidak bisa marah.

"Sudah waktunya."

Suara lembut yang berwibawa itu membuatku menoleh. Sesosok bercahaya dengan baju putih itu menatapku teduh.

Yang Mulia.

Aku mendesah. "Benarkah sudah waktunya?"

"Ya. Luluhlantakkan bumi sekarang juga."

Perintah itu bernada lembut namun tegas. Entah kenapa, mendengarnya saja hatiku tersayat. Perih.

"Kenapa mereka tidak bisa menjaga bumi?" Aku bertanya lirih dan menunduk.

"Karena manusia makhluk yang tidak pernah puas. Lagipula, sudah Kukatakan dari jauh hari bahwa Hari Penghakiman akan tiba, supaya mereka bisa bersiap-siap. Dan inilah saatnya."

Aku memberanikan diri mendongak menatap Yang Mulia. "Tidak bisakah kita memberi manusia kesempatan lagi?"

Yang Mulia mendesah lelah. Mata teduhnya meredup, digantikan oleh cahaya kepedihan. Mendadak aku merasa bersalah atas pertanyaanku tadi.

Yang Mulia menatapku. "Mereka sudah ratusan kali Kuberi kesempatan. Kau yang paling tahu itu, Angel. Namun tampaknya, semua kesempatan yang Kuberi tidak pernah dimanfaatkan dengan baik. Mereka tak dapat lagi diperbaiki. Mengertilah, ini juga berat untukKu. Lebih-lebih karena Akulah yang menciptakan mereka."

Aku menghela napas, kemudian mengangguk. "Baiklah. Kami akan meluluhlantakkan bumi."

* * *

Aku menghela napas sejenak sebelum mengangguk sebagai kode untuk semua rekanku. Mengerti kode dariku, mereka segera menyebar ke seluruh Bumi dan melaksanakan tugas berat ini.

Tak perlu menunggu lama, semua bencana timbul bersamaan.

Gunung meletus.

Tsunami.

Gempa bumi.

Es meleleh.

Hutan terbakar.

Perang hebat.

Inilah akhirnya. Umat manusia musnah oleh keserakahan mereka sendiri. Dan aku ... aku hanya menyaksikan bagaimana bumiku luluh lantak.

Semuanya usai.

Semuanya hilang.

* * *

Aku mengarahkan jiwa-jiwa untuk terbang menuju tempat Hari Penghakiman, memastikan mereka sampai dan Bumi betul-betul kosong. Setelahnya, aku kembali ke Bumi untuk melanjutkan pekerjaanku.

Dalam sekejap, bumi kembali seperti sediakala, ke awal terciptanya. Keseimbangan alam terjaga. Seluruh komponen bumi saling berikatan membentuk satu kesatuan.

Aku tersenyum. Bumiku ... terlahir kembali.

***

Untuk seluruh jiwa yang berdiam di muka bumi,

Rawat dan jagalah tempatmu berpijak saat ini. Karena kau tak tahu, berapa lama lagi kau dapat menikmatinya.

Salam,

Angel

END

Reborn [1/1 END]Stories to obsess over. Discover now