LIMA DETIKMU

30 3 0
                                        


Aku melangkah penuh keraguan.Bukan tanpa alasan, sudah 8 tahun kutinggalkan rumah yang penuh kenangan itu.Kulihat ibu sedang menyirami tanaman yang tertata rapi di beranda depan.Tidak banyak yang berubah,hanya warna dinding yang terlihat usang dan ibu yang terlihat lebih tua.Ya Tuhan..... Aku benar-benar berdosa,kutinggalkan ia tanpa kabar berita.

"Dimas? Ternyata kamu le... Kemana saja kamu selama ini le.." Ibu begitu terkejut melihatku datang.
"Bu, ibu sehatkan? " Hanya kata itu yang bisa kuucapkan meski hati ini terasa sesak menampung rindu selama satu windu.
"Sehat le,kamu kok 8 tahun ndak ada kabar le, apa kamu gak kangen sama ibu? " Ibu menatapku sambil berkaca-kaca.
Aku hanya tersenyum.Aku sangat rindu bu.
"Sini le, duduk sini cerita sama ibu"Ibu membimbingku ke kursi yang ada didekat pintu rumah.

Ku ceritakan pada sosok tua yang sangat aku sayangi itu,kisah penuh perjuangan di negeri orang.Aku yang saat itu baru satu bulan mendapat ijazah SMA ,pamit mencari kerja.Aku mendaftar beasiswa kuliah sambil bekerja di Singapura.Dengan biaya hidup yang sangat pas-pasan aku bertahan di perantauan.Empat tahun kurampungkan studiku,lalu aku bekerja di bank pusat Singapura.Saat inilah aku baru diizinkan cuti pulang kampung.

"Syukur le,ternyata kamu sudah jadi orang le" Ibu mengusap pipinya yang dialiri tetesan air mata.
"Bu,bagaimana kabar Eliana?" Akhirnya kutanyakan juga, partanyaan yang ingin kuucapkan sejak tadi.
"Oh Ana,dia sekarang sudah jadi dokter,kerja di RSUD.Ibu buatkan soto kesukaanmu ya le? Apa kamu mau istirahat di kamarmu yang dulu? Masih ingetkan yang mana? " Ibu tertawa kecil.
"Inget dong bu" aku jg ikut tertawa.
Ibu berlalu menuju dapur.Aku masih duduk di beranda depan.Ku lihat rumah bercat putih yang terletak tepat di depan rumahku.Apakah Ana masih mengingatku?

🍀🍀🍀🍀

Masih jelas melekat ingatan tentang Ana dalam otakku.Aku dan Ana bertetangga sejak kecil.Saat sekolah dasar aku berada dalam satu kelas yang sama dengannya.Dia pediam bahkan cederung murung.Sebagai anak tunggal dia terlihat sangat kesepian.Tapi aku tak berani untuk menegurnya.Setiap pagi aku berjalan di belakangnya.Dia selalu bersikap acuh tak acuh.Suatu hari kuberanikan untuk menyapanya.Tapi yang ku dapat hanya tatapan yang tak bisa kubaca maksudnya.Entah dia bingung,heran atau kaget.Hanya 5 detik dia menatapku,lalu ia berjalan lagi.

Dia tak punya teman, padahal Ana sangat cerdas.Bahkan aku tak pernah berbicara atau ngobrol dengannya,bermain pun ia tak pernah.Saat SMP aku dan Ana mendaftar di sekolah yang berbeda.Akupun semakin jarang melihatnya,dia berangkat lebih awal dengan mobil yang dikenmudikan ayahnya.Hanya hari minggu pagi Ana menyirami bunga-bunga cantik di taman kecil miliknya.Aku selalu tersenyum menyapanya,tapi tetap saja tatapan 5 detik yang kudapat,masih dengan cara menatap seperti sebelumnya.

Menginjak masa SMA aku satu kelas lagi dengan Ana.Dia tak pernah berubah,pendiam dan murung.Suatu hari ia sakit,ku dengar Ana di opname selama 3 hari di rumah sakit.Sore itu dia datang ke rumah,menanyakan tugas dan pelajaran yang ditinggalkan selama 3 hari.Padahal jelas sekali dia masih sakit,terlihat dari raut wajahnya yang pucat.Aku sedikit tak tega melihatnya memaksakan diri.
Sejak itu aku mulai berani mengajaknya bicara.Awalnya Ana masih enggan berbicara denganku tapi lama kelamaan aku dan dia terbiasa mengobrol.Semakin hari aku semakin akrab dengan Ana kami sering belajar bersama di rumahku jika ayah dan ibunya pergi, entah mengapa.Meskipun cukup dekat Ana tak pernah menatapku lama,hanya 5 detik,selebihnya ia lebih banyak menunduk .Suatu siang sepulang sekolah aku dipanggil oleh ayahnya.Wajahnya tak bersahabat.
"Siapa namamu? " Suara dinginnya terasa menusuk dihatiku
"Dimas om"
"Ooo Dimas.. Seperti yang kamu tahu,Eliana selalu juara satu di kelas.Saya tidak mau jika prestasinya menurun karna main terus ke rumahmu.Jangan sekali-kali kamu dekati putri saya.Kamu itu siapa? Masih ingusan.Kalau kamu sudah lulus kuliah dari luar negeri atau kerja di perusahaan besar barulah kamu boleh dekati anak saya."Suaranya masih tetap dingin dan terkesan angkuh.
Akhirnya aku mengerti mengapa Ana tak pernah mau ke rumahku jika orang tuanya ada.Aku pun tak pernah berani menyapa Ana lagi,begitu juga Ana.

LIMA DETIKMUWhere stories live. Discover now