Prolog

413 49 37
                                        

Hari baru, sekolah baru, lingkungan baru, dan hal baru lainnya baru akan dimulai. Ayah mendapatkan tawaran kerja dari perusahaan lain dengan gaji dan pangkat lebih tinggi, itu merupakan hal bagus dalam karirnya dan dia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Tentu saja untuk mencapai tujuan yang lebih baik ada hal yang harus dikorbankan, kami sekeluarga harus ikut pindah bersama ayah, jika kami hidup terpisah maka pengeluaran rumah tangga akan semakin membesar dan tidak ada gunanya seluruh kenaikan pangkat dan gaji itu.

Hari pertama aku tiba di perusahaan baru ayah, kami telah menempuh perjalanan dua hari satu malam dengan mengendarai bus antar lintas provinsi.

Bus berhenti disebuah perkampungan yang dilewati oleh jalan lintas, disana telah menanti perwakilan dari perusahaan yang akan mengantarkan kami kelokasi kerja ayah dan tentunya kerumah baru kami, di tengah malam sekitar dua jam kami mengendarai mobil masuk kedalam perkampungan dalam, melewati hutan dan perkebunan perusahaan, akhirnya sampailah kami ditujuan.

Dengan mendapatkan jabatan sebagai kepala manajer lapangan tentu saja rumah yang kami tempati lebih besar dibanding rumah karyawan lain, terlihat nyaman ditengah keheningan kebun sawit yang seakan menyelimuti tempat kami bernaung.

"Ayo semua tidur, abang, adik!" Seru ibu menyuruh kami tidur. Walupun terdapat tiga kamar namun adik tetap ingin tidur bersamaku, mungkin dia masih asing untuk tidur sendiri dirumah ini.

Pagi ini aku membuka mata dengan perasaan masih mengantuk, berjalan perlahan keruang tengah, meninggalkan adik yang masih tertidur dikamar yang berantakan.

"Sarapan diatas meja bang!" seru ibu yang berbicara agak keras dari dapur karena dia sedang memasak. Aku tidak menjawab perkatan ibuku, kemudian aku duduk dikursi meja makan, mengambil sekitar lima atau tujuh centong nasi goreng dan aku memulai sarapan pagi ini.

"Ayah sudah mulai kerja bu ?" tanya ku.

"Iya bang, padahal ayah belum istirahat yang cukup," jawab ibuku.

"Tempat ini terlalu terpencil bu, mau sekolah diluarpun hanya ada SMA kampung." Aku berkata pada ibu sambil menghentikan makan, kemudian melanjutkannya lagi.

"Tadi malam ayah sudah berbicara pada ibu. Ada kota disini, kira-kira dua jam dari jalan besar, mungkin sekitar 4 atau 5 jam dari sini, abang akan sekolah disana! adik biarlah, dia juga masih SD, SD kampung juga tidak terlalu buruk," ujar ibu.

"Lima jam, lama banget bu." Menghentikan makanku dan menghampiri ibuku diruang dapur.

"Abang nanti ngekos disana tidak mungkin pulang pergi dari rumah kesekolah tiap hari," ujarnya dengan tangan yang sambil mengaduk sayur didalam wajan.

"Ayah akan sibuk minggu-minggu ini, jadi besok kita akan kekota mengurus kepindahaanmu, sekarang lanjut makan lagi sana," sambungnya. Aku terdiam dan kembali kemeja makan dan melanjutkan sarapanku.

Dua hari berlalu ...

Hari baru, sekolah baru, lingkungan baru, dan hal baru lainnya aku mulai hari ini. Setelah hari pertama kami habiskan mencari kos-kosan dan hari kedua untuk pengurusan pemindahan dari sekolah lama kesekolah baru, hari ini adalah hari pertamaku sekolah.

Hari pertama aku memasuki kelas bukan pekerjaan yang sulit untuk menemukan teman-teman baru, dengan sikap ramah mereka tentu bisa menerima keberadaan siswa baru sepertiku, dihari pertamapun aku bisa mengenal seluruh teman sekelasku.

Pada saat istirahat aku sebagai rombongan termuda diatara kelompok bermainku yang seluruhnya pria, aku hanya mengikuti kemana mereka pergi, dan tujuan kami adalah kantin.

Dari teman lama ku hal yang sama kujumpai pada teman baruku, pasti ada salah seoarang yang makan lebih namun hanya membayar sedikit, hal itu sering membuatku tersenyum lucu, dan merekapun sering tertawa dengan lelucon-lelucon yang aku buat.

Jangan Pergi : The GirlOpowiadania do pokochania. Odkryj je teraz