#Gundah

441 11 2
                                        

Jakarta, 23 Juli 2016

Sore menjelang malam terasa hampa. Hampa karena apa? Jika kau tanya maka aku akan menjawab, karena sebuah rasa yang tidak pernah tersampaikan. Sebuah pati rasanya yang rasanya tersimpan sendiri. Dengan segala kegundahan yang tak berujung.

Rasa tetaplah rasa. Hening tetaplah gelap dan sunyi. Untuk apa hening itu menjalar di seluruh sanubari, kalau pada akhirnya lerung itu terisi penuh dengan gundah.

Untuk apa pula rasa sepi terus merambat dalam gelapnya malam, kalau pada ujungnya perasaan itu tertambat pada sebuah kehampaan.

Dan untuk apa pula senja menjadi malam?. Untuk membuat aku menangis? Untuk membuat aku semakin gundah dengan perasaan aneh ini.

Pergilah gelap dan datanglah lembayung senja. Enyahkan gundah ini. Enyahkan sebuah rasa yang tiada berhenti menggelayutiku. Berhenti untuk mencari perasaan yang nyatanya tak pernah ada untuk ku.

Hanya aku. Menunggu dalam diam. Menunggu dalam dingin dan sunyinya malam. Untuk apa aku lakukan itu? Karena pada dasarnya aku ingin lepas. Ingin lepas dari gundah dan perasaan aneh ini.

Kau tahu, senja selalu berwarna sedangkan malam selalu gelap. Hanya ada bulan dan juga bintang. Mereka saling berjauhan. Tidak mau mendekat atau di dekati. Saling menjauh, tetapi saling menyinari.

Gundah itu menelan ku. Menelan seluruh rasa dalam hatiku, lantas membiarkan aku terjebak dalam satu cahaya tanpa membiarkan aku melihat cahay lainnya.

Gundah? Apakah gundah itu membuat aku lupa bahwa kau tak akan pernah melirikku barang semenit. Tapi apakah kau tahu, gundah itu ada. Jika kau tanya dimana? Maka aku akan jawab didalam relung hatimu.

Rembulan, apa yang kau gundahkan? Apakah itu karena bintang-bintang lain yang mencoba mendekati hatimu. Rembulan, kulirik matamu, ku berikan segalanya padamu. Kau ingin jiwaku, aku berikan padamu, Rembulan. Kau ingin, hatiku bahkan kebenaran dari perasaanku, maka aku akan memberikannya padamu seorang, Rembulan.

Katakanlah pujangga ini seorang perayu akut yang ingin merebut hati pujaannya. Merayu dalam ketidak pastian, dan mendapatkan penolakan.

"Kamu tak akan pernah bersungguh-sungguh dengan ucapanmu, bukan?"

Terlampau sakit untuk di utarakan dalam kata, Rembulan. Kau menolakku dalam sekejap, membuatku telak dalam sedetik.

Rembulan, aku gundah kau-pun juga gundah. Kau menelan kegundahan itu dengan meninggalkan sejumput rasa hangat dalam dada. Kau membuat semuanya rerasa indah dalam kegundahan nyata ini.

"Aku gundah, Bintang. Tapi aku tak pernah mau menunjukkannya padamu. Aku terlampau nyaman seperti ini denganmu, Bintang." Kau, Rembulan yang jaraknya tak jauh dariku, tapi terasa sangat jauh untukku gapai.

Wahai Rembulan, pernahkah kau sadar kalau aku ini sangat menyukaimu. Menantikanmu dalam malam, menunggumu dalam keheningan pekat walau aku ini menunggumu terlalu lama.

Menelungkap-kan kepala di atas meja, "Rembulan, aku masih gundah menunggumu. Gundah ini tak akan pernah hilang, sampai aku tidak tahu harus berbuat apa."

Berhenti sesaat, lantas aku memandang keatas langit hitam pekat, "Rembulan, cepatlah datang. Rengkuh tubuhku dalam dekapanmu. Berikan aku secarik kepastian dan kebahagian, Rembulan. Rembulan, aku akan tetap menunggumu disini walau aku tahu kau tak akan mungkin datang."

RembulanWhere stories live. Discover now