FRIST

40 3 0
                                        

Sudah sejak 10 menit yang lalu Meila membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan mata terpejam, mengingat betapa melelahkannya seminggu belakangan ini.

Dimana dia yang harus bangun lebih pagi. Dan berlari dari gerbang sekolah menuju lapangan, sebelum itu juga dia harus menghadapi kaka kelas yang mengomelinya karena tidak membawa perlengkapan.

Tidak berhenti sampai disitu. Saat semua kegiatan berlangsung pun dia harus berada di ruang yang membuatnya pengap. Dengan rasa keroncongan yang terus menghantuinya selama 4 jam lebih.

Dan lelahnya tidak hanya pada tubuh juga pada otaknya. Fikirannya yang terus menerus tertuju pada semua kegiatan seminggu ini, pada semua orang yang terlibat di semua kegiatan seminggu ini. Terutama pada salah satu kaka kelasnya.

Meila mengacak rambutnya selama beberapa detik. Menghembuskan nafasnya secara kencang. Berharap semua bebannya hilang bersama dengan hembusan nafasnya.

Namun sayang, semuanya tidak berubah.

Suara pria itu masih jelas mengiang di telinga kanan dan kirinya. Setiap mata Meila di pejamkan entah kenapa wajah itu berulang kali muncul.

Semua tentang apa yang pria itu lakukan selama seminggu ini mampu membuat Meila memikirkannya setiap malam. Menghentakan kakinya jika sudah teramat kesal akibat tingkah laku otaknya yang selalu terfokus pada pria itu. Atau memaki matanya jika teringat selama ada pria itu maka semua pandangannya hanya untuk pria itu.

Meila juga tidak tau, mengapa harus dia yang merasakan pesona pria itu. jika ditanya, apa sih yang ngebuat Meila rela mikirin cowo itu? Ya Meila juga bingung mau jawab apa.

Sebab sejak pertama pria itu mengenalkan dirinya di depan semua siswa baru hati Meila terenyuh.

"Nama saya Galih Lutfi Handika Ferdinan. Hapal?"

Dengan tatapan mata yang entah di buat-buat atau memang itu adalah poin lebih dari pria itu. Yang jelas, saat pria itu menyebutkan namanya riuh gemuruh dari siswa perempuan menggema. Tidak termasuk Meila. Dia diam. Menahan semua deburan jantung yang membuatnya lemas.

"Ka Dinan ini jago nyanyi loh. Ada yang mau dengerin?"

Entah itu termasuk pertanyaan atau tawaran. Yang pasti setelah salah satu kaka kelas melontarkannya semua menjadi riuh melebihi saat pria itu memperkenalkan dirinya.

"Gak gak boong."

Pria itu dengan segala caranya mencoba mennyanggah semua fakta tentangnya. Hingga akhirnya pada satu titik iya menyerah, pasrah dan mengambil microfone yang tersisa.

Berada di pelukannmu
Mengajarkanku, apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan cinta.

Sepenggal lagu itu membuat hampir semua perempuan yang berada pada ruangan yang sama -dengan asal suara- bertepuk tangan dengan decak kagum. Serta suit suit jahil dari para siswa pria yang membuat suasana menjadi riuh. Sampai sang ketua osis membuat ruangan itu kembali tenang dengan perintahnya.

Meila lupa bagaimana kejadian setelah itu, yang jelas dan sangat ia ingat. Saat pria itu bernyanyi dia tidak bisa bernafas, seolah semua nafasnya tertarik bersama lagu yang dinyanyikan. Saat semua perempuan -kecuali dirinya- menepuk tangankan Meila justru sibuk menormalkan kembali deru nafasnya.

Meila tersenyum membayangkan semua itu. Betapa indah wajahnya, senyumnya, dan hal yang paking para perempuan suka adalah suarnya.

Dan bayangan lain muncul, saat dengan tegasnya pria itu memarahi semua siswa baru yang selalu ribut ketika pertama masuk aula, Meila kira dia adalah pria lembut yang tidak pernah berbicara keras. Namun nyatanya bukan hanya hari itu, pria itu juga tidak hanya sekali dua kali dalam hal memarahi siswa baru yang melanggar aturan.

Senyumnya terhenti saat menyadari jika ia tidak mungkin mendapatkan pria itu. Dirinya lemah, sedangkan pria itu dan semua perempuan pengagum pria itu adalah perempuan hebat.

Ah lagi pula siapa yang mau dapetin cowo itu, toh Meila juga dari awal udah sadar diri.
----------

Siapa yang mampu menciptakan kamu?
Tuhanku?
Siapa yang memiliki kamu di dunia?
Jika belum ada tolong izinkan aku.
Tapi harus selamanya.

Maaf saya tidak menerima penolakan.

MIDDLEWhere stories live. Discover now