Zea termangu, ia tahu ia terluka, namun ia hanya diam tak bisa melakukan apa-apa selain merelakannya pergi. Semua yang berjalan dalam pikirannya sudah berhenti, ia tak ingin memikirkan apapun sebelum lelaki itu hilang dari pandangannya.
"Kamu nggak nangis?.". Zea menggeleng, ia lalu menggigit bibirnya.
"Padahal aku berharap kamu adalah orang yang nangis paling kenceng waktu aku pergi.".
Zea menatap tepat kearah lelaki di depannya, matanya sudah berkaca-kaca. "Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau aku nangis? Ngehibur aku pun itu udah gaada artinya lagi kalau kamu tetep pergi.".
Ia mati-matian menahan tangisannya. Lalu lelaki itu segera menarik Zea dalam pelukannya, membiarkan air mata Zea jatuh bebas disana.
"Aku nggak akan ngehibur kamu, aku akan dengerin tangisanmu sampai berhenti.".
YOU ARE READING
Other Wish
Teen Fiction"Trust me, I Love You.". Dimulai dari kebersamaan. Semua yang ia rasakan baru terungkap saat dimana ia tak lagi dapat sebebasnya bersama gadis itu. Ia seperti dijatuhkan tinggi-tinggi dari harapannya dan dibiarkan terberai hancur. Lalu ketika ia...
