You and Me @1

4.6K 223 4
                                        

"Oh sorry sorry... Aku ga sengaja, ak-....."

"Ah iya ga apa, gue yang salah tadi melamun."

"Lexa?"

Aku berhenti memungut apel-apel yang jatuh dan mendongak. Oh astaga, Raka! "Long time no see, Rak! Kamu apa kabar?" Tanyaku langsung menarik Raka berdiri dan memeluknya.

"Hai Lex, hahahaa... Masih kayak dulu aja, suka banget meluk." Balasnya yang ikut memelukku juga.

Aku meleletkan lidah, "Jadi kamu mau aku salamin doang?" Cibirku yang langsung mendapat kekehan dari Raka. Lesung pipinya tampak jelas dan sukses membuatku tersenyum simpul.

Masih sama seperti Raka yang dulu...

"Gitu aja ngambek sih. Hahaha... Kalau bisa sih ga cuma dipeluk, tapi dicium juga." Canda Raka yang ku hadiahi cubitan di perutnya. Aku tidak mempedulikan ringisannya dan kembali berjongkok memunguti apel. Dari dulu Raka selalu saja suka menggodaku.

Hm... harusnya ada sepuluh, kenapa apelnya hilang satu ya?

"Cari ini, Lexa?"

Aku kembali mendongak dan mendapati apelku yang sudah digigit Raka. Aih aihhh.... "Raka, jorok ah! Kan apelnya belum dicuci." Seruku lalu merebut apel dari tangan Raka. Seperti dulu juga, Raka langsung menarik tangannya tinggi sampai aku tidak bisa menjangkaunya.

Menyebalkan!

Tapi sama seperti dulu...

"Kaaaa, nanti sakit perut! Siniin apelnyaaaa....." Pintaku.

"Aku laper Lexxx..."

"Terussss?" Aku masih berusaha menjangkau apel dari tangan Raka. Tanpa aku sadar, Raka sudah melingkarkan tangan bebasnya di pinggangku.

"Have lunch with me?"

"Cheesy banget sih cara ngajak makannya!" Aku berhenti meraih apel dari tangannya, menggantinya dengan pukulan pelan di dada Raka.

"You know me so well, Alexandra." Raka memamerkan gigi-giginya. Apel yang digigitnya langsung dibuang ke tong sampah terdekat, dan seenaknya langsung menggiringku pergi.

Dasar!

"So, gimana Amrik? Udah lulus kan sekarang?" Tanyaku sambil terus berjalan kemana pun Raka membawaku. Ah, aku yakin ke restoran di ujung jalan. Restoran favoritnya dari sejak kami masuk SMA.

"Jangan ngeremehin gitu dong. Hahahaa, gini-gini aku uda lulus loh!" Bangganya.

"Cum laude?" Tanyaku dengan sedikit sinis.

"Kamu ngeledek ya?" Dia menoleh dan aku balas menatapnya dengan gigi yang sengaja ku perlihatkan padanya. Alhasil aku malah mendapat cubitan di hidung. Auw! "Kamu sendiri gimana? Ngapain aja selama aku ga ada?"

Belum aku menjawab, sesuatu menempel di kepalaku. "Panas banget soalnya." Jawab Raka sebelum aku bertanya kenapa dia memberikan topi baseballnya kepadaku.

Bukankah ini yang selalu sukses membuatku jatuh hati pada Raka?

"Jakarta emang selalu panas, Rak!" Sahutku sambil membetulkan letak topi yang Raka pakaikan. "Hm... Aku ngapain ya? Well, sekarang sih lagi diajak makan sama cowok ganteng. Mudah-mudahan aja setelah dipuji, cowoknya langsung nraktir makan." Katakuku dengan maksud terselubung.

Bukannya cubitan di hidung yang biasa aku dapatkan, mendadak kakiku tidak menyentuh tanah. Aku menjerit. "Raka turunin!" Rasanya topi yang Raka pakaikan ingin sekali kugunakan sebagai penutup muka. Bikin malu saja, untuk apa juga Raka menggendongku seperti tuan putri di tengah jalan seperti ini?

"Yahhh.... Karena udah dipuji, selain traktiran yaaa cowok ganteng ini mau gendong kamu sampe restoran. Biar ga pegel!"

What?

"Gamau Rakaaaaaa!" Teriakku yang hanya dibalas kekehan.

Malu rasanya,tapi percuma saja. Dialah Raka, satu-satunya kaum Adam yang ku kenal selalu suka menjadi pusat perhatian. Bukan karena keinginan dirinya yang suka menarik orang tapi tanpa disadarinya, selalu saja orang-orang tertarik ke arahnya.

"Sampai!" Raka menurunkanku tepat di depan restoran. Ugh, malunya itu yang tidak tahan. Walau ini bukan yang pertama kali, tapi ini cukup membuatku ingin ditelan bumi dalam waktu sesegera mungkin.

"Ka! Jangan kayak gitu lagi ah, malu tau diliatin orang. Kayak anak SMA labil aja!" Ngambekku. Bahkan tanpa peduli tatapan orang, aku sudah cemberut total di depan Raka yang menampilkan tampang tanpa dosa.

"Bodo! Sama kamu mah, aku akan tetap tinggal dalam masa SMA kita. Tetap jadi anak SMA yang seragamnya putih-abu." Kata Raka dengan senyum lebar sampai matanya hanya terlihat segaris.

De javu.

Dulu Raka pernah bilang hal yang sama. Di restoran ini, dan tepat di depan restoran ini. Tetap tinggal dalam masa SMA kita...

Masa SMA kita...

"Rak-...." Ucapanku terputus begitu saja saat Raka mengambil kembali topinya dan merapikan rambutku.

"Mikirin apa sih Lex. Udah ah, yuk makan!" Ajaknya dan langsung menarik tanganku masuk. "Kamu dan aku, kita makan bareng hari ini dan habisin waktu bersama sampe malem. Oke?"

You and MeStories to obsess over. Discover now