Chapter 1

102 26 18
                                        


CARISSA

"Ris, tolong antarkan bunga ini. Alamatnya disitu yah," teriak seorang wanita paruh baya.

"Mah, baru juga aku sampai. Udah disuruh ngantar bunga lagi," dengus kesal seorang gadis muda.

"Tolong lah. Alamatnya deket kok. Nih udah ditunggu mungkin sama orangnya" Carissa pun mengangguk pasrah. Ia kembali mengayuh sepedanya ke alamat tujuan yang tertera pada bucket bunga mawar putih yang diantarnya.

"Jalan muria nomer 12. Lumayan deket sih," gumamnya pelan. Ia Carissa Elsalinda. Saat ini ia duduk dibangku SMA. Ia bekerja sebagai seorang pengantar bunga di florist milik ibunya.

"Nah ini dia rumahnya," Carissa segera memakirkan sepeda miliknya. 'besar banget rumahnya' batinnya.

'Ting..tong..'

'Ting..tong'

Carissa membunyikan bel rumah tersebut. Ia disambut oleh seorang pemuda yang bisa dibilang, cukup tampan. Dengan short haircut, alis hitam tebal, hidung mancung dan juga tinggi, dia terlihat tampan jika dilihat dari segimanapun.

"Ini betul rumah tuan.." belum selesai Carissa berbicara, pemuda itu memotong perkataannya.

"Alfressco? iya betul. Sini," pemuda itu langsung mengambil bucket bunga yang Carissa bawa. Carissa hanya terdiam oleh sikap pemuda tersebut. Baru kali pertama ia menghadapi pelanggan seperti pemuda tersebut.

'apaan banget sih nih orang' Carissa bergumam dalam hati.

"Apanya yang apaan? lo gasuka? udah sono pergi!" Bagaimana bisa pemuda itu tau apa yang Carissa katakan tentang dia? pemuda itu langsung menutup pintu rumahnya.

**

Carissa masih memikirkan kejadian yang barusan saja terjadi. Sambil mengayuh sepedanya, ia terus berpikir

'kok dia bisa tahu ya? apa jangan-jangan..'

Tanpa sadar, ada seekor kucing yang hendak melintas. Carissa tersadar dari lamunannya dan segera mengerem sepedanya.

"Huhhh," gumamnya lega.

"Makanya neng, kalau naik kendaraan jangan sambil melamun," sambar tukang ojeg yang sedang mangkal.

"Hehe, iya mang. Lagi banyak pikiran soalnya" ucap carissa lalu melanjutkan perjalanannya. sesampainya di toko bunga, Carissa langsung di sambut oleh mamanya.

"Makasih ya riss," ucap Lia sambil tersenyum manis. "aku gamau lagi ngenter ke alamat yang tadi." ucap Carissa dengan nada sedikit kesal. "pembawa sial" gumam Carissa. Lia mengangkat alisnya "alamat mana? emang kenapa? kok bisa sial?" tanya Lia dengan bingung.

"huhhhh..." Carissa menghembuskan nafasnya pelan. "Jadi tuh tadi, aku nganter bucket bunga ke rumahnya pak Alfressco. Rumahnya gedeee banget," tutur Carissa sambil sedikit menyipitkan matanya.

"Terus?" tanya Lia. "Terus, tadi aku disambut ama cowok, lumayan ganteng sih,"

"Terus, dimana sialnya? keliatannya kamu malah seneng gitu? itu sih namanya rejekiii" potong Lia sambil terkekeh mendengar cerita dari anak sulungnya tersebut. Carissa hanya mendengus kesal. "Ihhh.. mamah, belum selesai ceritannyaaa" ucap Carissa kesal.

"Udah ah, kamu balik aja ke rumah. Udah sore. Ini masih ada pesenan. Kamu jangan lupa belajar ya. Ntar mamah pulang jam 7an" ucap Lia panjang lebar. Carissa langsung melirik jam tangan miliknya, "Oh, udah jam 5 aja" gumam Carissa.

"Yaudah, aku balik dulu ya mah" Carissa segera mengecup punggung tangan Lia. "Hati-Hati ya nak" Lia melambaikan tangannya seraya menatap kepergian Carissa.

***

"huhhh..." Carissa menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Carissa menatap langit-langit kamarnya dan menerawang kembali kejadian yang ia alami tadi. Ya, ketika ia mengantarkan bunga ke rumah tuan Alfressco.

"Bodo amat lah" gumamnya. Lalu ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. "anjir, dingin banget" ucapnya sambil keluar dari kamar mandi. ia pun berjongkok di depan pintu kamar mandi. "Mandi ga ya?" pikirnya. "gausah mandi ah. Badan gue juga masih wangi kok"

"Jorok lu!" teriak seseorang dari arah dapur.

"Apaan sih lu di! ngagetin gue aja" Carissa segera bangkit dan jalan menuju dapur. Di? Ya, dia Adi. Adik Carissa satu-satunya.

"Lagian, pake acara ga mandi. Gue yang cowok aja udah mandi gini." ucap Adi sambil sesekali menyeruput teh hangat yang sedari tadi ia bawa. "Lagian apanya yang dingin sih?" lanjutnya. "Mandi sono! lu bau! Busukkk" Adi tertawa geli dan langsung menaikki tangga.

"Adi kurang ajar!" gumam Carissa. "GUE DENGER" teriak adi dari lantai dua. "Ihh, dasar" Carissa pun terpaksa masuk lagi ke kamar mandi.

***

'ting..tong'

Suara bel menggema ke seluruh ruangan.

"Carlos, buka gih.." ucap seorang wanita yang masih terpaku pada layar ponsel miliknya. "Ogah.." ucap seorang pria lainnya yang tengah asik menonton film.

'ting..tong'

"aishh.. ganggu aja deh" terpaksa, Carlos harus bangkit dari posisi nyamannya. Carlos membuka pintu dan melihat sosok gadis 'mayan nih' batinnya. Gadis itu membawa buket bunga mawar putih. Carlos bahkan tidak tahu siapa yang memesan bunga tersebut.

"Ini betul rumah tuan.." belum selesai gadis itu berbicara, Carlos langsung memotong

"Alfressco? iya betul. Sini," Carlos pun langsung mengambil buket bunga yang sedari tadi dibawa oleh gadis tersebut. Tiba-tiba Carlos mendengar gadis itu membicarakan dirinya dalam hati.

"apanya yang apaan? lo gasuka? udah sono pergi!" Carlos mengusir gadis tersebut yang menurutnya hanya menganggu ketenangannya. Carlos pun langsung menutup pintu sambil membawa buket bunga tersebut.

"Kak Fir, lu pesen bunga?" tanya Carlos kepada Fira yang masih terpaku pada layar ponselnya. Fira menatap Carlos dengan muka bingung lalu menggeleng "kagak" timpalnya. "Bunga apaan tuh" tanya fira. Carlos menaruh buket bunga tersebut di atas meja. "Mawar putih" jawab Carlos singkat. "gue pikir lu pesen buat cewe" Carlos menggeleng. "Anti gue sama cewe yang suka bunga" Fira mengangguk.

"kira-kira siapa yang pesen ya?" tanya Fira. Mereka berdua, Carlos dan Fira, memandangi bunga yang tergeletak di atas meja.

"Dek tadi ada orang dateng nganter.." tiba-tiba mereka berdua menoleh ke sumber suara. perkataan seorang lelaki paruh baya itu terpotong karena ia sudah menemukan apa yang ia cari.

"ini dia" ucap lelaki tersebut. "hmm wangiiii" ia mencium bau mawar yang wangi dan segar. Fira dan Carlos hanya bengong memandangi tingkah lelaki tersebut yang sejatinya adalah ayah mereka. "Ga salah nih yah? ngapain ayah beli bunga?" tanya Fira yang sedari tadi bingung.

"sssttt, ini buat bunda. Jangan bocorin ke bunda kalau ayah beli mawar putih. Favorit bunda." ucap Geraldo Alfressco atau yang sering disapa Aldo sambil diselingi tertawaan kecil yang bahagia. Aldo kembali ke tempat asalnya sambil membawa buket bunga tersebut.

"Dari tadi kenapa gue ga kepikiran kalo di rumah ini masih ada ayah" ucap Carlos sambil memukul pelan jidatnya. "iya gue juga" Fira pun melakukan hal yang sama.

Jika sedang akur, mereka berdua bisa sangat kompak. Pernah suatu ketika, saat itu Carlos pulang dengan keadaan babak belur karena berantem. Fira yang jago dalam ber-make up, menutup luka memar di pipi Carlos dengan make up yang Fira miliki. Alhasil, luka memar tersebut benar-benar tersamarkan! itu terjadi ketika mereka sedang berdamai. Beda cerita ketika sedang bertengkar, saat itu mereka baru pindah ke rumah baru. Mereka berebut memilih kamar dan meneriakkan argumennya masing-masing. Tak tanggung-tanggung, mereka tak saling menegur hingga 3 hari! Tetapi, walaupun begitu mereka tetap saling menyayangi dan saling mendukung.

------------------------------------------------

Tolong Vote dan Comment yaa!

Silahkan comment jika ada suatu kesalahan!

-Sofia-

The Struggle of LoveWhere stories live. Discover now