The Truht

24 3 3
                                        

Apa aku terlalu bodoh...
Untuk percaya akan omong kosong ini?
Apa ini sebuah, mimpi? Jika ia bangunkan aku.!
Jangan biarkan ini terjadi.

Sophia menangis di sudut tempat tidurnya, air matanya tak berhenti-henti mengalir. Rasanya luar biasa sakit!! Jika rasa sakit ini bisa di ganti dengan sebuah luka yang di gores di tangannya, mungkin ia lebih memilih untuk merasakan luka di tangan, dari pada luka di hati.

Sesekali Sophia menatap undangan yang berwarna pink itu, memastika apa yang dia lihat itu adalah salah... tapi, sesekali itu juga tak berubah sedikit pun.
Tulisan itu masih sama Joe and Julia, Married in 14 feb 2017 12:00pm.
Hope you can coming, from Joe Alfiando To Sophia. Tidak ada yang berubah.

  'mencintaimu...
Dan menjaga kesetian ini, kurasa tidak cukup menyakinkan kamu...
Betapa besar cinta ini.
Hingga aku harus terluka'. Sebuah tinta pulpen yang tertulis di atas lembar kertas putih, hati yang begitu hancur! Dan kesetiaan selama ini. Kesetian selama ini kamu.namakan apa??

Mungkin saat ini Joe sudah pulang ke Medan, ke rumahnya. Segera tampa pikir panjang Sophia menghapus air matanya, dan mengambil sebuah jacket dan undangan pernikahan itu, yang tidak dia harapkan.

'
'
Sophia berdiri di balik pohon, depan rumah Joe, memperhatikan Joe yang baru pulang dari tempat kerjanya, nampak dari pakaiannya yang sangat rapi, memakai kemeja biru lengan panjang, jelana keper warna hitam yang serasi dengan dasi panjangnya yang berwarna hitam juga, dan sepatu hitam yang sangat keren dia kenakan... di tambah potongan rambut yang sudah berbeda menjadi potongan rambut Classic undercut. Dia benar-benar sangat berubah menjadi lebih keren.

Sophia hanya terpaku terdiam menatap dirinya yang kini sangat jauh beda dari Joe. Kaos oblong berwarna putih, dan jelana jeans yang ---- dan jacket coklat yang menambah gayanya yang tampak sangat berantakan dengan rambut panjang ikal yang di kuncir semua. Membuat dia tampak terlihat terlalu sederhana untuk seorang Joe yang mungkin sudah berubah menjadi seorang pria yang sukses.

Rasanya langkah kaki Sophia begitu berat untuk melangkah, "Joe...". Bisik Sophia dalam hatinya.

Dengan berat hati, Sophia memberanikan untuk menemui Joe dan bertanya tetang undangan ini. Yang terus ia pegang.

"Joe," panggil Sophia dengan nada yang pelan, tak ingin membuat keributan. Joe berbalik menatap arah suara itu.

"Sophia?" ucapnya yang langsung tersenyum memlihat hadirnya Sophia di hadapannya.

Rasanya sangat bodoh, tidak tahu harus mulai dari mana? apakah Sophia harus langsung bertanya tetang kesetiaan Joe? Atau, langsung bertanya tetang undangan pernikahan ini. Atau basa-basi dulu... membuat Sophia hanya memilih diam sejenak menatap Joe yang begitu berubah.

"Apa kabar?" tanya Joe yang mulai membuka percakapan.

'kamu bertanya kabarku? Setelah aku menerima undangan ini?? Apa ini penghinaan...? Atau sekedar basa-basi!'. Sophia tidak dapat menahan air matanya, yang mulai menetes membasahi pipinya, dan rasa kesal! Ya itu patah hati, yang di goreskan Joe. Begitu menyakitkan!!

Joe sadar..., mungkin keadaan Sophia saat ini tidak baik! Yang membuat dia hanya menunggu jawaban dari mulut Sophia sendiri.

"Buruk! " jawab Sophia dengan lantak!

Membuat Joe memilih diam, apa yang harus di katakan?? Bertanya kenapa? Seakan tidak tahu...?

Mereka hanya diam... menatap wajah masing-masing, tidak ada kata yang terucap, membiarkan detik demi detik terbuang...

"Aku menunggumu," ucap Sophia memulai percakapan lagi, "selalu..." Sophia tidak menangis seperti anak kecil, hanya saja air matanya terus mengalir, "aku selalu mengirim pesan, walau pun kamu tidak balas," lanjut Sophia, "tapi aku selalu menunggu..."

"Aku seperti orang bodoh! Lebih bodoh dari pada patrick...!
Atau, kamu yang jahat seperti musuhnya Thor!" kata Sophia yang semakin tidak tahan menahan amarahnya, "Aku, selalu menunggu kamu... Joe!" lanjut Sophia yang kemudian menangis hingga dia begitu malu di depan Joe seperti mengemis cinta, hingga dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Sophia..." kata Joe yang mendekati Sophia dan melepaskan tangan Sophia dari wajahnya, kemudian menghapus air mata Sophia, seperti pria sejati pada umumnya. Sophia terdiam dan membiarkan Joe menghapus semua air matanya, membuat dia teringat sebelum semasa Sma mereka.

*Flashback*

Semasa Sma...

*Sophia Pov*

Dia selalu hadir, saat aku sedih, saat itu teman-temanku tampaku sadari, telah menghiyanantiku. Dengan menjebakku, sehingga aku di skors dari sekolah selama satu minggu lamanya, dan orang Tuaku, sangat marah padaku.  dan Joe hadir... di saat aku membutuhkan, bahu... untuk menangis, tangan, untuk menghapus air mataku. Tapi, dari semua itu... kehadiran dia yang benar-benar aku butuhkan.

"Mau berjanji...?" ucapku yang mencoba berhenti menangis.

"Apa?" tanyanya yang tersenyum manis, dia tersenyum seperti malaikat, dia seperti kado yang di berikan Tuhan untuk menghapus semua luka Yang ada dalam hidupku.

"Jangan pernah tinggalkan aku..." pintaku, memohon padanya dengan menjatuhkan kepalaku di bahunya.

"Tampa kamu pinta, aku akan lakukan itu..." jawabnya. Yang membuatku selalu yakin, kalau dia adalah kado terindah dari Tuhan Untuk aku.

*Flashend*

Tapi kini... dengan menghapus air mataku. Bukan berarti dia dapat menghapus luka yang ada di dalam hatiku.

Dan apakah dia... yang selalu kuanggap adalah kado terbaik dari Tuhan, telah melukai perasaanku, hingga berdarah.

"Apa!" tangan Sophia melepaskan tangan Joe dari pipinya, tak ingin merasakan sakit itu lebih dalam "Kamu mau bilang apa??!" tanya Sophia dengan lantak. "Apa ada jawaban yang akan keluar dari mulutmu untuk menjawab semua luka di hatiku!!"

Joe terdiam, sesekali menghela nafas... "Tidak! Kamu hanya diam bagaikan patung!!" jawab Sophia yang menangis lagi, rasanya sangat kecewa... setelah penantian selama ini, hatinya di patahkan hanya dengan sehari dengan kertas undangan.

"Dan kamu minta aku harus datang kepernikahan kamu," lanjut Sophia memberikan undangan itu ke tangan Joe. "Kamu mau buat aku seperti orang bodoh? Atau kamu ingin mengejekku! Kalau aku benar-benar wanita bodoh!!"

"Sophia.." ucap Joe. Mungkin begitu banyak yang harus di ucapkan Joe pada Sophia, tapi... itu tak semudah membalikkan telapak tangan.

"Apa Joe?! Apa!?l lantak Sophia.

"Kamu salah paham..." ucap Joe, menghentikan air mata Sophia, apa hubungan kita selama ini adalah salah paham? Salah paham apa? Dimana nya salah...? 

"Salah paham,?" tanya Sophia, yang diiringi tawa yang mengejek, dalam hatinya dia benar-benar tidak tahu dimana salahnya, "satu-satunya jika harus ada kesalahan dalam hubungan kita adalah, salahnya di aku yang harus jatuh cinta pada kamu!!" lanjutnya menanggis.

"Salahku yang harus jatuh cinta pada kamu...
Salahku yang terlanjur sangat sayang pada kamu...
Salahku yang berpikir bahwa kamu adalah kado terindah dari Tuhan.
Semuanya salahku! Salahku!! aku terlalu bodoh untuk percaya setiap katamu! Salahku! Salahku!" teriak-teriak Sophia yang seperti orang gila. Pria mana... yang selesai melukai perasaan wanita, dan menganggap itu semua adalah kesalah pahaman.

"Sophia kamu salah paham..." jelas Joe yang mencoba menjelaskan sesuatu, namun Sophia seperti tidak mau mendengar, apa yg harus di dengar dari cowok yang melukai perasaanmu.

"Joe yang kamu kenal udah meninggal...!" jawab Joe, yang seakan menghentikan dunia Sophia. Apa ini kebohongan? Apa ini sebuah cerita yang sengaja kamu karang, supaya aku pergi...
Lelucon apa ini!!?

Sophia hanya terdiam...

Next Chapter...

Leave Your Vomment :D

Memory.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang