I lost Him.

29 2 1
                                        

'mencintaimu...
Dan menjaga kesetian ini, kurasa tidak cukup menyakinkan kamu...
Betapa besar cinta ini.
Hingga aku harus terluka'. Sebuah tinta pulpen yang tertulis di sebuah kertas putih.

Sophia tidak berhenti menghapus air matanya yang terus mengalir, sesekali dia menatap kertas undangan yang sudah ada sejak semalam. Penantiannya selama ini, hilang dalam sehari... apakah ini takdir? Atau apakah dia terlalu bodoh untuk percaya pada pria...

*Flashback*

Menjalin hubungan selama 3 tahun lamanya. Saat Sma membuatmu yakin untuk Ldr??

"Aku menerima beasiswa di sydney..." kata Joe, (yang saat itu masih menjadi kekasih Sophia sejak sma) tangan Joe tidak berhenti memegang tangan Sophia. Mungkin untuk menyakinkan Sophia bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Jika kamu tidak setuju, aku takan menerimanya..." lanjut Joe, hanya tersenyum tipis. Tapi Sophia tahu.. kalau Joe menginginkan beasiswa itu.

Ini bukan keputusan yang mudah, seperti membalikkan telapak tangan. Ini tetang masa depan Joe, yang artinya juga masa depan Sophia.
Sophia tidak ingin egois, dia tahu... bahwa Joe mempunyai otak yang sangat cerdas dan mimpi yang sangat besar untuk menjadi orang yang sukses.

"Ambilah..." jawaban yang sangat singkat keluar dari mulut Sophia, dengan di iringi sebuah senyuman yang sangat sederhana, tapi begitu memikat hati Joe.

"Kamu tidak keberatan jika kita harus Ldr?"

"Tidak..." jawab Sophia, "aku percaya kamu, karna aku mencinta kamu." biarpun hati terasa berat untuk mengatakan itu...

Joe hanya tersenyum lega, sambil memeluk Sophia "Aku juga mencintaimu."

"Aku lebih mencintaimu..." sambung Sophia tersenyum lepas sambil merayu Joe, dengan senyumannya.

"Setelah 3 tahun aku akan kembali, dan..." terhenti... dengan tersenyum lebar Joe melanjutkan ucapnya "melamarmu." lanjutnya dengan penuh yakin. Sophia hanya tersenyum, sambil dalam hati berharap...

*besoknya...*

Sophia mengantar Joe ke bandara, dan memberi sebuah ciuman di kening tanda bahwa dia sangat mencintai Joe.

"Tunggu aku ya," pintanya.

"Ehm.." jawab Sophia dengan menundukan kepalanya beberapa kali, yang artinya Ia.

mungkin itu pertemuan terakhir yang mesra untuk Sophia dan Joe.

Setiba di sydney... Joe langsung menelepon Sophia, mereka masih berhubungan sangat baik.

Saling menelepon, mengirim Email... kadang melakukan Video call, saat rasa rindu sudah sangat mencenkram hati mereka.

Mereka juga saling bercerita, apa saja yang terjadi di hari-hari mereka. Kesal, tawa, menangis, dan juga cinta... mereka bagi bersama.

Tapi... beberapa bulan berlalu,

Tidak ada kabar dari Joe... Email, pesan suara, video tidak di baca oleh Joe.

'Joe... lagi apa?' - send To Joe

'Joe, yang semangat ya...!!' - send to Joe

'pesanku tidak di baca, ehe
m... kamu lagi sibuk ya? ;( ' -send to Joe

Hingga pesan suara...

'Joe... kamu apa kabar? Sudah beberapa kali aku kirim pesan, kamu tidak baca... aku khawatir. Kamu baik aja kan??'

'Joe, aku rindu kamu... jawab dong'

Dan Video call

"Joe......" Sophia hanya terdiam, menatap layar monitor yang sedang merekam dirinya... rasanya begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Berlahan-lahan air mata mulai menetes dari matanya, namun sebuah bibir tak ingin menampakan jika jiwanya sedang sedih, bibir itu tersenyum... biar pun itu terpaksa, dan sebuah mata tidak dapat membohongi isi hatinya yang begitu sangat merindukan Joe. Merindukan saat mereka chatingan, telponan, dan video call. Bahkan saat mereka bertemu, "I miss you..." ucapnya yang langsung selesai merekam dirinya, dan mematikan laptopnya saat dia sudah selesai mengirim Video nya ke Joe.

*berbulan-bulan berlalu tidak ada jawaban Joe...*

Namun...

Sophia masih menunggu dan tetap setia, pada cintanya, dan yakin. Bahwa Joe akan kembali dan melamarnya sesuai apa yang di ucapkan Joe. Biar pun hatinya berbisik... mungkin Joe sudah berubah... tapi, yang hanya dia inginkan menunggu, dan mendapatkan jawaban.

Bahwa semua hal-hal buruk yang terbayang di pikiran Sophia adalah salah, dan menunggu mungkin yang terbaik untuk tahu. Pikir Sophia.

Dan waktu akhirnya menjawab semua pertanyaan Sophia.

*Flashend*
Setelah 3 tahun kemudian... menunggu dan berharap bahwa semuanya adalah salah.
Sebuah undangan terletak di depan pintu kost Sophia.

Yang saat itu Sophia baru pulang dari tempat kerjanya, yg sebuah tempat majalah remaja, untuk menulis sebuah cerita-cerita pendek yang di karangnya
Sendiri.

Sophia tiba di depan pintu kostnya, dan menemukan sebuah undangan... dia pun mengambilnya dan melihat isinya. Sekilas jantungnya terasa berhenti, matanya tak berhenti menatap isi undangan itu, yang dia harap... dia salah melihat, dan berlahan-lahan air matanya mulai menetes, dan membanjiri pipinya, tangan yang membungkam mulutnya, tidak tahu harus berkata apa... penantiannya selama ini, seakan terjawab, dengan apa yang tidak dia harapkan.

Sophia pun segera masuk ke dalam kostnya, dan melepaskan tasnya dan memperhatikan isi undangan itu, yang tertulis Joe and Julia, Married in 14 feb 2017 12:00pm.
Hope you can coming, from Joe. To Sophia.

Memory.Where stories live. Discover now