Prolog

355 9 1
                                        


ADELIA ZAHRA

"pesananan meja 11 finish chef" ucap salah seorang koki membawakan hidangannya.

Aku menatap tajam pada makanan dihadapanku sekarang, daging yang berwarna kecoklatan tertata rapi di oval plate dikelilingi dengan cabai merah yang sengaja dipotong kasar dihiasi daun selada sebagai garnish. Cukup menarik.

"apa mereka memesan gore gore?" tanyaku sesekali melihat kearah koki yang memasak gore gore ini

koki itu hanya mengangguk mengisyaratkan kata iya dari bahasa tubuhnya.
Aku diam, mengambil sendok dan mencicipinya sedikit

"apa kau memasak gore gore dengan rasa hambar??"

Pria didepanku menggeleng tanpa mengucapkan sepatah katapun

"jika ini makanan terbaik yang kau masak, lebih baik kau pergi!!" teriak ku berharap pria ini bisa mendengar dengan baik

"ulang!!!!" sambungku lagi

Koki itu cepat mengambil gore gore itu dari hadapanku, mengulangnya kembali, sungguh aku paling benci dengan kecerobohan, kelalaian dan membuang waktu, tapi yang paling membuatku benci adalah bahagia. sederet kata yang biasa digunakan orang orang untuk mengungkapkan rasa senangnya bukan berarti mereka tau apa arti bahagia sesungguhnya. aku hanya bisa tersenyum hambar ketika orang mengungkapkan kata itu tanpa ragu, tapi apakah kesenangan merupakan wujud dari kebahagiaan?, apakah semudah itu kata bahagia bagi mereka??
Aku menghembuskan nafas pada udara yang dipenuhi bau asap yang bercampur dengan aroma masakan Seandainya kebahagian itu memang ada, mungkin aku bukanlah salah satu orang yang tak percaya bahwa bahagia itu tak pernah ada dalam kehidupan nyata manusia, itu hanya angan angan belaka yang dihias orang dengan mengungkapkan itu sebagai gambaran dari kebahagiaan itu sendiri.
Dadaku mulai sesak dengan kecamuk fikiran yang membuatku harus menahan rasa sakit ini lagi dengan ungkapan itu, segera tanganku meraih pintu keluar, menariknya penuh kebencian
BUUK..

"aduuuuh"

Aku terkejut melihat seorang pria jatuh tepat dihadapanku, mataku mengerjab beberapa kali kearahnya sebelum mengalihkan pandangan kearah guest yang menatap tajam kearah kami termasuk para koki, tubuhku diam tak melakukan apapun yang seharusnya kulakukan untuk menolongnya berdiri.

"chef memang kejam, dia tidak membantu orang itu berdiri" bisik seorang koki pada yang lainnya membuatku mengalihkan pandangan kearah mereka

"apa aku menyuruh kalian untuk bergosip?" tanyaku tajam
"kerja!!!" teriakku mengembalikan keadaan seperti semula

Mataku beralih pada pria yang tak berusaha bangkit dari lantai, matanya kini menatap mataku tajam, sekejab kulihat bibirnya mengembang membentuk senyuman manis kearahku

"salam kenal" ucapnya langsung
Aku hanya diam tak memberikan respon apapun padanya termasuk juga sapaanya yang memuakkan itu, kakiku mulai melangkah ke sisi belakang restoran meninggalkan pria itu terbaring dilantai dan tatapan semua guest yang panjang mengarah padaku. Aku tidak peduli...

***

HERU HOWERT

Mataku menjelajah keseluruh ruangan restoran yang kuinjak sekarang, sofa-sofa panjang berwarna coklat diletakkan di sepanjang jendela besar yang menghadap pantai tepatnya mengarah pada patung burung elang yang menjadi icon pulau langkawi, dinding-dinding kafe berwarna coklat tua dengan lampu lampu jingga kecil diletakkan di atas atap tersusun dari kayu kayu yang diberi pernis mengkilat berwarna senada dengan dinding restoran, dan bangku-bangku restoran ditata rapi dengan napkin berbentuk bishop'smitre dihias diatas meja seperti table basic cover. Sungguh pemandangan di restoran ini membuatku nyaman. Kakiku mulai melangkah kedalam restoran menikmati hawa aromatic spa membiusku untuk bersandar santai di depan pintu kitchen
Tapi entah nasib buruk menimpaku atau memang hari ini tak baik, seseorang membuka pintu keras hingga keseimbangan tubuhku tak bisa kukendalikan dan jatuh mendarat tepat pada lantai
BUUK...

"aduh.." rintihku menahan sakit yang menjalar keseluruh sendi-sendi yang ada ditubuhku.

aku tak bisa bergerak semua nya terasa sakit sekarang dan orang yang membuka pintu tak juga menolongku untuk berdiri, setidaknya meminta maaf jika memang dia tidak sengaja. Aku mendongak kearah wajahnya. gadis itu, gadis yang pernah kutemui waktu itu, aku masih hafal dengan rambutnya yang ikal walaupun sekarang ia menyanggul rambutnya dan ditutupi heat cook, wajahnya yang familiar masih terekam dibenakku, perasaan ingin marah pada orang membuka pintu kuurungkan, refleks tanganku melambai dan mulutku bicara tak karuan

"salam kenal"

Memang konyol, tapi aku sangat ingin berkenalan dengannya, sungguh. Tapi sepertinya gadis itu hanya diam menatap tajam kearah mataku lalu pergi ke sisi belakang restoran, aku diam menatap kepergiannya yang tak menoleh sedikitpun padaku. Dia menarik.
Aku mulai berdiri seimbang, membersihkan celana jeans ku dari debu yang tertempel

" Come stai, piacere di conoscerti?"*
sapa seseorang kearahku membuatku mengalihkan pandangan kearahnya sekejab tawaku pecah melihat ekspresi wajah pria dihadapan ku

"si puo parlare italiano??"** balasku tak ingin kalah dengan bahasa italianya yang agak tercekik di tenggorokan

"hanya sebatas untuk menyambutmu"

Aku tertawa kecil dihadapannya, pria dihadapanku membalasnya merangkul pundakku dan membawaku pada ruangan kecil di samping kitchen

"bagaimana kuliah bogamu di italia??" ucapnya menuangkan dua gelas wine dan memberikannya segelas padaku

"baik, kau tidak berubah"

Pria dihadapanku tersenyum kecil meneguk wine nya perlahan

"aku tak akan berubah, masih sama seperti yang kau lihat"

"baiklah, bagaimana restoran yang kau kelola sekarang, sepertinya masih sama saja"

Pria dihadapanku menatap curiga, kemudian mengalihkan pandangan kearah wine ditangannya

"sepertinya aku tau jalan fikiranmu"
Aku hanya tertawa, memulai tegukan pertama pada wine yang ada ditanganku

"sampai saat ini menu di restoran ini belum beralih pada western food" sambungnya lagi

"tak ingin mengubahnya?"

"entahlah, mungkin saja"

Kembali aku meneguk wine ditanganku, memang dia tidak pernah mengerti maksud arah pembicaraanku

"apa kau ingin mengubahnya??"

Ugkapannya membuatku sedikit terkejut "apa yang bisa aku lakukan??"

"aku akan mengangkatmu menjadi eksekutif chef dibagian makanan western"

"kau mencoba memanfaatkanku?"

Pria itu tertawa lepas, ia memandangku seakan aku adalah badut yang sedang memainkan topeng monyet sambil menari membawa patung kecil

"apa salahnya, kau akan untung bisa bekerja di restoran mewahku dan aku bisa mendapatkan untung karnamu"

Aku tertawa kecil
"akan kupikirkan"

*apa kabarmu?, senang bertemu denganmu?
** kau bisa berbahasa italia?

***

FOODWhere stories live. Discover now