Mine Part 2

4.6K 401 153
                                        

Soonyoung latah. Besoknya bak orang amnesia. Dia muncul di depan rumah Jihoon seperti tak terjadi apa-apa. Menjemput seperti biasa.

"pagi," sapanya sumringah.

Jihoon menghela nafasnya sebelum lewat melalui Soonyoung dalam diam. Seperti itulah Soonyoung. Jihoon juga tak tau kenapa dan mengapa dia menerima orang satu ini kemarin.

"Jihoonie," Soonyoung mengejarnya dan berjalan di sebelahnya. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tak bisa meninggalkan mereka begitu saja kemarin. Rahasia kita akan—"

"iya tidak masalah. Aku mengerti." Pandangan Jihoon menatap lurus pada jalan. Sangat-sangat mengerti!

Soonyoung tersenyum masam. Masih marah. Tak mengherankan. Bukan Jihoon namanya kalau mereka langsung baikan.

Dalam diam, sambil mensejajari langkah Jihoon yang pendek tapi laju, otaknya memikirkan cara untuk kembali membuka pembicaraan dengan kekasihnya ini. Sesuatu yang menarik yang dapat membuat Jihoon menyahut dan memberinya feedback untuk kembali berbicara.

Namun hingga sampai stasiun dan naik kereta pun sesuatu yang menarik itu tidak dapat di temukannya. Percakapan satu arah dari Soonyoung tak bersambut. Selama perjalanan hanya keheningan dari Jihoon yang menemani mereka. Soonyoung pasrah.

Dari stasiun menuju sekolah pun masih sama. Jihoon bungkam. Namun tidak sehening perjalanan sebelumnya. Ada banyak sapaan untuk mereka. Spesifiknya untuk Soonyoung sebenarnya. Usaha untuk berbicara dengan Jihoon, Soonyoung lupakan sejenak guna membalas sapaan para fans.

Jihoon tambah bete.

Untung saja mereka tidak sekelas. Jihoon tak pernah tau dan mau tau bagaimana kelakuan Soonyoung di kelas. Pasti lebih lebih dari yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Reputasi Soonyoung sudah menjelaskan bagaimana Soonyoung itu sendiri.

"sampai jumpa lagi. Sepulang sekolah nanti aku jemput di kelasmu. Aku janji." Soonyoung menahan tangan Jihoon agar bisa mengucapkan salam perpisahan dan janjinya sekalian.

Kelas mereka berbeda koridor. Jihoon bergumam malas sebelum melepas pegangan Soonyoung dan pergi. Janji sekedar janji. Seperti udara, janji Soonyoung hanya memberikan pengharapan tanpa bisa dipegang sama sekali. Jihoon sudah paham. Sudah sering diberi janji. Jihoon bukan yang pertama. Bukan juga yang terakhir. Bisa jadi orang kesekian yang diberi janji pagi ini.

Soonyoung menghela nafasnya dalam-dalam. Sempat mempertanyakan hatinya sendiri apa, mengapa dan kenapa hanya Jihoon yang diinginkannya sekarang. Yang dia mau untuk berada di sisinya. Selalu bersamanya. Bukan salah satu dari puluhan anak perempuan yang memang sudah ada di sebelahnya. Fansnya. Bisa lebih kalau dia mau.

.

.

.

Pemandangan Soonyoung dikerumuni para gadis itu sudah biasa. Dari jaman pra-pacaran sampai pacaran. Memang begitu pemandangan yang Jihoon lihat di sekitar Soonyoung-nya. Ah? Soonyoung-nya? Bukan. Soonyoung bukan miliknya. Setidaknya bukan utuh miliknya. Hanya statusnya saja yang di-hold oleh Jihoon.

Jihoon mengunyah roti melonnya lambat-lambat. Dari jendela kelasnya bisa dia lihat Soonyoung tersenyum pada semua gadis yang ditemuinya. Soonyoung bersikap baik pada semua orang, tanpa terkecuali. Padanya juga sama. Lalu apa istimewanya dia?

Jihoon itu apa bagi Soonyoung?

"dia bahkan membiarkanku menunggu dua jam sendirian di stasiun." Bisiknya lemah sambil menghela nafas.

Meski tak benar-benar sendirian dan menunggu, tapi Jihoon akan tetap menghitung kalau dia sendirian menunggu di stasiun waktu itu.

Agak suram Jihoon melalui hari ini dengan perasaan tak enak hati. Dia kepikiran. Tentang apa dirinya bagi Soonyoung. Soonyoung anggap apa Jihoon sebenarnya. Banyak spekulasi yang bermunculan di dalam kepalanya mulai dari Soonyoung sama sekali tidak menyukainya sampai Soonyoung hanya mempermainkannya.

MineWhere stories live. Discover now