"Leon ayo!!."
Waktunya tiba, perempuan paruh baya itu sudah memanggilku. Aku tak punya alasan lagi untuk berkata 'tidak'. Ya.. kali ini, mau tak mau aku harus mengikutinya.
Kupandangi pintu lobby itu, entah untuk yang keberapa kali. Disana ada seorang penjaga, masih dengan kesibukan yang sama.
"Haruskah aku pergi sekarang?" Gumanku tertahan.
Mataku tertuju pada perempuan paruh baya itu, ia adalah ibuku, ia sangat sibuk kelihatannya.
Ia mondar mandir sembari mengecek barang barang dan menuju kearahku dengan menenteng tas besar.
"Leon, kamu bawa yang ini!!." Perintahnya.
Ia menyisakan sebuah tas besar penuh isi. Aku tak tahu apa isinya. Namun, bukankah sejak awal aku tak tahu barang apa saja yang kami bawa? Mmm...
Bukan kami, dia tepatnya. Ibuku.
Aku tak sedikitpun andil dalam mengemasi barang-barang, karena sejak awal pula, aku enggan pergi.
Aku meraih tas besar yang dimaksud sebelum ibuku berteriak lagi. Suara yang berusaha keras untuk kuabaikan tapi aku tak mampu.
Sudah kubilang padanya tak perlu membawa barang banyak-banyak. Tapi tetap saja, ia yang menang, apalagi alasan yang sungguh masuk akal. Kami akan pergi dan takkan kembali. Jadi wajar bukan jika membawa seluruh barang yang ada.
Tapi bagiku tetap saja berlebihan.
"jangan sampai ada yang tertinggal!! Itu, koper kecil itu dibawa sekalian yel!. Isinya surat-surat sekolah kamu." Ujarnya lagi.
"ayoo!." Ia sudah melangkah lebih dulu.
"Hmm" aku menghela nafas lirih
Sekali lagi, aku menatap pintu lobby berharap disana ada seorang gadis mungil yang berdebat dengan petugas penjaga karena memaksa masuk seperti di film-film.
Tapi mataku tak melihat apa-apa. Aku bahkan bisa menyebut tak melihat siapapun. Karna tak ada yang ingin kulihat saat ini kecuali gadis itu.
Seakan mataku menghiraukan petugas itu yang kini terduduk dengan wajah seramnya.
"Leon alexandro...." Erang ibuku.
Seketika lamunanku tersentak, dia sudah memanggilku dengan nama itu. Aku yakin dia marah kali ini.
Ia sudah berjarak 7 meter dariku. Aku bisa melihat wajah kesalnya. Bisa saja ia kembali kesini dan menjewer salah satu telingaku agar aku ikut berjalan dengannya. Tapi ia tak mungkin melakukan itu, umurku 18 tahun sekarang.
Apalagi kami sedang di bandara tentu ia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri. Dan satu lagi kenapa ia tidak akan meluapkan kekesalannya dalam bentuk lain? karna toh aku sudah mau ikut pergi.
Pergi meninggalkan kota ini. Negara ini dan gadis itu. Gadis yang bukan gadisku.
Aku mengecek sekitaran tempat duduk. Sebenarnya aku juga tidak begitu peduli kalaupun ada yang tertinggal. Aku hanya sedang tidak ingin menambah situasi menjadi rumit. Pikiranku menjadi kacau saat ini.
"Leon, ayo! Nanti kita ketinggalan pesawat." Ocehnya lagi.
Aku menatapnya pasrah. Tak tega juga terus-terusan membuatnya mengomel begitu.
Bagaimanapun aku tak bisa menentangnya kan?
Baiklah ,aku pergi. Selamat bu, karena sekarang aku berada penuh dalam kendalimu.
Batinku kesal.
Aku melangkahkan kaki menuju dimana ibuku berdiri namun belum sempat aku sampai padanya, ia sudah berjalan lagi. Kaki mungilnya itu sepertinya tak tahan lagi menunggu langkahku. Yang penting dalam penglihatannya aku sudah mau berjalan.
Langkahku terasa berat. Ada rantai dengan bola besi yang mengikat kakiku. Dan benda-benda itu tak kasat mata. Aku enggan pergi.
Melihat perempuan itu, aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Kepalaku tertunduk seolah merasakan aku telah kalah. Membuat ubin-ubin penyusun lantai ruangan ini terlihat jelas oleh mataku.
Aku juga bisa menangkap kedua tanganku yang menenteng tas besar disebelah kanan serta tas berukuran kecil disebelah kiri.
Perasaan malasku semakin muncul, rasanya ingin sekali aku berbalik arah kemudian berlari kencang, melempar dua benda ditanganku ini tanpa memperdulikannya dan kabur dari tempat ini. Tapi tidak, aku tak melakukannya.
Bukan karena aku tidak mau tapi aku tak bisa.
Jika setahun bahkan seminggu yang lalu aku masih punya alasan untuk menolak ajakannya untuk sekedar menunda bersekolah di Sidney dan berkumpul lagi dengan ayahku, sekarang aku tidak punya alasan lagi untuk melakukannya. Bahkan semua telah berbalik, mungkin sebaiknya memang aku pergi. Aku ingin pergi.
Hmm,.. bukan, aku tak ingin, tapi aku harus. Akhh.. entahlah aku sudah tak tahu lagi. Pikiranku berkecamuk sekarang.
"Leonnnn." Teriak seorang wanita lagi, cukup samar. Tapi aku tahu itu suara wanita.
DU LIEST GERADE
TANIA QUEENATA~Leon
RomantikBiarkan aku menatap lirih Setiap keping kenanganku yang telah retak Biarkan aku tetap mendengar Bisu kata dari semua yang pernah terucap Izinkan aku kembali melangkah Sebelum lembar masa lalu berhasil menjamah Akanku hirup udara yang menyesakkan Wal...
