Ara

206 45 49
                                        

Ar, itu namaku. Sangat mudah untuk dikatakan. Ara, begitulah kepanjangan dari namaku. Sangat singkat sekali. Mungkin Ara akan lebih cocok menjadi nama panggilan, tapi kenyataan nya itu adalah nama lengkapku. Ya, Ara.

Nama itu almarhumah mama ku yang memberikan sebelum ia sempat meninggal. Betul sekali, mamaku meninggal ketika aku telah dilahirkan. Lebih tepatnya, setelah tiga jam aku dilahirkan.

Jangan menebak kalau sekarang aku tinggal bersama dengan papaku. Tidak. Memang tidak, aku tidak bersamanya. Sejak lahir pun aku tidak tinggal bersamanya. Mungkin tidak akan pernah. Aku sendiri tak mengerti akan keberadaannya. Katanya, waktu dia mengetahui mamaku sudah tiada, dia stres berat dan entah tiba - tiba dia menghilang. Cukup menyedihkan. Tapi, apa laki - laki itu tidak memikirkan anaknya yang baru saja lahir ? Ya Tuhan, ku fikir dia tidak menyayangi anaknya ini.

Sudah terbukti. Kalau memang dia sayang padaku, seharusnya dia akan mencariku. Nihil! Dia tidak pernah sekalipun menemuiku bahkan memelukku dan mengatakan "aku merindukanmu". Mungkin itu hanya mimpi buruk saja bagiku. Jelas, ini tidak akan pernah menjadi nyata. Jangankan saja menemuiku, wajahnya saja pun aku tidak tau. Atau hanya sekedar foto saja, aku tidak mempunyai nya. Entahlah, mom dan dad tidak mau menujukkan nya kepadaku.

Yang aku tahu hanyalah foto dari almarhumah mama.Mereka hanya memberikan foto mama saja. Mereka menceritakan semua tentang ibuku ini. Dari mulai dia lahir sampai dewasa, mereka menceritakannya. Tapi ayahku? tidak. Yang kutahu hanya namanya Reynand Radmilo Emery yang pernah menikahi Karina Ardonia Fredella, ibuku.

Entahlah laki - laki itu dimana. Apakah dia kelaparan atau tidak. Atau sekarang dia sudah menikah lagi, punya anak, dan hidup bahagia? Ataukah dia sudah menyusul mama? Damn it! aku tidak peduli. Sudah lupakan saja ini. Aku sangat membenci lelaki itu!

Aku sampai lupa karena membahas orang itu. Aku tinggal bersama Momy Melani dan Dady Rudi. Mereka keluargaku. Mereka punya hubungan darah denganku. Dady Rudi adalah adik mama. Aku memanggil mereka mom dan dad karena mereka telah merawatku sejak kecil, jadi aku sudah menganggapnya sebagai ayah dan ibuku. Aku sangat berterima kasih kepada mereka, karena telah merawat anak telantar ini sejak kecil. Walaupun tante Melani yang sifatnya freak kepadaku, tapi om Rudi sangat menyayangiku layaknya anak sendiri.

Eitss aku hampir lupa, Caca. Alsha Florenza Elvarette. Dia anaknya mom Melani dan dady Rudi. Dia sangat baik. Dia sahabatku, saudaraku, pelengkap hidupku, malaikatku, dia segalanya. Dia selalu membelaku dihadapan ibunya yang freak itu. Yah, momy yang terkadang baik dan terkadang seperti mak lampir. Dia selalu membelaku juga di depan semua orang yang menghinaku. Aku sangat menyayanginya. Walaupun dia terkadang mengesalkan. Wanita mungil yang berparas cantik dengan matanya yang bewarna aquamarine, rambut tergerai panjang, hidung mancung, alis yang tebal dan satu lagi kulitnya yang putih, bersih.

Bagaimana denganku? Aku memang cantik. Tapi sedikit kututupi. Mataku yang bewarna biru terang. Hidungku juga mancung. Rambutku panjang dan selalu ku ikat seperti kuncir kuda, digelung, atau dikepang. Oh iya, mataku dilapisi oleh kacamata yang cukup tebal. Kanan kiri minus lima, dan kiri silinder 1. Berbeda dengan Caca yang fashionable, aku tidak. Aku selalu menunduk ketika jalan dan penampilanku terlihat biasa saja.

Apa ada yang bertanya, aku memiliki kekasih? Tentu tidak. Memikirkan hidup saja sudah dibuat pusing, apalagi soal cinta. Aku sering sih mendengarnya dari curhatan Caca. Tapi, untuk merasakannya sama sekali tidak. Jangankan cinta, teman saja aku tidak memilikinya. Cuman satu, Caca. Yang selalu ada buatku.

Eitss, jangan kira aku pakai kacamata dan tidak punya teman berarti aku ini anak cupu. Bukan, aku hanya tidak ingin berbaur saja. Kurasa hidupku begini saja. Hanya numpang makan, minum, tidur, pup, buang air, sekolah. Seperti itu. Mungkin terkesan tidak menarik. Tapi satu, dibalik semua masalah, aku selalu percaya akan ada kebahagiaan setelahnya. Entah kapan, aku tidak tau. Yang jelas, aku akan menunggunya. Menunggu kebahagiaan itu.

***
Hai hai, akhirnya publish juga setelah banyak pertimbangan wkwk. Maafkan kalau banyak kekurangan, karena gw cuman penulis amatir.

Makasi buat fantastic four eak.

Vomment?

AraDes histoires addictives. Découvrez maintenant