"Yuki ingat saat kita bermain petak umpet kemaren? Apa yang Niichan katakan?"
"Sstt.. jangan bersuara sampai Niichan menemukanku sendiri?"
"Ya pintar. Sekarang kita bermain petak umpet lagi. Tapi kali ini Niichan mau Yuki sembunyi bersama Niichan, ya.. "
"Kalau begitu, siapa yang menemukan Yuuki ?"
Niichan tersenyum. Seperti biasanya. Wajahnya juga tenang seperti biasanya. Tapi keringat membanjiri pelipisnya. Aku tidak mengerti, tapi menurutku Niichan bersikap aneh.
"Sembunyilah disini. Ini tempat terbaik untuk bersembunyi"
"Niichan.. gelap... tapi Niichan akan bersama Yuuki, kan ?"
Niichan mengangguk. Kedua tangannya yang kecil membuka lebar pintu lemari. Niichan menyibakkan beberapa lembar pakaian yang tergantung, lalu mengembalikannya lagi seperti semula ketika kami bersembunyi di bagian terdalam lemari.
Suara halilintar bersahutan, hujan terdengar semakin deras. Badai. Yang kurasakan hanya perasaan takut. Boneka beruang yang diberikan Niichan kupeluk erat. Aku tidak mengerti, untuk apa kami bersembunyi.. dan dari apa? Ibu sudah meninggal tiga hari yang lalu. Beberapa orang datang, namun Niichan selalu mengusir mereka, entah kenapa. Sesekali terdengar bunyi benda yang dijatuhkan, atau pecahan suatu barang. Saling bersahutan, bersamaan dengan suara halilintar. Ketika suara-suara itu semakin mendekat, Niichan menggenggam tanganku. Ia gemetar. Tapi sorot matanya mengungkap suatu emosi yang tidak kumengerti.
"Dengar. Jangan keluar, sampai Niichan yang memintamu. Oke?"
"Niichan mau pergi?"
"Niichan harus memeriksa sesuatu.. Yuki, dengarkan kata Niichan ya. Jangan bersuara. Apapun yang Yuki dengar. Kecuali Niichan memanggilmu"
Aku hanya mengangguk. Niichan tersenyum, dan keluar dari lemari. Saat itu aku tidak pernah tahu..
Aku terlalu kecil untui menyadari bahwa, itulah terakhir kali aku melihat Niichan.
Beberapa saat setelah Niichan keluar, pintu lemari digedor. Terdengar juga beberapa sumpah serapah. Sepertinya lemari ini terkunci. Aku sangat takut. Aku ingin menangis. Tapi.. aku tidak boleh bersuara,kan?
Pintu lemari terbuka dengan kerusakan yang parah. Sebuah tangan besar menyibak gantungan baju-baju dan menarikku keluar. Diantara air mata tertahan yang memenuhi kelopak mataku, aku melihat sosok lelaki besar dengan rambut yang berantakan. Ekspresinya mengerikan. Matanya menatapku bengis. Aku meronta. Namun sayangnya itu percuma. Tangan-tangannya yang besar itu meraih pangkal leherku, mencekiknya. Aku tidak bisa bernapas. Leherku seperti diterkam gigi-gigi harimau. Entahlah bagaimana aku bisa menjelaskan.. tapi itu sungguh menyakitkan. Sangat-sangat sakit. Dadaku terbakar. Aku butuh udara. Tapi percuma. Udara tidak akan pernah bisa mencapai paru-paruku. Aku tidak bisa bergerak lagi. Seluruh tubuhku lemas. Pandanganku mengabur. Aku hanya nelihatnya di film. Tapi inikah saat dimata kau menjelang kematianmu?
DOR!!
Cengkraman tangan kasar dileherku mengendur. Darah terciprat kewajah, baju, dan rambutku. Seseorang menembak kepala lelaki besar itu. Ah tidak.. bukan 'seseorang' tapi ada beberapa lelaki ramping berpakaian serba hitam. Aku tidak bisa melihat mereka dengan jelas. Aku hanya mencari udara. Aku membutuhkan udara! Ketika dengan rakus udara memenuhi paru-paruku, bagian dadaku terasa lebih terbakar, dan tertekan. Aku terbatuk. Dan menangis..
Salah seorang diantara lelaki-lelaki ramping berpakaian hitam itu mendekatiku. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia mengulurkan tangannya padaku, dan memelukku dalam gendongannya. Aku tidak bisa berpikir apapun. Tidak bisa mengucapkan apapun. Bahkan, aku tidak mampu untuk bergerak dan mengambil Teddy Bear pemberian Niichan.
Lelaki yang menggendongku berjalan keluar, diikuti lelaki-lelaki berpakaian hitam yang mengekor. Ketika ia melangkah melewati pintu, hujan deras menerpa wajahku. Walau seseorang memayungi lelaki yang menggendongku, angin tetap membuat kami terkena hujan. Lelaki itu mengeluarkn syak dari dalam jasnya, dan menutupi wajahku dengan syalnya. Ketika kami telah masuk kedalam mobil, hal terakhir yang kudengar sebelum terpejam ialah..
"Maafkan ayah."
KAMU SEDANG MEMBACA
A
RomanceNiichan memberiku senyum hangatnya yang lebar, dan aku pun berhenti menangis. Aku tidak pernah tahu apa yang ia hadapi.. saat itu. Kehangatannya, Ketulusannya, Mampu membuat benteng untukku dari sesuatu yang sangat mengerikan diluar sana. Nii.. Aku...
