1. Persiapan MOPDIK

2.8K 76 4
                                        


Akhirnya... Setelah mengikuti berbagai perkembangan melalui layar laptopnya setiap hari, untuk melihat posisi namanya diantara nama-nama yang ingin masuk di High Gold School. Gadis yang baru saja menempuh pendidikan terakhirnya di bangku SMP ini bersorak gembira. Kelegaan juga tak luput terpancar dari wajahnya.

Bagaimana tidak? High Gold School itu gedung sekolah dengan tinggi gedung mencapai enam lantai. Salah satu sekolah yang paling dan paling diminati juga diincar oleh anak-anak manapun. Tidak heran juga, beberapa ada anak yang rela pindah rumah hanya karna ingin bersekolah di sekolah tersebut.

Dan Chindai merasa beruntung karna tempat tinggalnya masih satu daerah dengan sekolah barunya saat ini. Chindai tidak bisa membayangkan betapa repot dirinya dan kedua orang tuanya mengurus kepindahan mereka. Jika dia tetap keukeh untuk bersekolah disana. Di High Gold School, maksudnya. Karna sekolah itu sudah menjadi incarannya sejak sekolah di bangku SD.

"Udah semuanya Ndai?" Suara lembut nan ke-Ibuan itu membuat gadis manis yang tengah mencoret-coret buku dengan serius langsung menatapnya.

"Gak tau. Ini aku juga lagi cek, jangan tanya dulu makanya mah...konsentrasi Chindai buyar gimana coba," gerutunya tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang dipegangnya. Hal itu sontak membuat Mamahnya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.

Anaknya sangat serius. Menyiapkan segala perlengkapan MOS dengan teliti. Benar-benar bersemangat untuk menginjakkan kakinya di High Gold School. Esok hari.

Selagi Chindai masih mencoret-coret buku yang terdapat beberapa daftar perlengkapan MOS, mamahnya pergi untuk menyiapkan makan malam. Meninggalkan Chindai yang masih sibuk dengan kegiatannya itu.

Dia harus menyiapkan semuanya dengan matang. Seperti hatinya, yang sudah sangat tidak sabar untuk segera menyentuh bangku di High Gold School. Kedengarannya memang lebay. Seperti tidak pernah menyentuh bangku saja. Tapi ini beda. Bagi Chindai, High Gold School itu patut dibanggakan.

Berbicara soal sekolah yang akan Chindai datangi besok, selain dengan sekolahnya yang benar-benar wah dan juga terkenal. Sekolah itu juga memiliki banyak ekstrakurikuler yang disetiap pertandingan pasti hasilnya akan semakin membuat harum sekolah tersebut. Banyak juga anak yang berprestasi dan lagi-lagi membuat nama sekolah itu semakin harum dimanapun. Bahkan gerbang sekolah yang menjulang tinggi ke atas dengan cat coklat emas itu mampu membuat mulut siapapun akan menganga hebat.

Nah...mengenai anak yang berprestasi, banyak juga anak-anak yang terkenal, baik senior maupun junior. Entah terkenal dengan kegantenganya, kepintarannya, kejutekkannya, kedispilinannya, keramahannya, semangatnya ataupun yang lainnya. Mereka seakan mempunyai nama yang melambung tinggi dengan sendirinya.

"Mamaa!! Chindai lupa beli kaos kaki warna emass!!" teriak Chindai memberitahu mamahnya yang berada di dapur. Tangannya tidak bisa diam mencari-cari kaos kaki warna emas itu. Kaos kaki yang harus dan wajib dipakainya, karna itulah poin utama dalam persyaratan disetiap tahun apabila MOS diadakan.

Mamah Chindai yang terkejut mendengar teriakan anaknya itu langsung tergopoh-gopoh ke ruang tengah. Tanpa sadar tangannya masih memegang alat penggoreng. "Ada apa sih ndai? Gak tau apa mamah lagi masak," omelnya memandangi Chindai yang masih mencari-cari sesuatu.

Chindai mendongak. "Poin utama, eng....maksudnya kaos kaki warna emas, aku belum dapet mah. Gimana dong??" katanya gusar. Mamah Chindai menggelengkan kepalanya pelan. "Telfon kakak, suruh beliin. Kakak belum pulang juga kan," suruhnya.

Chindai tersenyum penuh arti seraya menjentikkan tangannya. "Oke. Aku telfon!" Chindai mengambil ponselnya, lalu dengan cepat menelfon seseorang yang sangat diharapkan akan menolongnya.

My Feeling (COMPLETED)Where stories live. Discover now