Author's PoV
Bosan. Sepi. Senyap. Tiga kata yang cukup untuk mendeksripsikan hari ini bagi Angel. Hari Minggu, dimana seharusnya semua anggota keluarga berkumpul. Berbeda dengan Angel. Orang tuanya menghabiskan waktu Minggu nya dengan beristirahat.
Angel tidak begitu peduli, karna ini sudah sangat sangat biasa baginya. Bukan sebuah keanehan untuknya. Tapi ia bersyukur masih memiliki orang tua yang lengkap. Meskipun mereka jarang memberikan perhatian kepada anak anaknya.
Angelina Avena Veronica. Gadis yang hidupnya sekarang sangat datar. Tetapi memiliki paras yang cantik nan ayu. Bisa dibilang kurang tinggi. Kulitnya yang sedikit putih menambah kesan manis di dirinya. Cukup mengenal siswa seangkatannya. Tapi memiliki kesulitan dalam menghafal nama.
Saat ini, ia sedang menatap langit-langit kamarnya dan menerawang, apa yang akan di kerjakannya dihari Minggu yang membosankan ini. Ia menoleh ke kanan, dimana terdapat rak buku berukuran sedang berisikan novel yang sudah beres dibacanya. Sehingga ia bangun dari rebahannya dan melihat isi dompetnya.
'Ah, masih bisa dibuat beli satu novel. Pake aja lah.' Batinnya.
Ia mengambil ponselnya, dan jari-jarinya menari diatas benda pipih berwarna hitam dengan gambar apel digigit tersebut.
'Sambalado'
AngelinAvena : Pada sibuk gak ya?
Azizah. C. Misty : Emang kenapa neng?
Vera Marcella : Pasti minta temenin beli novel deh nih(?)
AngelinAvena : Seratus buat kamu!!
Auralia. A. Taborri : Oh ayolahh, kaya baru kenal kita sehari aja. Dimana?
AngelinAvena : Hehe, gramedia pondok gede ya. Jam set 9 gue udh otw.
Azizah. C. Misty : Mau mandi dulu ya, Ngel.
AngelinAvena : Yg bener mandinya, Jah.
Setelah mengirimkan balasan di grup nya itu, ia hanya keluar dari aplikasi dan langsung meletakkan ponselnya di dekat rak. Sambil menunggu waktu yang ia janjikan, ia menonton televisi di kamarnya. Sampai sebuah suara mengganggu acara menontonnya.
"Icaaa, dipanggil mama." teriak Diego.
Diego Fabian Morris. Si sulung di keluarga Adrian. Duduk dibangku kuliah jurusan kedokteran. Sama halnya dengan Angel, ia tidak mendapatkan kasih sayang utuh dari orang tuanya. Tidak masalah baginya, tapi sangat masalah untuk adiknya. Ia tidak ingin adik satu-satunya memiliki nasib sama sepertinya. Maka ia suka beradu argumen dengan orang tuanya hampir setiap malam.
Angel hanya bergumam dan keluar dari kamarnya. Karna sudah rapi, ia akan langsung berangkat ke tempat yang ingin ia tuju. Dengan berjalan malas, ia melihat kedua orang tuanya yang duduk manis di sofa panjang ruang tamu.
Ia hanya berdeham berusaha menyadarkan kedua orang tuanya yang begitu cinta terhadap pekerjaan.
"Kenapa panggil Ica?" tanyanya.
"Gimana sama sekolah kamu?" tanya Lusi -ibunya-.
"Gitu,"
Setelah 4 huruf itu keluar dari bibir mungil Angel, terjadi keheningan cukup lama.
"Udah? Kalo gak ada lagi, Ica mau pergi dulu." katanya dan berdiri. Kemudian mengucap salam kepada orang tuanya.
Nama panggilannya sejak kecil adalah Ica. Tapi orang tuanya sangat jarang memanggilnya dengan nama. Sebenarnya Angel ingin menangis, tapi ia sadar. Sampai ia menangis darah pun, orang tuanya tidak akan berubah.
YOU ARE READING
End of Our Story
Teen FictionCinta. Sebuah perasaan, dimana dua orang anak adam merasakan apa yang namanya kedekatan, kerinduan, dan kenyamanan. Cinta adalah perasaan yang tak kasat mata. Datang semaunya, dan pergi sesukanya. Terkadang, cinta itu tidak harus saling memiliki. Te...
