Jika ada yang tak hilang di antara kabut, itu adalah cahaya ingatan.
Bila ada yang tak ingin rindu dari kejauhan, itu adalah masa lalu yang menyedihkan.
Kau tahu itu,
dan kau selalu ingat.
Biarlah biar, waktu tetap bisu saat senyum kita hanyalah palsu. Kita bertemu di sela-sela kenangan, kita bercumbu dalam lirik puisi yang terpungut dari angan-angan.
Biarlah biar, berisik ini menjadi pelan saat kauhadirkan lagi memori kita berjanji. Dari sayang yang pernah bersemi, tepat di hati yang tiada lagi detik ini.
Dan,
Kau muncul kembali bersama anjing yang pernah kita ceritakan, dulu, yang kau tertawakan sebab kaubilang lucu. Anjing itu menyalak padaku, kini, sebab ia tahu kau pernah kumiliki.
Biarlah biar, kali ini kau menyulap senyum manis menjadi seringai iblis. Aku tak peduli. Bahkan bila kini tiada lagi pelangi selepas hujan, tak ada bunga-bunga bermekaran di taman-taman, biarlah biar. Biarkan aku menahan.
Sampai,
Jika ada yang tak bahagia saat merasa cinta, itu adalah aku yang beranjak meniada.
Bila ada yang tak bersedih di antara sepi, maka itu adalah aku di ambang kematian.
Mati untuk tak mengenangmu, biarlah biar, aku hanya pergi sebentar.
[Semarang, 2016, #reaksi]
