Chapter 1

72 8 0
                                        

Seorang wanita cantik berumur di atas tiga puluhan keluar dari mobilnya dengan gusar. Ia sudah mengawasi rumah di depan matanya itu sejak tiga puluh menit yang lalu dan sudah berusaha mengubungi ponsel anaknya namun selalu terhubung dengan pesan suara.

Sialan, umpatnya. Lyn pasti ada di dalam sana.

Jessica, nama wanita itu, benar-benar sudah jengkel dengan tingkah laku anak gadis sematawayangnya itu. Bagaimana tidak, di usia Lyn yang baru menginjak lima belas tahun, ia sudah tak terkendali. Gadis itu seolah ingin menguji kesabaran ibunya. Hampir setiap malam ia menyelinap dari jendela kamarnya dan kabur entah ke mana. Dan malam ini...

"Akan kutangkap dan kubuat jera kau!" tekad Sica.

Menyebrangi jalan kecil, dan sampailah ia di depan pintu rumah berlantai dua yang sedang mendentumkan musik dengan volume memekakkan telinga itu. Pasti sedang ada pesta di dalam. Sica heran ke mana perginya orangtua pemilik rumah ini? Bagaimana bisa mereka membiarkan anaknya melakukan pesta seperti ini?

Dengan kasar Sica menarik gagang pintu dan ruangan yang redup segera menyambut penglihatannya. Dihiasi dengan lampu hijau, merah, dan kuning yang berkedip-kedip dan membuat matanya berkunang-kunang. Tidak lupa musik yang menghentak-hentak siap meluruhkan gendang telinganya, Sica masuk dengan mata tajam mencari-cari sosok gadis kecilnya.

Ada banyak orang di dalam, dan seluruhnya adalah anak seusia Lyn. Mungkin semua anak-anak ini adalah teman sekolah Lyn. Pria dan wanita bertebaran di mana-mana. Ada yang berjingkrak tak karuan, ada yang sedang mengobrol dengan temannya sambil minum, ada yang sedang tertawa-tawa tidak jelas. Ada juga yang sedang merokok dan mengepulkan asap tebal perusak paru-paru.

Ini benar-benar neraka, pikir Sica semakin jengkel. Dan anakku ada di dalam neraka ini!

Tidak menemukan sosok yang dicarinya di lantai satu, Sica segera menaiki tangga-mengabaikan tatapan aneh orang-orang di sekitarnya yang heran kenapa bisa ada tante-tante di pesta anak muda seperti ini. Setelah sampai di ujung tangga, di lorong yang gelap lah ia melihat sosok Lyn. Ia hapal betul anaknya bahkan hanya dengan melihat siluetnya sekalipun.

Namun yang membuat Sica mendidih adalah Lyn tidak sendiri di sana. Melainkan dengan seorang anak laki-laki seusianya dan mereka sedang mengobrol dengan jarak sangat dekat. Oh tidak, bahkan mereka saling menempel.
Dengan langkah besar Sica segera menghampiri anaknya, memisahkan dua insan itu satu sama lain.

"Mom?!" Lyn terbelalak kaget melihat ibunya berdiri di antara dirinya dan kekasihnya, Jongin.

"Ya, ini ibumu!" bentak Sica tak mampu menguasai amarahnya lagi. "Apa yang sedang kau lakukan di sini? Ayo pulang!"

"Tapi Mom..."

"Pulang!" ibunya melotot dan segera menarik anaknya keluar dari neraka itu.

Menyeret Lyn dari keramaian dan hiruk pikuk pesta, Sica segera mendorong paksa anaknya untuk masuk ke dalam mobil-tidak lupa menguncinya. Kemudian ia mengitari bagian depan mobil dan masuk dari pintu lain. Setelah duduk di balik kemudi, ia segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang luar biasa kencangnya. Ia benar-benar disulut amarah saat ini.

"Mom, kenapa kau melakukan ini padaku?!" protes Lyn tidak terima. Ia memangku tangannya sambil memandang ibunya tajam.

"Apa yang sudah kulakukan huh?! Aku sedang menyelamatkan anakku yang hampir-oh Tuhan semoga saja belum-terjerumus dalam pergaulan anak muda yang tidak ada gunanya!"

"Itu hanya pesta biasa, Mom! Kenapa Mom norak sekali?!"

"Pesta biasa?!" Sica memekik. "Mereka minum alkohol, merokok, mungkin juga pakai obat-obatan, dan kau bilang itu hanya pesta biasa?!"

YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang