Prolog

148 5 2
                                        

Blora, 2 April 2016
02:00
[ 30 jam sebelum outbreak ]

???'s POV

'Graaahhh!!!...'

Aku tersentak di tempat persembunyianku. Dengan keberanian yang semakin menipis, aku menatap makhluk keji itu. Aku tahu sejenis apa mereka --yang telah membuatku sendirian di dunia ini-- itu. Pisau kartu --yang mulai menumpul-- kugenggam erat.

'Graahhhh!!...'

Sekalipun aku selamat, aku akan menjadi manusia terakhir di belahan Timur. Tapi kematian di tangan makhluk menjijikkan itu juga bukanlah pilihan yang bagus. Jika aku selamat, mungkin aku masih dapat pergi ke Belahan Barat dunia ini.

*Crap!!!

"Mati kau!!!"teriakku penuh semangat sambil menancapkan pisau kartuku

Namun berteriak untuk kematian satu makhluk menjijikkan ini, justru membunuhku secara perlahan. Sekitar sepuluh makhluk serupa mulai menyeret kaki busuknya ke arahku.

*Klontanggg!!!

Sial, salah satu dari mereka menangkis seranganku. Kini tanganku kosong tanpa senjata. Tunggu, aku masih memiliki sebuah brass knuckle. Segera kuambil senjata terakhirku dari saku jaket --yang kini telah lusuh berlumuran darah-- menjijikkan yang masih setia aku pakai.

*Krakk!!!

"Satu..."

*Krakk!!!

"Dua.."

Tawa jahat menyelingi hitunganku. Kurasa mereka mulai habis. Namun kenyataannya tidak. Diluar ruangan pengap --tempat aku menghabisi sekitar sepuluh makhluk menjijikkan itu--  telah berdiri makhluk-makhluk serupa sedang berjalan linglung.

*Graahhh!!

Aku... aku...

Hahahaha.. Hahahaha...

Aku akan seperti mereka. Hahahaha...

Tidak.. Tidak mungkin.. Tolong siapapun bangunkan aku!!!

'Hahhhhhhhh'

Tubuhku kaku terduduk diatas kasurku. Tangan kananku reflek mengusap kasar wajahku yang masih syok. Mataku menelusuri bekas gigitan --bagian tubuhku yang tergigit--

"Syukurlah.. hanya mimpi"ucapku lirih

Aku mencoba mengumpulkan nyawa --yang masih setengah-- dan meraup udara serakus mungkin. Mimpi yang tak jelas maksud dan tujuannya. Mataku kembali ke bahuku. Tanganku mengusap bahu yang memang terasa habis digigit. Namun nihil, bahuku masih utuh.

Jam masih menunjukkan pukul dua tigapuluh. Aku masih menerka maksud mimpiku tadi.

"Alaah.. Mereka hanya ada di dalam novel, film, dan komik yang setiap hari kau konsumsi"asumsiku tentang mimpi tadi

Tapi, mimpi tadi terasa sangat nyata. Aku menjambak rambutku karena frustasi. Obsesiku terhadap mereka harus menghantui mimpiku. Aku tertawa pelan. Bisa-bisanya aku memikirkan hal bodoh yang hanya ada di mimpi.

Aku mencoba mensugestikan kepada diriku untuk kembali tertidur. Namun kedua mata ini tidak kunjung jatuh kedalam lelap. Aku mengumpat pelan. Tanpa aba-aba dari otakku, aku berjalan menuju ke lemari untuk mengambil sesuatu. Sepasang card knife dan sepasang brass knuckle. Aku menggenggam keempat benda tersebut.

Tenggorokanku terasa kering, "Oh God, aku haus sekali"

Aku beranjak dari tempatku berdiri. Dan pergi untuk mengambil minum di dapur.  Sebelumnya, benda yang tadi kugenggam telah kembali ke tempat asalnya. Aku mengambil segelas coke. Bilang kepadaku jika minuman ini amat tidak baik untuk diminum malam-malam.

Entah mengapa aku merasa tertarik untuk menonton televisi ketika melewati ruang keluarga. Kakiku melangkah sesuai arah yang telah diperintahkan oleh otakku. Kini aku berdiri tepat didepan televisi.

Kunyalakan televisi dan mencari channel malam kesukaanku. Layar televisi menampilkan sebuah film besutan sutradara ternama. Film dengan makhluk menjijikkan yang sama seperti di dalam mimpiku.

"Bah... bahkan channel yang kusukai menayangkan mereka"umpatku sambil membanting remote.

Namun bagian lain dari diriku mulai nyaman dengan film yang ditayangkan.

Sesekali aku meneguk coke yang ada ditangan kiriku --aku jelaskan jika aku kidal--

"Mereka sangat lucu sekali"gelakku sesekali

Entah mengapa, bagian dari dalam diriku menginginkan untuk menjadi lakon utama dalam film yang menyajikan makhluk menjijikkan seperti mereka. Bertarung, menghancurkan kepala mereka, dan berlumuran darah, "Pasti akan sangat lucu"gumamku dalam sepi

Tapi keadaanku kali ini pasti jauh lebih mengerikan ketimbang mereka. Ya, kali ini mataku pasti berkantung sangat tebal --mengingat kebiasaanku yang terbangun larut malam dan minum coke--. Belum lagi karena obsesiku ini, aku lebih sering memikirkan khayalan-khayalan gilaku ketimbang memikirkan pola makanku. Alhasil,tubuhku masih terlihat besar --karena tulangku yang besar--

Tidak,aku hanya bercanda. Bayangkan saja tulang yang besar dilapisi kulit coklat sawo matang. Aku sendiri geli jika harus membayangkan tubuhku. Baiklah lupakan tentang tubuhku. Kau akan tertawa jika aku mengatakan secara rinci.

*Drtt...

Astaga, jadi selama aku tidur, aku mengantongi ponsel pintarku. Sangat tidak baik. Tolong ingatkan aku akan kebiasaan-kebiasaan burukku yang baru muncul akhir-akhir ini. Sebuah pesan, via WhatsApp. Dari wali kelasku. Hei,apa beliau sudah gila??

Ini masih dini hari. Bahkan jam pada ponselku menunjukkan waktu tiga lebih limabelas. Entahlah..

Tertera tulisan slide to unlock sebagai salam pembuka ponsel ini. Aku menggesernya, dan muncul sembilan titik yang berfungsi sebagai titik pola kunci yang hanya aku yang mengetahuinya. Muncul di slide bar separuh dari pesan yang dikirim oleh wali kelasku itu.

Mr. Firman :  Zo.....

Segera kusentuh perlahan untuk menampilkan pesan seutuhnya. Muncul kembali sembilan titik pola kunci --lagi,hanya aku yang mengetahuinya-- dan segera aku sambungkan titik-titik pola kunci membentuk kata kunci pembuka pola --tak perlu aku jelaskan bagaimana bentuknya.

Kini pesan telah muncul sepenuhnya. Isinya cukup membuatku tertawa. Karena konyol sekali, seorang wali kelas yang terkenal gahar mengirimkan pesan yang tak jelas isinya kepadaku,yang mana adalah anak kelasnya.

Mr. Firman : Zombie!!! Outbreak!!!

Aku mengumpat, "Sialan. Lelucon macam apa ini???"

***

To Be Continued

OutbreakWhere stories live. Discover now