1

137 7 1
                                        



"Tiinggg...."

Suara lift pertanda pintu akan segera dibukakan menyadarkan khayalan Ina, perempuan blasteran Indo-Australi yang sejak 4 tahun lalu memulai kehidupannya sebagai seorang mahasiswi semester 8 di University of Melbourne, Sydney-Australia setelah menerima beasiswa dari sekolah lamanya.

Seakan tak percaya akan penampilannya saat itu, dia pun merogok sebuah cermin mini yang selalu tersimpan di dalam tasnya. Rambut yang dikuncir satu, pakaian yang serba Pastel menghiasi tubuh Ina sehingga membuatnya terlihat seperti seorang Bussiness Woman, Ina pun menambahkan lip-gloss pink di bibirnya berusaha membuat organ yang satu itu segar kembali.

Sesosok pria bertubuh jangkung menatapnya dengan tatapan heran di depan lift setelah melihat siapa yang akan menjadi teman "se-lift"-nya itu.

"Come in." kata Ina dengan memberikan senyuman terbaiknya tanpa memikirkan apa yang dipikirkan pria itu ketika melihatnya.

Setelah menyadari pria itu masih menatapnya dengan heran, Ina bergeser selangkah ke kiri dan berkata "I won't eat you".

Senyum Ina makin sumringah ketika pria itu masuk ke dalam lift.

"new student ?" Tanya Ina memulai pembicaraan dengan niat memecahkan suasana canggung dalam lift saat itu.

Pria itu kembali menatapnya bingung namun tetap diam.

"this is my last year in here, I mean a thousand couple last year."

"ehm, excuse me...."

Ina sama sekali tak menyangka pria itu akan menanggapi ocehannya yang dia sendiri tahu bahwa itu adalah hal yang memalukan mengingat dia pun tidak mengenal pria itu, dan adalah pertama kalinya dia melihat pria itu selama 4 tahun dia berkuliah Melbourne.

"I've been rejected a thousand time, that guy refused all of my thesis.Today is my last session, I swear this is my last session. And if that dude do it again, I promise to god I'm gonna fuck him up."

"what's your name?" Tanya pria itu.

"Christina Harrison. People's call me Ina."

"well Ina, is there anyone tell you that you're weird?." pria itu lalu keluar dari lift setelah pintu terbuka.

Terkejut, Ina menyadari dirinya sedang menganga setelah melihat pria itu menghiraukannya dan berjalan keluar seakan tak bersalah.

****

"lo nggak tahu dia siapa ?" tanya Melisa dengan nada tinggi sehingga membuat orang-orang yang ada dekat dengan mereka saat itu menatap dengan tatapan membunuh.

"then who the hell is he ? gue nggak peduli tuh, dia bikin gue gondok hari ini Mel, nggak sopan banget tuh cowok, apa gitu sikapnya sama perempuan? Awas saja kalau ujian gue hari ini ditolak lagi, yang jelas dia meraih posisi ke-2 dari death Note gue. BAD DUDE."

"dia dosen baru disini, In. Dosen kesayangannya rektor, Dosen termuda se-Melbourne, and you know who are the one to have a seat in your last session ? that's the dude. Hidup lo, ada di tangan dia." Jelas Melisa yang berhasil membuat Ina sekejap ingin membunuh dirinya sendiri setelah mengetahui siapa pria yang iatemui tadi.

"dan lo pikir gue percaya ? Mel, oke mungkin ini kebohongan pertama elo selama 15 tahun kita kenal.Dan gue bisa maafin lo kalau lo tarik semua kata-kata tadi. Kebohongan pertama lo nggak harus se-mengerikan ini Mel, slow down!!"

Melisa merogohkan secarik kertas yang tertulis daftar juri yang akan menilai ujian Ina yang akan dimulai 30 menit lagi.

Ekspresinya tetap datar setelah membaca nama-nama 5 orang dosen, dan berubah drastis begitu melihat point terakhir yang tertera gambar pria itu beserta beberapa huruf yang tersusun namanya "Ericson Hermawan".

"lo percaya kalau gue nggak bohong sekarang ? Dia dosen itu, Ina. Dan dia orang Indonesia, sama kayak kita."

April 14thWhere stories live. Discover now