"Nadya. Kamu nikah ya?"
Seteguk air yang baru saja aku hendak telan secara reflek kukeluarkan kembali.
Menyembur sebagian meja makan ini.
"Eh kak! Kalo mau nyembur liat situasi dong!" Kesal adikku satu satunya. Ia protes. Tentu saja karna bajunya yang basah terkena semburanku.
Aku hanya mendelik. Kembali fokus menatap wanita cantik di sebelahku. Wanita yang mewarisi kecantikannya padaku.
"Nikah? Mama gila? Mah. Nadya baru mau nginjek 16 taun loh! Masa mama nyuruh aku nikah! Ogah ah!" Bantah ku.
Raut wajah yang tadi berharap kini berubah menjadi kekecewaan. "Kamu ga kasian sama papa? Papa sakit sakitan mulu. Sedangkan aset perusahaan lagi ga baik." Ucap mama. Ugh! Kalimatnya lebih terdengar seperti
Ancaman.
"Terus urusan sama aku apa? Kenapa aku harus nikah? Selesai sekolah aja belum." Aku kembali menyuapkan sesendok nasi goreng dengan terpaksa
Selera makanku hilang.
" ya masa faiz yang baru kelas 7 mau mama nikahin." Balas mama.
Aku melirik faiz yang sedang asyik memakan spagethinya ia menatapku dengan tatapan mengejek.
"Ya biarin aja. Disekolahnya aja dia udah main nembak cewek." Balasku. Aku kembali menatap adikku, kini ia menatapku dengan tatapan psikopat.
"Udahlah, ga usah nolak, besok malem kamu ketemu sama jodoh kamu itu." Mama dengan geram menahan emosi karna semua bantahanku. Ia pergi meninggalkan meja makan.
Aku lupa satu hal. Mama tak suka di bantah. Mama keras kepala.
Kini hanya aku dan faiz.
Ayah? Dia berada di sebuah ranjang di rumah sakit.
Faiz menatapku tak percaya.
"Lo itu ya!. Kasian mamah. Nikah aje sono.!" Ucapnya enteng.
Jika sekarang aku sedang memegang pisau akan kulempar hingga tepat tertancap di tenggorokannya.
"Lo ngomong gampang dek! Lo pikir nikah gampang apa! Somplak lo!." Aku benar benar jengkel.
" lagian siapa yang mau nikah di usia sekolah menengah atas? Gue ngerasain un sma aja beloman."
Lanjutku yang mengutarakan semua pikiranku pada adikku yang sedikit idiot.
"Lo ga kasian sama papa mama? Kalo perusahaan bangkrut gimana? Kita mau tinggal dimana?"
Sambil memakan dessertnya ia berujar. Seakan akan ucapannya itu tak penting.
Aku terdiam. Sepertinya serba salah menjadi diriku.
"Lo aja sono yang nikah kalo gitu!"
"Gue mau. Cuman mama ga setuju."
Aku semakin geram dibuatnya.
Berdiri dan berjalan melewati faiz. "Lo masih kecil bego!" Ucapku yang memukul kepal faiz pelan lantas kembali berjalan menuju kamarku di lantai atas.
Brukk
Aku merebahkan diriku di kasur empuk lembut nan wangi milikku. Tentu saja setiap harinya aku gunakan parfume limitedku untuk membuatnya harum.
"Apa harus dengan cara menikah?" Gumamku tak karuan.
"Tak ada cara lain lagi?" Kini aku seperti orang gila yang bercakap dengan langit langit kamar.
"Lo ga kasian sama papa mama? Kalo perusahaan bangkrut gimana? Kita mau tinggal dimana?"
Perkataan faiz menggema dalam benakku.
Tapi tetap saja, memangnya jika aku menikah sekarang, suamiku nanti akan langsung bekerja menggantikan ayah? Tidak mungkin bukan? Kecuali jika aku dinikahkan oleh om om yang sudah berumur dan siap dengan segala situasi bangkrutnya perusahaan.
Tunggu dulu.
Apa aku akan dinikahi dengan om om?!!
===
Satu hal.
Aku hargai para readers setia ^^
YOU ARE READING
With Him?
Teen FictionMenikah? yang benar saja? Bukan apa apa. Tapi haruskah aku menikah di usiaku saat ini? Menginjak kelas 12 saja belum aku capai. Apa lagi. Aku tidak mengenal laki laki yang akan dinikahkan denganku. Menikah adalah suatu keterikatan karna cinta. Hel...
